Untuk mengetahui negara-negara bahagia di dunia, United Nation atau PBB melakukan penelitian. Penelitiannya dilakukan oleh United Nations Sustainable Development Solutions Network atau disingkat UNSDSW dalam survey bertajuk World Happiness Report.
Penilaiannya berdasarkan harapan hidup masyarakat yang tinggi, produk domestik bruto per kapita, kehidupan sosial, tingkat kemurahan hati, kebebasan menentukan pilihan dan korupsi yang rendah. Kemudian setiap tahunnya, dirilislah 10 negara paling bahagia di dunia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Disusun detikTravel, Jumat (5/8/2016) berikut cara-cara menjadi bahagia dari 5 negara di dunia tersebut:
1. Percaya kepada orang lain
Tahukah Anda, Denmark tak pernah keluar dari peringkat 10 besar negara paling bahagia di dunia versi PBB. Tahun 2013 dan 2014, menempati peringkat pertama. Lalu 2015 di peringkat dua, kembali lagi di tahun 2016 ini menjadi yang pertama.
Salah satu resep kebahagiaan orang Denmark adalah kepercayaan. Mereka mempercayai pemerintah, mempercayai keluarga, mempercayai tetangga, mempercayai rekan kerja, hingga mempercayai turis. Ini juga yang membuat mereka merasa hidup aman.
(Thinkstock)
Jadi tak perlu khawatir jika meninggalkan rumah tanpa dikunci, atau kalau kelupaan mencabut kunci kendaraan. Dengan saling percaya dan menjaga kepercayaan, membuat hidup lebih aman dan tidak mudah was-was.
Selain Denmark, penduduk Norwegia dan Islandia pun melakukan hal yang sama. Dengan adanya rasa saling percaya, mereka akan merasa damai dan tentram saat berada di mana saja. Mereka saling percaya, untuk saling menjaga.
2. Jam kerja yang tak berat dan jatah cuti yang banyak
Kebahagiaan suatu negara bisa dilihat dari jam kerja para penduduknya serta jatah cuti yang mereka dapatkan. Bukan berarti malas-masalan untuk bekerja, melainkan keseimbangan antara bekerja dan istirahat haruslah diperhatikan. Dengan bisa pulang cepat dari kantor atau mendapat waktu cuti lebih lama, ada banyak hal lain yang bisa dilakukan seperti traveling atau mengunjungi kerabat-kerabat jauh yang juga dapat menjadi manfaat.
Di Denmark dan Norwegia, jam kerja dalam satu minggu masing-masing 37 dan 38 jam saja. Jika dibagi 5 hari kerja (Senin-Jumat), maka rata-rata per hari mereka bekerja selama 7 jam saja. Tidak kurang tidak lebih.
(Thinkstock)
Bekerja terlalu berat, dirasa dapat menyebabkan stress dan jatuh sakit. Tak hanya jam kerja, jatah cuti bagi para karyawan pun sangat diperhatikan. Di Denmark, jatah cuti selama satu tahun adalah 35 hari. Sedangkan Norwegia punya aturan sendiri bagi jatah cuti wanita hamil, yakni setelah melahirkan dapat cuti selama 10 bulan!
3. Pajak yang tinggi dan tidak adanya kesenjangan sosial
Denmark dan Norwegia mematok pajak yang tinggi bagi para penduduknya. Menariknya, para penduduknya tidak mempersalahkannya. Sebab pajak yang tinggi, nantinya akan tersalurkan ke sektor kesehatan dan pendidikan bagi penduduknya sendiri.
Maka jangan heran, fasilitas rumah sakit atau pengobatan di dua negara tersebut diberikan secara gratis untuk penduduknya. Pun begitu bagi anak-anak sekolah dan mahasiswa di tiap universitas, yang dapat belajar secara cuma-cuma. Bahkan para pengganguran, akan mendapat tunjangan hidup sampai mereka mendapat pekerjaan. Itu semua uangnya dari pajak. Dengan pajak yang tinggi, tidak ada yang orang yang kaya banget, dan tidak ada orang yang miskin banget.
Pajak yang tinggi pun mampu membuat kesenjangan sosial tidak terlampau jauh. Bicara soal kesenjangan sosial, ada yang menarik di Islandia. University of Missouri, universitas dari AS pernah melakukan survei kepada orang-orang Islandia perihal status sosial.
Hasilnya mengejutkan, hanya 1,1 % yang menilai dirinya adalah kalangan kelas atas dan 1,5 % mengaku sebagai kalangan kelas bawah. Sisanya, 97 % mengidentifikasi diri mereka sebagai dua-duanya.
Di Islandia, orang-orang kaya tidak hidup secara eksklusif dan terpisah. Mereka hidup berbaur, tinggal di lingkungan bersama kalangan menengah dan bawah. Hidup jadi lebih bahagia.
4. Kehidupan sosial yang damai
Di Kosta Rika ada prinsip yang berbunyi seperti ini, 'ketika ada pertengkaran atau adu argumen di Kosta Rika maka tak boleh lebih dari tiga hari'. Artinya, masyarakat Kosta Rika akan memilih untuk hidup berdamai dan menghilangkan dendam.
Dari hal kecil itulah, berpengaruh kepada kehidupan sosial negaranya. Namanya hidup pasti ada konflik dan drama, namun yang terpenting adalah bagaimana kita bisa cepat menyelesaikannya.
(Thinkstock)
Kalau kehidupan sosial di Islandia, adalah saling membantu. Mahasiswa hukum asal AS, Andrew Clark pernah menulis untuk BBC Travel mengenai pengalamannya tinggal di Islandia selama 6 bulan dan meneliti kriminalitas di sana.
Bukannya berita-berita kriminalitas yang didapat, Andrew malah melihat orang-orang yang bahagia setiap hari. Di hari pertamanya saja, ketika dia baru sampai dan kebingunan mencari alamat di tengah hujan salju, seorang pria tua Islandia menawarinya tumpangan.
Andrew sedikit ragu-ragu dan was-was. Seperti yang biasa kita dengar, jangan begitu saja mau naik tumpangan dari orang asing atau yang kita tidak kenal. Namun rasanya hal itu tak berlaku di Islandia, sebab Andrew ternyata diantarkan langsung ke tempat tujuan.
5. Hidup yang sederhana
Kesederhanaan tak terlepas dari negara-negara paling bahagia di dunia. Lihatlah Denmark, Norwegia dan Islandia yang mana para penduduknya hidup dengan cara yang sederhana. Satu contohnya, mereka lebih memilih naik sepeda untuk berpergian.
Baik untuk pergi ke sekolah, ke pasar hingga ke kantor, mereka memilih naik sepeda atau transportasi umum. Sebenarnya tak sedikit dari mereka yang bisa membeli mobil, tapi ternyata tetap saja memilih sepeda.
(Thinkstock)
Naik sepeda sudah tentu menyehatkan badan. Naik sepeda juga murah, tak perlu keluar uang. Jalur sepeda pun tersedia dengan baik, dilengkapi tempat parkir sepeda yang nyaman pula. Satu lagi, dengan naik sepeda akan lebih mudah untuk berinteraksi dengan orang-orang. Gowes sambil ngobrol bareng, sekaligus bertemu teman-teman baru pasti menyenangkan.
6. Menjaga alam
Kosta Rika punya peraturan unik mengenai pembangunan gedung. Barangsiapa yang membuat bangunan baru, maka harus mendapat sertifikat dari kantor lingkungan nasional seperti tidak membuang limbah ke sungai dan menanam pohon di sekitar gedung.
Bahkan tahun 2021 mendatang, Kosta Rika siap mendeklarasikan diri sebagai negara pertama yang bebas karbon. Kosta Rika memang tidak main-main dalam menjaga alamnya, baik sungai, gunung hingga hutan. Pemerintah Kosta Rika pun sudah mengganti sumber-sumber energi yang lebih ramah lingkungan. Gas rumah kaca ditekan sampai rendah hingga polusi air dan udara jauh berkurang. Bahkan dari luas wilayah negaranya yang seluas 51.100 km persegi, 25 persennya adalah hutan lindung dan cagar alam!
(Thinkstock)
Hal itu membuat Kosta Rika menjadi negara hijau yang sedap dipandang. Tidak ada tanah yang gersang, semuanya serba hijau. Itu pulau yang turut menjadi faktor kebahagiaan warganya, sebab setiap hari menghirup udara segar dan dapat menenangkan pikiran.
Bicara soal alam dan hidup yang bahagia, Norwegia turut memberlakukan peraturan khusus. Gedung-gedung perkantoran yang dibangun diharuskan dengan menghadap ke danau atau ke pegunungan. Alasannya, adalah agar para karyawan tidak stress saat bekerja. Kalau pikiran penat, pandangi saja danau yang cantik dan pegunungan yang elok dari jendela.
7. Mengingat kematian
Di poin yang terakhir ini, mari kita belajar mengingat kematian dari negara Bhutan. Orang-orang Bhutan percaya, dengan mengingat kemarian maka akan menikmati setiap momen dalam kehidupan. Menikmati waktu yang ada dan lebih memilih untuk menjadi pribadi yang baik, serta berguna untuk orang lain.
(AFP)
Merenungkan kematian lima kali sehari bahkan sudah menjadi kebiasaan bagi orang-orang Bhutan. Bukan berarti orang-orang di Bhutan berani untuk mati. Mereka tetap takut dengan datangnya kematian, tapi justru tidak memikirkan hal itu menjadi masalah. Bhutan pun menawarkan kematian dalam banyak cara, seperti jatuh dari jurang, diserang beruang atau makan jamur beracun.
Kesimpulannya, kematian suatu hal yang mungkin dianggap mengerikan. Tetapi ketika orang-orang merenungkan hal itu, otak Anda dengan otomatis akan mencari pikiran atau sesuatu yang bahagia.
Itulah rahasia dari Bhutan yang menjadi negara paling bahagia di dunia. Orang-orang di Bhutan yang setiap hari merenungkan kematian, justru membuat mereka makin menikmati hidup tiap detiknya.
(aff/aff)












































Komentar Terbanyak
Lagi, Finlandia Dinobatkan Jadi Negara Paling Bahagia Sejagat
Duh, Jembatan Ikonik Suramadu Jadi Sasaran Pencurian, 480 Kg Besi Raib
Hotel Legendaris di Gerbang Malioboro Kembali Beroperasi