Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 14 Mar 2018 16:35 WIB

INTERNATIONAL DESTINATIONS

Mengintip Korea Utara dari Perbatasan

Amalia Dwi Septi
Redaksi Travel
Foto: Demilitarized Zone (DMZ), perbatasan Korea Selatan dan Korea Utara (Amalia Dwi Septi/detikTravel)
Foto: Demilitarized Zone (DMZ), perbatasan Korea Selatan dan Korea Utara (Amalia Dwi Septi/detikTravel)
Paju - Perbatasan Korea Utara dan Korea Selatan menjadi destinasi yang bikin traveler penasaran. Dari sana, traveler bisa melihat Korut sekilas dari kejauhan.

Tak ada wajah ketegangan yang menghiasi para wisatawan atau warga lokal ketika mengunjungi Demilitarized Zone (DMZ). Daerah perbatasan antara Korea Selatan dan Korea Utara itu tak lagi menyeramkan.

DMZ adalah kawasan yang disebut sebagai daerah perbatasan antara Korea Selatan dan Korea Utara, yang memotong Semenanjung Korea tepat di bagian tengah sepanjang 250 kilometer.

DMZ berdiri setelah adanya perjanjian gencatan senjata Korea untuk dijadikan zona penyangga antara Republik Rakyat Demokratik Korea (Korea Utara) dan Republik Korea (Korea Selatan). DMZ diputuskan atas kesepakatan antara Korea Utara, China dan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 1953. DMZ memiliki luas 250 kilometer (160 mil), dan lebarnya sekitar 4 kilometer (2,5 mil).

Korea menjadi satu-satunya negara di dunia yang masih membagi wilayahnya. Itu terjadi sesaat setelah berakhirnya perang Korea di tahun 1953 dan pada akhirnya Korea Selatan dan Korea Utara sepakat untuk membagi wilayahnya menjadi dua.


Di setiap dua kilometer di sisi perbatasan disebut dengan DMZ yang berpusat di Desa Panmunjom, Provinsi Gyeonggi yang berada sekitar 53 km dari barat laut Kota Seoul. Di Panmunjom lah perjanjian gencatan senjata di Korea pada 1953 terjadi.

Kawasan ini bisa dibilang menjadi daerah yang paling menakutkan karena dijaga ketat oleh banyak tentara. Mereka terlihat sangat sigap dengan atribut seperti senjata yang menempel di badannya.

Sekitar 50 tahun yang lalu, DMZ sangat tertutup untuk umum. Di sana banyak menyimpan kisah sejarah yang menegangkan. Pertempuran kecil kerap terjadi di kawasan tersebut.

Namun setelah terjadi The Murder Axe Incident pada tahun 1976 yang menewaskan dua orang, hak tentara untuk menyeberangi daerah perbatasan ini dicabut.

Suasana di sekitar DMZ (Amalia Dwi Septi/detikTravel)Suasana di sekitar DMZ (Amalia Dwi Septi/detikTravel)
Lalu pada 2009, tentara Korea Selatan memperbarui beberapa pos penjagaan untuk memperbesar bangunan dan struktur bangunan agar lebih kuat dan tahan lama.

Dari pengamatan detikTravel yang langsung mengunjungi DMZ pada Selasa (13/3/2018), tak terlihat raut wajah tegang di antara wisatawan asing atau pun warga lokal. Mereka justru terlihat sangat senang.

Pertama kali memasuki kawasan DMZ, para tentara sudah terlihat berjaga-jaga di pintu masuk. Pagar berduri dan penutup jalan menghiasi sepanjang jalan pintu masuk.

Bagi kendaraan umum yang akan memasuki kawasan DMZ harus melewati pemeriksaan terlebih dulu yang dilakukan langsung oleh tentara. Satu sampai dua orang tentara naik ke atas kendaraan untuk melihat jumlah penumpang sekaligus meminta identitas masing-masing penumpang.


Untuk wisatawan asing wajib hukumnya memperlihatkan paspor. Mereka tak segan-segan menurunkan penumpang yang diketahui tak mengantongi identitas.

Setelah itu, bus diperbolehkan melaju untuk mengunjungi lokasi pertama, yaitu Dora Observatory. Tempat tersebut berada di puncak Durasan (Gunung Dora). Pertama kali menginjakkan kaki yang terlihat adalah bangunan yang bertuliskan 'End of Separation, Beginning of Unification' yang dijaga ketat oleh tentara.

Ini adalah venue paling menarik karena wisatawan bisa mengintip wilayah Korea Utara, letaknya di Kota Paju, Provinsi Gyeonggi. Untuk melihat dengan jelas, para pengunjung dipersilakan menggunakan teropong yang sudah disediakan.

Namun mereka harus memasukkan uang koin 500 Won atau sekitar Rp 6 ribu. Melalui teropong tersebut, pengunjung bisa menghilangkan rasa penasarannya dengan melihat dataran yang rimbun dan tampak juga bangunan kecil dari kejauhan.

Tak hanya itu, para wisatawan juga akan melihat patung Kim Il Sung, meski tampak kecil. Kim Il Sung adalah pemimpin pertama Korea Utara, yang merupakan kakek dari pemimpin Korea Utara Kim Jong Un.

Suasana pun semakin menarik ketika terdengar sebuah lagu berbahasa Korea dari arah utara. "Suara itu sebenarnya hanya propaganda," ujar Andrew Kim mantan wajib militer yang juga project manager Xinhan Network.

Tak terlihat suasana yang menakutkan di perbatasan Korea tersebut. Para wisatawan dengan bebas mengambil foto dari berbagai sudut di puncak Dorasan.

Bahkan saat ini makin banyak penjual suvenir di kawasan DMZ. Mereka memanjakan dagangannya berupa pernak-pernik khas DMZ, juga kaos, topi, makanan dan minuman.

Perjalanan pun masih belum berakhir, di kawasan DMZ tersebut terdapat tempat yang lebih menarik yaitu sebuah terowongan yang bernama 3rd Infiltration Tunnel atau terowongan penyusupan ke-3. Lokasi ini hanya berjarak 2 kilometer dari Dora Jeonmangdae.

Terowongan tersebut dibuat oleh Korea Utara yang sebenarnya berjumlah empat yang dulunya dijadikan sebagai tempat untuk menyerang dari bawah tanah. Terowongan pertama ditemukan pada November 1974, terowongan kedua pada 1975, yang ketiga pada 1978 dan yang keempat pada Maret 1990.

"Hanya terowong ketiga yang boleh dibuka untuk umum," katanya.

Jalan menuju ke terowongan (Amalia Dwi Septi/detikTravel)Jalan menuju ke terowongan (Amalia Dwi Septi/detikTravel)
Untuk masuk ke dalam terowongan, para wisatawan tidak diperbolehkan mengambil gambar apapun . Barang bawaan pengunjung wajib ditaruh di loker yang sudah disediakan, termasuk handphone atau kamera.

Gelap, dingin, itulah yang terasa ketika memasuki terowongan tersebut. Bagi yang memiliki masalah jantung atau pernapasan sebaiknya jangan coba-coba untuk masuk ke dalam terowongan tersebut.

Terowongan tersebut memiliki kedalaman 4 kilometer dengan ketinggian 1,5 meter dan lebar 1 meter. Para wisatawan kebanyakan harus berjalan dengan menunduk agar kepala yang sudah memakai helm tak terbentur.

Namun perjalanan di dalam terowongan tak bisa diteruskan karena di tengah-tengah ditutupi beton tebal seperti jendela dan terlihat gelap gulita. Sekitar 200 meter ke depan adalah wilayah Korea Utara.


Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan menuju terowongan, para wisatawan bisa berfoto-foto di bawah logo DMZ dan patung yang melambangkan terpisahnya Korea.

Kawasan ketiga yang wajib dikunjungi adalah Panmunjom, yang menjadi area keamanan bersama dan sering dijadikan sebagai tempat melakukan negosiasi antara kedua negara. Panmunjom pada dahulu kala adalah penghubung antara Seoul dan Pyongyang dengan jalur kereta api Gyeongui Line.

Nah, bagi yang ingin berwisata ke Korea Selatan sepertinya wajib untuk mengunjungi kawasan DMZ. Selain mendapatkan pengalaman, wisatawan juga bisa mengenang peristiwa paling bersejarah di Negeri Ginseng itu. (ads/krn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED