Jika berkesempatan traveling ke Rusia, wajib rasanya mampir ke Kota St Petersburg. Kota ini penuh bangunan kuno yang cantik, museum yang berisikan 'harta karun' dan tentu saja merasakan matahari terbenam pukul 11 malam.
Pertengahan tahun 2015 silam, saya berkesempatan traveling ke Rusia. Negara di Eropa yang mungkin kalah pamor dari Italia, Inggris atau Prancis sebagai destinasi wisata traveler Indonesia. Tapi nyatanya, justru banyak hal menarik di sana.
Dua kota tujuan saya, adalah Moskow dan St Petersburg. Moskow lebih dulu mencuri hati, karena stasiun kereta bawah tanahnya sangat keren. Dinding-dindingnya berhiaskan aneka karya seni dari lukisan dan patung-patung yang menggambarkan sejarah Rusia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perjalanan dari Moskow ke St Peterburg, dapat ditempuh dengan naik pesawat selama 2 jam. Suhu yang sangat dingin, karena kala itu sudah masuk bulan ke-7, begitu menusuk tulang. Suhunya bisa dibawah 10 derajat Celcius.
Matahari masih bersinar kala sudah lewat pukul 19.00 (Moksa/detikTravel)
Sama seperti di daerah lain di Rusia, yang mana matahari bersinar lebih lama, sunset alias matahari terbenam di St Petersburg adalah pada pukul 23.00 malam. Satu hal yang bikin saya geleng-geleng kepala, karena pukul 22.00 saja, seperti pukul 14.00 siang di Jakarta.
Waktu matahari terbit alias sunrise sendiri, adalah pukul 03.00 pagi. Benar-benar singkat malam hari di sana, yang mana masyarakat setempat pernah berkata begini ke saya, 'drakula tidak akan mampir ke Rusia karena malamnya cuma sebentar'.
Saya punya waktu seharian untuk menjelajahi kota terbesar kedua di Rusia ini, setelah Moskow. Tahukah Anda, kalau St Petersburg didaulat UNESCO sebagai Situs Warisan Dunia. Alasannya adalah karena banyaknya bangunan bersejarah dari abad pertengahan di sana.
Bangunan kuno berarsitektur indah di sudut Kota St Petersburg (Moksa/detikTravel)
Sungguh, hampir di tiap sudut kota banyak bangunan kuno. Ada yang bergaya gotik atau Romawi. Yang patut dipuji, adalah pemerintah St Petersburg benar-benar menjaga keaslian dan tetap merawat tanpa mengubahnya. Arsitektur bangunan-bangunannya sungguh cantik!
Meski beberapa bangunannya ditempati seperti menjadi tempat tinggal atau perkantoran, tapi tetap saja terawat dengan sangat baik. Perumpamaannya seperti di Kota Tua Jakarta saja, namun perbandingannya tentu jauh berbeda.
Berjalan-jalan di kotanya saja, sudah menjadi atraksi wisata. Di kanan dan kiri, semuanya bangunan kuno. Apalagi, ditambah dengan nyamannya pedestarian di St Petersburg. Pedestariannya cukup luas dan sangat bersih. Tidak ada sampah secuil pun.
Sama halnya dengan di jalan raya, tidak ada sampah yang bertebaran. Oh iya, jalanan di St Petersburg juga sangat luas tapi tidak padat. Tidak pula macet seperti Moskow.
Beberapa tempat yang saya kunjungi selama di St Petersburg, yakni The Hermitage Museum dan Masjid St Petersburg atau yang juga lebih dikenal dengan nama Masjid Soekarno. Bagi para traveler yang juga pecinta seni, The Hermitage Museum yang lokasinya di pusat kota bagaikan surga. Banyak karya-karya seni yang keren di sana!
Bagian dalam The Hermitage Museum (Moksa/detikTravel)
Lukisan, patung, sampai Peacock Clock yang merupakan jam berbentuk merak yang terbuat dari emas tersimpan di sana. Ah, tidak cukup saya muat ceritanya dalam satu artikel ini. Yang pasti, The Hermitage Museum menjadi tempat bagi tiga juta karya seni para seniman terkenal, seperti Rembrandt, Da Vinci, juga Michaelangelo.
Masjid St Petersburg juga tak kalah menawan. Masjid yang bagian luarnya terlihat berwarna biru dengan dua menara yang menjulang tinggi. Dari informasi yang saya dapat, Presiden pertama Indonesia, Soekarno sangat berjasa untuk masjid ini.
Masjid St Petersburg yang kala itu sedang dalam renovasi (Moksa/detikTravel)
Ceritanya begini, dalam kunjungan kenegaraan ke Rusia tepatnya ke St Petersburg, Soekarno melintasi bangunan yang punya bentuk kubah dan rasa-rasanya seperti masjid. Namun sayang, dia tidak diizinkan masuk karena memang tidak ada agenda ke sana.
Kabar yang beredar, di malam hari Soekarno kembali datang dan mengelilingi masjidnya untuk memastikan apakah itu benar-benar masjid. Keesokan hari, Soekarno membatalkan semua pertemuan dengan para pejebat pemerintah di Rusia, kecuali permintaannya dituruti. Dia diizinkan masuk ke dalamnya!
Permintaannya akhirnya dikabulkan, lalu Soekarno melihat masjidnya dari dekat. Dia pun akhirnya meminta agar pemerintah Rusia untuk merawat kembali masjidnya dan dijadikan tempat ibadah. Atas dasar itulah, Masjid St Petersburg kembali dibuka sampai sekarang yang ternyata pada kedatangan Soekarno dulu hanya menjadi sebuah gudang.
Sungai di St Petersburg juga bersih dan luas. Banyak pula kapal-kapal yang menawarkan paket perjalanan untuk berlayar di atasnya. Bisa pilih sendiri, tergantung budget dan selera.
Ketika matahari terbenam dan sudah gelap, pesona St Petersburg ternyata tidak pudar. Ketika itulah, bangunan-bangunan kuno di sana bermandikan cahaya lampu yang membuatnya makin elok dipandang. Indah!
Sungguh, rasa-rasanya sekali seumur hidup Anda harus datang ke St Petersburg. Percayalah, siap-siap dibuat jatuh hati.
Penulis berfoto dengan latar belakang bangunan kuno yang bermandikan cahaya lampu (Moksa/detikTravel)
(mok/aff)












































Komentar Terbanyak
Koster: Wisatawan Domestik ke Bali Turun gegara Penerbangan Sedikit
Ditonjok Preman Pantai Santolo, Emak-emak di Garut Babak Belur
Koster Akui Jumlah Wisatawan Domestik ke Bali Turun di Libur Nataru