Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 27 Mei 2020 10:45 WIB

INTERNATIONAL DESTINATIONS

Mengenal Lebanon dari Tradisi Ramadhannya

Tim detikcom
detikTravel
Ramadhan di Lebanon
Makanan saat berbuka bersama di Lebanon (Foto: Zidan Leslie Ghiffar Rasyidi)
Tripoli -

Lebanon merupakan salah satu negara yang terletak di wilayah Syam dan terkenal sebagai negeri penyair Kahlil Gibran. Negara ini juga dikenal sebagai Negeri Imam Al Auza'i di kalangan umat Islam.

Ibu kota Lebanon dikenal dengan sebutan 'The Paris Of The Middle East'. Suasananya memiliki perpaduan budaya timur dan peradaban modern barat.

Lebanon dihuni sekitar 18 sekte agama yang tersebar di seluruh penjuru negaranya. Pengalaman berbeda pasti dirasakan wisatawan mancanegara pada saat perayaan Hari Besar Keagamaan.

Jumlah sekte Islam Sunni di sini cukup banyak ketimbang sekte Islam dan agama lain. Salah satu kota dengan penduduk Sunni terbesar ada di wilayah Utara, Kota Tripoli.

Hal itu mendukung bagi saya yang mengenyam pendidikan S1 Hukum Islam di sini, terutama saat Ramadhan tiba. Dalam sekejap kota ini bernuansa lebih Islami ketimbang bulan-bulan biasanya.

Semua orang antusias menghias jalanan dengan umbul-umbul berbahasa Arab yang berwarna warni. Warga menerangi taman-taman kota dengan aneka hiasan lampu, dan membiarkan pintu-pintu masjid terbuka bagi umat Islam yang ingin lebih banyak beribadah di bulan suci mereka ini.

Namun, di masa pandemi seperti ini, jelas saya tak akan menjumpai suasana Ramadhan seperti tahun-tahun sebelumnya. Semenjak munculnya kasus positif pertama COVID-19 pada Februari lalu, masyarakat di sini tidak bisa bergerak bebas dengan adanya kebijakan lockdown wilayah hingga total.

Salah satu sudut di LebanonSalah satu sudut di Lebanon (Foto: Zidan Leslie Ghiffar Rasyidi)

Bertebaran undangan berbuka

Saya dan teman-teman Indonesia yang berbeda kampus juga yang berbeda kewarganegaraan yang tinggal di sini mendapat banyak undangan berbuka. Lokasinya ada di masjid, rumah warga, hingga rumah syekh di mana kami belajar dari beliau.

Walaupun di masa pandemi Corona seperti ini, pernah kami mendapat undangan dari salah satu syekh kami yang bernama Syekh Bilal. Rumah beliau tak jauh dari kampus kami, kurang lebih 4 kilometer.

Kami berbuka bersama mahasiswa Kazakhstan, Thailand, dan kerabat Syekh Bilal. Menu berbukanya sesuai tradisi kuliner mereka, dengan kurma dan jus buah untuk pembuka, dan untuk makan berat tersedia menu kibbeh, laban, nasi bukhori, farrouj, fattoush, dan semacamnya.

Bagi kami yang tinggal cukup lama di sini, mudah menerima rasa masakan ini yang cenderung asam dan asin. Bahkan ada yang doyan dan terlanjur jatuh cinta dengan kuliner di sini.

Namun, hal itu jangan harap bagi pendatang baru. Kamu harus siap-siap menjadi korban dari rasa masakan tersebut.

Tahun lalu juga kami sering diundang oleh salah satu syekh kami yang bernama Syekh Kholil. Jarak kediaman beliau dengan kampus kami sekitar 8 kilometer yang terletak di kawasan pelabuhan yang dikenal dengan nama Al-Mina.

Beliau juga sangat dekat dengan kami sebagai mahasiswa Indonesia yang belajar ilmu fiqih. Dulu beliau pernah tinggal di Indonesia cukup lama dan menikahi wanita pribumi yang kami panggil dengan sebutan Umi.

Masakan beliau saat berbuka juga khas Indonesia. Itulah mengapa kami merindukan berbuka di sana.

Menjelang berbuka di LebanonMenjelang berbuka di Lebanon (Foto: Zidan Leslie Ghiffar Rasyidi)

Memilih tempat untuk tarawih

Pelaksanaan tarawih setiap masjid di Lebanon berbeda-beda. Ada yang 8 rokaat dan ada juga yang 20 rokaat. Ketika saya masih baru di sini, saya senang sekali ketika bisa mengeksplorasi berbagai masjid di sini hingga menemukan masjid yang bernama Masjid Khodijah.

Saya sangat menyukai suara merdu imam ketika melantunkan ayat Al-Qur'an, rasanya seru sekali mendengarkan dengan khidmat setiap huruf yang dilantunkan sekalipun tarawih di sini terhitung cepat, 8 rokaat.

Namun ketika beliau yang mengimami, serasa waktu berhenti dan menjadi lama. Ternyata ketika saya bertanya pada takmir masjidnya, sang imam memang memiliki akreditasi Qiro'at Asyroh dan sering melanglang buana dalam kompetisi qiraah. Sehingga saya lebih sering mengunjungi masjid tersebut ketika beliau menjadi imam.

Selain itu, bukan hanya warga sekitar yang mengimami tarawih. Bahkan mahasiswa Indonesia turut andil dalam mengimami salat tarawih di kompleks masjid kampus mereka.

Traveler bisa mencari tentang jemaah tarawih di Lebanon yang diimami mahasiswa Indonesia, sangat banyak sekali walaupun beritanya tergolong berita lama.

Menurut saya cukup sebagai dokumentasi dan apresiasi dalam berita tersebut, tak perlu diekspos lagi. Karena yang terpenting menjadi imam itu hubungan manusia dengan Tuhannya, pun diberitakan itu bonus bahwa Indonesia harus berbangga diri memiliki aset berharga yang berada di luar negeri.

Ramadhan di LebanonRamadhan di Lebanon (Foto: Zidan Leslie Ghiffar Rasyidi)

Saat berbuka di KBRI Beirut

KBRI Beirut turut mengundang kami untuk berbuka puasa bersama di setiap ramadhan. Tahun lalu, berbuka bersama dijadwalkan per minggu untuk per wilayah.

Di Lebanon sendiri terdapat 4 wilayah yang ditinggali oleh mahasiswa Indonesia maupun WNI, yaitu utara (Akkar dan Tripoli), Beirut, timur (Bekka), dan selatan (Nabatiyye & Naqoura).

Saat saya sedang berkunjung ke kampus kawan di Beirut, itu bertepatan minggu pertama jadwal undangan mereka bukber di KBRI. Akhirnya saya ikuti juga.

Beruntung kendaraan yang disewa KBRI masih tersisa kursi kosong. Minggu kedua baru diadakan untuk wilayah Utara yaitu bagi Kota Akkar dan Tripoli, begitu seterusnya.

Namun, ramadhan kali ini tidak ada acara undangan berbuka bersama di KBRI. Acara itu bukan berbuka saja, namun juga diisi dengan kultum menjelang berbuka, berselawat bersama, berdoa bersama, hingga tarawih berjamaah di lobby KBRI.

Itulah kegiatan yang sangat berkesan bagi kami dengan adanya silaturahmi demi berkumpul bersama bukan sekedar makan-makan semata.

Saya sebut sebagai 'perbaikan gizi', kenapa? Karena berbuka di KBRI tentu para undangan yang hadir pasti mayoritas adalah Diaspora Indonesia dan menu untuk berbuka yang disajikan adalah khas Indonesia.

Makan ini dapat membangkitkan kenangan kuliner dan terasa seakan di Indonesia. Sajiannya yakni rendang, soto, opor. Yang paling ditunggu adalah sambalnya, barang langka sekali di sini berhubung kuliner di Lebanon cenderung asam.

Sangat sulit bagi kami untuk menemukan bahan membuat sambal di sini. Pun ada bahannya hanya ada di kompleks pertokoan masyarakat Asia yang bertempat di Doura, Beirut.

Penulis: Zidan Leslie Ghiffar Rasyidi adalah Mahasiswa S1 Syariah Islamiyah di Jinan University Tripoli, Bendahara PCINU Lebanon 2019-2020, Sekretaris Umum PPI Lebanon 2019-2020, dan Deputi Kajian Radikalisme PPI Dunia Kawasan Timur Tengah dan Afrika 2019-2020.



Simak Video "Duka Miss Grand Lebanon Stephanie Terkait Ledakan Beirut"
[Gambas:Video 20detik]
(msl/msl)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA