Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 12 Feb 2020 05:45 WIB

INTERNATIONAL DESTINATIONS

Tradisi Mandi Bareng Lawan Jenis di Jepang yang Hampir Punah

Bonauli
detikTravel
rear view Young couple relaxing in hot springs
Ilustrasi Konyoku yang kini dikembalikan ke asalnya, melakukan onsen tanpa memisahkan jenis kelamin. (iStock)
Jakarta -

Pemandian air panas atau onsen sudah sangat familiar di Jepang. Dulu, tradisi mandi air panas itu lumrah dilakukan lawan jenis secara bersama-sama.

Cerita soal onsen atau mandi bersama di Jepang memang tak ada habisnya. Budaya yang telah melekat ini menjadikan onsen sebagai wisata seksi yang tak ada habisnya di Jepang.

Jauh sebelum wisata ini dikenal, onsen terbuka untuk siapa saja. Dalam satu kolam wanita dan pria sama-sama mandi telanjang tanpa ada rasa sungkan.

Dihimpun detikcom dari berbagai sumber, Selasa (11/2/2020) tradisi mandi bareng lawan jenis disebut Konyoku. Menurut catatan sejarah, kultur ini sudah ada sejak abad ke-9, bahkan ada yang percaya jauh sebelum waktu itu.

Masyarakat Jepang terbiasa dengan budaya ini. Bahkan peraturannya wanita dan pria harus benar-benar telanjang tanpa handuk atau pakaian renang.

Sampai pada akhir era Meiji, tahun 1868 perdebatan pun dimulai. Saat itu, Jepang sedang jemawa membuka diri dengan meresmikan pelabuhan-pelabuhannya kepada dunia.

Tradisi Mandi Bareng Lawan Jenis yang Hampir Punah di JepangFoto: (iStock)

Banyak orang asing yang datang dan penasaran budaya Jepang, terlebih Konyoku. Begitu melihat pemandian ini, mereka protes.

Konsep mandi bareng lawan jenis dinilai kurang sopan oleh orang asing. Apalagi semua orang bercampur dalam satu pemandian tanpa ada sekat.

Dari mulut ke mulut, konyoku semakin terkenal di mata dunia. Sampai akhirnya kultur ini memicu kontroversi politik antara Jepang dan orang barat, khususnya Amerika.

Tradisi Mandi Bareng Lawan Jenis yang Hampir Punah di JepangFoto: (iStock)


Perspektif itu akhirnya mendorong pemerintah Jepang untuk memodifikasinya. Mandi bersama masih bisa dilakukan oleh sesama gender dan dilakukan di tempat terpisah.

Perlahan-lahan, banyak kota di Jepang yang melarang konyoku. Sebut saja Tokyo dan kota-kota besar lainnya mulai mengganti konsep onsen dengan yang lebih ramah wisatawan.

Menurut Oguro, lebih dari 20 tahun terakhir konyoku menurun drastis sampai 40 persen. Pada tahun 2016 tersisa kurang dari 500 onsen konyoku yang ada di Jepang. Jika pun ada hanya bisa ditemukan di desa-desa, karena hampir punah.

Konyoku yang tersisa pun tak bugil begitu saja. Rata-rata pemandian meminta turis wanita untuk menutup tubuhnya dengan handuk atau baju renang. Sehingga terhindar dari lelaki hidung belang yang mencari keuntungan dari budaya ini.

Kini, konsep nudisme mulai kembali digaungkan. Sudah banyak hotel dan pantai di berbagai belahan dunia yang mendukung teori ini. Sehingga, traveler bisa bebas beraktivitas tanpa pakaian alias bugil.

Jadi, apakah Jepang mau melestarikan konyoku?



Simak Video "Stasiun di Tokyo Kembali 'Bernyawa'"
[Gambas:Video 20detik]
(bnl/fem)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA