Penghuni asli di gurun Wadi Rum, Yordania, adalah suku Badui. Kaum yang terkenal kerap berpindah-pindah tempat tinggal itu kini menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan.
detikTravel berkesempatan bertemu dengan suku Badui di Wadi Rum atas undangan Jordan Tourism Board (JTB) pada 16-23 Mei 2016 lalu. detikTravel bersama dua rombongan jurnalis serta blogger dari Indonesia bertemu dengan suku Badui yang berdiam di sana sejak turun temurun. Mereka menjadikan wisata di Wadi Rum sebagai penghasilan utama.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Suku Badui yang mendiami Gurun Wadi Rum (Rachmadin Ismail/detikTravel)
Waleed Hayesat, pemandu yang menemani perjalanan rombongan Indonesia menjelaskan, suku badui yang tinggal di Wadi Rum berasal dari kelompok Zalabia. Mereka adalah gambaran tentang suku badui sebenarnya, yang hidup dalam kesederhanaan dan keramahan.
"Sejak dulu, suku Badui dikenal sebagai orang-orang yang ramah, tak terlalu pusing dengan urusan dunia dan hidupnya bersahaja," kata Waleed.
Waleed sudah memberi tahu sejak dalam perjalanan bahwa suku Badui di Wadi Rum ada yang berprofesi menjadi penyewa unta, penyewa kuda, sampai penjual cendera mata. Namun mereka tak akan berjualan dengan cara agresif. Tak perlu juga bertegang otot untuk menawar harga.
Sebaliknya, mereka berjualan sambil memberi minuman teh dan kopi gratis. Senyuman selalu direkahkan pada para turis. Sesekali, mereka juga akan memainkan musik.
"Jadi, jangan khawatir di sana. Kalau pun tidak beli, tidak apa-apa," terangnya.
Cerita Waleed pun benar adanya. detikTravel bertemu dengan seorang pemuda Badui yang lokasi tendanya di dekat dengan tempat syuting film Dwayne Johnson 'The Rock' terbaru. Di tenda tersebut, terdapat gambar wajah TE Lawrence, pejabat Inggris yang ikut dalam revolusi Arab di tahun 1917-1918.
"Mau minum teh atau kopi?" tanya pemuda Badui bernama Fadi Alzwaideh kepada rombongan saat pertama kali tiba.
Setelah itu, dia sibuk membagikan minuman teh di gelas kecil. Satu per satu dia layani dengan senyuman. Di tenda tersebut, Waleed dan sang pemuda sempat menunjukkan mengenai tradisi minum kopi dan cara pembuatannya di suku Badui.
Tak ada sekalipun sang pemuda tadi menawarkan dagangannya. Padahal di mejanya, ada beberapa sorban dan kain pashmina yang digelar. Begitu ada rombongan yang mendekati dagangan dan bertanya harga, barulah dia memberikan penjelasan.
Menjual pernak-pernik kepada turis tanpa harus memaksa (Rachmadin Ismail/detikTravel)
"Tak beli pun tak apa-apa. Sini saya pakaikan dulu sorbannya ala suku Badui, coba saja dulu. Tak perlu bayar dulu, nanti kalau cocok baru bayar. Penjualan ini saya akan setorkan ke ibu-ibu pembuat kain di desa kami," kata sang pemuda dalam bahasa Inggris.
Di pemberhentian kedua, detikTravel berjumpa dengan salah seorang pedagang cenderamata dari suku Badui lainnya bernama MohammadAalzwaidehβ. Kali ini perawakannya lebih tua, berbaju gamis dan bahasa Inggrisnya kurang lancar. Sama seperti di pemberhentian pertama, dia juga langsung membagikan segelas teh yang dicampur dengan mint. Rasanya sangat enak sehingga tak jarang banyak yang meminta tambahan gelas.
Pria Badui ini juga tak mau menawarkan barang. Dia justru 'berjualan' dengan keramahannya, sehingga orang yang datang merasa tak enak apabila tak membeli barang darinya. Setelah itu, pria Badui tersebut bernyanyi lagu Arab, nadanya terdengar sedih, dan membuat seisi tenda terdiam.
"Dia bukan bernyanyi buat kita, tapi bernyanyi untuk dirinya sendiri," terang Waleed.
Penulis (sebelah kanan) berfoto dengan orang asli suku Badui (Rachmadin Ismail/detikTravel)
Sepanjang perjalanan, detikTravel juga bertemu dengan beberapa anggota suku Badui lainnya. Mereka ada yang sedang menggembala unta, sebagian lagi mengendarai kuda, dan ada juga yang sibuk dengan keluarganya.
Menurut Waleed, suku Badui tersebut tinggal di sebuah desa. Pola hidup mereka mengikuti ke mana sumber air berada. Mereka hidup di tenda yang terbuat dari kulit kambing. Ada yang berkelana, ada juga yang menetap di satu daerah.
Suku Badui sudah lama dikenal di Timur Tengah sebagai kelompok masyarakat yang hidup seminomaden. Kisah suku Badui kerap disebutkan dalam kitab suci Al Quran. Di kehidupan modern ini, ada suku Badui yang masih hidup nomaden, namun tak sedikit juga yang menetap.
"Sebagian bahkan ada yang kaya raya karena mereka punya lahan warisan dari dinasti Ottoman. Harga tanah itu kini bernilai berkali kali lipat," cerita Waleed.
Salah satu cerita menarik soal suku Badui juga terdapat di Petra. Di sana, ada seorang turis bernama Marguerite van Geldermalsen dan seorang warga Badui asli bernama Muhammad Abdallah. Marguerite jatuh cinta kepada Muhammad karena kesederhanannya. Akhirnya keduanya tinggal di Petra, dan kini Abdullah sudah meninggal dan Marguerite masih berjualan cenderamata di sana.
Tulisan Marguerite van Geldermalsen dan seorang warga Badui asli bernama Muhammad Abdallah (Rachmadin Ismail/detikTravel)
(mad/aff)












































Komentar Terbanyak
Koster Tepis Bali Sepi, Wisman Naik, Domestiknya Saja yang Turun
Tangis Istri Pelatih Valencia Pecah, Suasana Doa Bersama Jadi Penuh Haru
Sebelum Bikin Patung Macan Putih Gemoy, Seniman di Kediri Sempat Mimpi Aneh