Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Minggu, 14 Apr 2019 22:15 WIB

INTERNATIONAL DESTINATIONS

Wisata Bir yang Jadi Legenda di China

Bona
detikTravel
Bir Tsingtao (Bonauli/detikcom)
Bir Tsingtao (Bonauli/detikcom)
Qingdao - Membahas tentang tempat wisata di China memang tidak ada habisnya. Tapi kalau soal wisata bir ada satu yang jadi legenda, namanya Tsingdao.

detikcom mendapat kesempatan untuk jalan-jalan ke Provinsi Shandong, China bersama Dwidaya Tour, beberapa waktu lalu. Provinsi Shandong sendiri memiliki ibukota bernama Qingdao.

Qingdao dikenal sebagai Kota Pantai di daratan China. Memang, pantai menjadi hal yang menarik bagi masyarakat China, karena kebanyakan kota tidak memilikinya.

Selain pantai, Qingdao juga menarik karena suasananya yang berbeda dengan kota China lainnya. Kota Qingdao pernah dijajah Jerman selama 14 tahun dari tahun 1894.
Wisata Bir yang Jadi Legenda di ChinaFoto: (Bonauli/detikcom)


Sehingga kota ini benar-benar berwarna layaknya Eropa. Atap rumah yang berwarna merah, tata kota yang rapih dan bangunan gaya Eropa menjadi daya tarik dari Qingdao.

Bukan cuma memberikan sentuhan dalam pembangunan, Jerman juga meninggalkan minuman khasnya yaitu bir. Bisa dibilang minuman ini jadi 'nafas' bagi orang Jerman.

Jerman membangun pabrik Bir Tsingdao pada tahun 1903. Saat itu, para pedagang dari Inggris dan Jerman berinvestasi senilai 400.000 dollar perak Meksiko. Brewery ini lahir dengan nama Tsingtao Branch of German Brewery Co.

BACA JUGA: Filosofi Toilet Tanpa Pintu di China

Brewery pertama dibangun dengan seluruh material dikirim langsung dari Jerman. Pabrik bir ini menjadi yang pertama di China. Menurut catatan sejarah, brewery ini dapat menghasilkan 2.000 ton bir per tahunnya.

Sadar bahwa pabrik ini didirikan di Negeri Tirai Bambu, bir ini menggunakan lambang yang familiar. Pagoda dari Zhan Qiao Pier pun menjadi lambang dari bir ini hingga sekarang. Sehingga siapa pun di daratan China tahu kalau bir menjadi bagian dari Qingdao.

Saat ini, Tsingtao tak hanya jadi pabrik bir, tapi juga sebuah atraksi bagi wisatawan. Letaknya di Beer Street, tak jauh dari kota. Berbalut sejarah, wisatawan bisa melihat langsung perjalan dari Bir Tsingtao pada saat itu sampai sekarang.

 (Bonauli/detikcom) (Bonauli/detikcom)


Bahkan, tempat ini mendapat nilai atraksi AAAA dari kementerian pariwisatanya. Wisatawan yang datang akan ditemani oleh pemandu yang akan memberikan informasi dalam bahasa Inggris.

Ada dua gedung yang bisa traveler kunjungi. Di gedung pertama bernama The World of Tsingtao, traveler akan dibawa masuk melihat perjalanan brewery ini. Botol-botol jadul yang pernah digunakan dipajang sebagai bukti.

Setelah Perang Dunia I pecah di tahun 1914, tentara Jepang datang ke Qingdao. Pada 16 September 1916, Dai Nippon Beer Company dari Tokyo membeli pabrik Tsingtao.

Namun pemerintah China kembali membeli brewery ini pada tahun 1922. Tapi Jepang masih menjalankan pabrik ini dan mengeluarkan produk dengan naman Tsingtao, Asahi dan Kirin.

Produk yang dihasilkan kini sudah beragam. Dulu hanya pilsener dan Munich dark beer, sekarang sudah lebih variatif.

Bukan cuma perjalanan Tsingtao yang dipamerkan. Traveler juga bisa melihat iklan jadul dari bir ini. Mulai dari bentuk kertas sampai dihidupkan kembali dengan proyektor.

Sertifikat dan bukti kepemilikan Tsingtao yang berpindah-pindah juga dijabarkan dengan menggunakan foto dan layar proyeksi. Sudah berumur ratusan tahun, berbagai penghargaan pun telah disabet oleh Tsingtao.

(Bonauli/detikcom)(Bonauli/detikcom)


"Kini Tsingtao berhasil masuk jadi 5 besar pabrik bir terbaik dunia," ujar Dennis, pemandu dari China Travel International Service.

Dennis juga menceritakan awal mula masyarakat beradaptasi dengan bir. Dulunya hanya ada arak China, namun minuman tersebut dirasa keras oleh tentara Jerman.

Punya rasa yang lembut, bir kini menjadi bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat Kota Qingdao. Pada awal-awal penjualan bir, masyarakat minum bir dengan menggunakan plastik putih dan sedotan.

"Kalau sekarang kan sudah dikemas dalam bentuk kaleng. Dulu minumnya pakai plastik, kalau banyak belinya pakai jerigen," ungkap Dennis.

Qingdao juga punya festival bir yang diadakan tiap musim panas. Festival ini memberikan banyak lomba yang berkaitan dengan bir. Misalnya minum bir tercepat dan terbanyak.

Gedung kedua dari brewery ini adalah Tsingtao Beer Museum. Traveler yang penasaran, tunggu artikel selanjutnya ya!

 (Bonauli/detikcom) (Bonauli/detikcom)


(bnl/aff)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED