Kisah Pulau di Karibia yang Punya Batu Bergambar Wajah
Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Kisah Pulau di Karibia yang Punya Batu Bergambar Wajah

Johanes Randy Prakoso - detikTravel
Kamis, 23 Mar 2017 09:50 WIB
Kisah Pulau di Karibia yang Punya Batu Bergambar Wajah
Batuan bergambar wajah atau petroglyphs di Pulau Basse Terre (Melissa Banigan/BBC)
Trois Rivieres - Pulau Basse Terre di Kepulauan Karibia menyimpan sebuah keunikan. Di sana, traveler bisa menemukan sejumlah batu yang memiliki gambar wajah. Kok bisa?

Bagi traveler yang belum tahu, Pulau Basse Terre merupakan satu dari dua pulau yang merupakan bagian dari Guadeloupe di Karibia. Guadeloupe sendiri merupakan salah satu daerah Prancis yang berada di seberang laut.

Diberkahi dengan alam indah hingga hutan hujan tropis, Basse Terre juga menyimpan kekayaan budaya berupa batu-batu alam dengan gambar wajah di permukaannya. Tak sedikit traveler yang dibuat bertanya-tanya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dilansir detikTravel dari BBC, Kamis (23/3/2017), ternyata batu-batu tak biasa itu menjadi bukti peninggalan sejarah oleh para penghuni asli pulau tersebut dahulu.

Sekitar 1000 tahun silam, sejarahnya pulau itu dihuni oleh orang-orang Arawak yang menamakan dirinya sebagai Igneri. Diperkirakan mereka adalah suku dari Venezuela yang menyeberang ke Karibia dan Samudera Atlantik. Dimnana sebagian sempat datang dan tinggal ke Pulau Basse Terre.

Menurut para ahli, Igneri merupakan suku yang masih menganut paham spiritual seperti animisme. Mereka menganggap, kalau sungai, batu hingga petir memiliki sebuah roh.

Sebagai bentuk penghormatan, Suku Igneri pun memberi semacam identitas berupa pahatan pada sejumlah batu dan objek alam lainnya. Yang paling banyak ditemui adalah pada media batu (petroglyphs) yang tersebar di Pulau Basse Terre. Batu-batuan itu pun pertama kali ditemukan oleh para peneliti pada tahun 1995.

Sejumlah batu tersebut umumnya memiliki pahatan berupa gambar abstrak. Da juga teori yang mengatakan, kalau batu tersebut menjadi lokasi dari sebuah ritual kelahiran.

Namun seiring dengan berjalannya waktu, perlahan jumlah Suku Igneri di pulau itu menurun dahsyat akibat penyakit samllpox dan genosida yang dilakukan oleh para penjajah. Menyisakan hanya sedikit penduduk asli. (rdy/wsw)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads