Jika berlibur ke Australia khususnya ke negara bagian New South Wales, rasanya kurang kalau tak bertandang ke Tobruk Sheep Station. Banyak pertunjukan menarik dipertontonkan dan anda bisa belajar melempar bumerang, asyiknya.
Setelah Canoeland, rombongan Indonesia AirAsia X Familiarization Trip ke Sydney melanjutkan petualangan kami ke Tobruk Ship Station. Dari namanya sudah sangat jelas bukan, ini adalah pusat ternak domba di New South Wales. Australia memang dikenal sebagai negara penghasil daging domba dan tentu saja bulu domba yang sangat hangat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
(Elvan/detikTravel)
Tak seperti di peternakan biasa kita kunjungi di Indonesia, di Tobruk ini juga ada pertunjukan 'cowboy'. Kita juga mendapatkan banyak ilmu tentang bagaimana peternakan domba penghasil bulu nan lembut itu dikelola dengan sangat baik.
Begitu kita tiba, kita langsung disuguhi banyolan 'cowboy'. Seorang pria dengan topi bundar khas cowboy langsung melecut-lecutkan cambuk bergagang besi dan berjuntai kulit tersebut.
Suaranya sangat keras dan beberapa kali mengagetkan pengunjung yang duduk di kursi berderet bak tengah menonton konser lumba-lumba. Pria ini juga memperagakan cara memainkan bumerang agar ketika dilempar kembali lagi, namun alat berburu suku Aborigin ini ternyata tak seperti di film-film yang bisa berputar sampai kembali ke pelemparnya. Memang bisa memutar kembali namun seringkali tetap harus diambil sebelum 'dimainkan' lagi.
Setelah itu kita dipertontonkan bagaimana anjing bisa dilatih dan mempermudah para peternak untuk mengumpulkan domba yang masih berkeliaran. Anjing juga membantu peternak merapikan barisan domba, memilih domba yang berbulu lebat dan siap dipotong bulunya. Di sela-sela show ini pengunjung sempat diberi kesempatan untuk memberi makan dan berfoto bersama domba-domba berlulu nan lebat itu.
Pertunjukan kemudian bergeser ke ruang produksi, pria bernama Nicky ini kemudian mengajak para penonton ke ruang produksi yang dilengkapi kursi duduk bertingkat bak stadion Istora Senayan. Dia kemudian memperagakan cara memotong bulu domba yang sangat lebat, beberapa kali pengunjung tertawa karena tingkah polahnya yang lucu, seperti memberikan cermin kepada domba yang telah selesai dicukur.
(Elvan/detikTravel)
Dari ruang produksi ini pengunjung jadi tahu bagaimana cara memotong bulu domba yang benar dan aman. Ternyata bulu domba dikelompokkan dengan kualitas terbaik AAA, sampai yang terburuk dengan kode huruf C. Setelah itu kami dituntun untuk makan siang bersama, namun karena kami menunggu makanan yang halal, harus sabar menunggu beberapa saat sebelum hidangan ayam disiapkan. Sebuah roti bolu kelapa yang disebut makanan khas di Tobruk menjadi menu penutup kami.
Setelah makan siang, pertunjukan dilanjutkan dengan 'belajar melempar bumerang'. Nicky melempar beberapa kali dan bumerang berputar ke arahnya, meski tak jatuh tepat di depan si pelempar namun pengunjung bertepuk tangan.
Selanjutnya giliran pengunjung menjajal kemampuannya. Banyak hal lucu, ada yang melempar seperti melempar batu, ada yang melempar terlalu jauh sampai bumerang nyangkut di atas atap, ada pula yang bumerangnya berputar ke arahnya. Meskipun simpel ternyata melempar bumerang tidaklah mudah.
(Elvan/detikTravel)
Bagi yang ingin membawa pulang bumerang tersebut, mesti merogoh kocek 30 Dollar Australia atau sekitar Rp 300 ribu. Menurut kami ini terlalu mahal, walaupun bumerang tersebut sudah ditempeli stiker 'flight tested' bak pesawat terbang yang lolos tes terbang.
Karena mahalnya harga oleh-oleh di lokasi itu, kami pun kembali ke bus mengantongi gantungan kunci domba kecil seharga 2 dollar Australia, Rp 20 ribu sudah cukup untuk membuat kami tertawa melewati peternakan domba yang sangat luas ini.
(shf/shf)












































Komentar Terbanyak
Bule Rusia Hajar Warga Banyuwangi gegara Sound Horeg, Korban Tempuh Jalur Hukum
Saat Gibran Ikut Memikul Salib Paskah di Kupang
Dugaan Pungli Petugas Imigrasi Batam Jadi Pemberitaan Heboh Media Singapura