Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

ADVERTISEMENT

Sabtu, 19 Nov 2022 12:15 WIB

INTERNATIONAL DESTINATIONS

Inilah Kuburan Gantung di Filipina, Berani Mendekat?

Tim detikcom
detikTravel
kuburan gantung
Kuburan gantung di Sagada, Filipina (Thinkstock)
Jakarta -

Toraja punya tradisi makam di tebing. Ternyata Filipina juga punya tradisi yang sama.

Dirangkum detikcom, kuburan gantung ini berada di Lembah Echo, wilayah Sagada di Pulau Luzon yang merupakan pulau utama di Filipina. Jika dari Manila, Lembah Echo dapat ditempuh dengan berkendara sekitar 8,5 jam perjalanan darat. Seperti ke Toraja, butuh perjuangan untuk sampai ke sana.

Kuburan gantung di sana merupakan tradisi dari Suku Igorot dan diperkirakan sudah dilakukan sejak 2.000 tahun lamanya. Menurut kepercayaan Suku Igarot, menggantung makam membuat orang yang meninggal lebih dekat dengan roh leluhur.

Para lansia secara tradisional membuat peti mati mereka sendiri dengan memahat dan menuliskan nama mereka di samping peti. Sesuai dengan tradisinya, sebelum dimasukan ke dalam peti mayat akan diletakkan di sebuah kursi kematian yang diikat dengan akar dan ditutupi selimut.

kuburan gantungKuburan gantung di Sagada, Filipina Foto: (anna_chertopolox/Instagram)

Kemudian jenazah akan diasapi agar tidak cepat membusuk. Mirip dengan tradisi mumifikasi di Papua, di mana jenazah diasapi sampai mengeras.

Setelah itu, jenazah yang telah 'digantung' dan diasapi akan dibungkus daun dan ditaruh di dalam kuburan gantung oleh keluarga. Zaman dulu, ukuran petinya malah cenderung lebih kecil dari pada dewasa yang lebih panjang.

Menariknya lagi, peletakan jenazah pun harus dibuat seperti sedang meringkuk. Maknanya, mengingatkan akan posisi bayi saat di dalam rahim ibu.

kuburan gantungkuburan gantung Foto: (Thinkstock)

Menurut pemandu suku Igorot, Siegrid Bangyay, dulunya anggota keluarga memindahkan mayat dari kursi kematian ke peti mati harus mematahkan tulang orang yang mati untuk memasukkannya ke dalam peti mati sepanjang 1 meter dalam posisi janin. Naun perlahan ukuran peti semakin panjang dan besar hingga tak perlu lagi mematahkan tulang.

Sebelum peti jenazah digantung, para pelayat yang datang akan membiarkan tubuh mereka terkena cairan mayat yang membusuk. Terdapat kepercayaan bahwa cairan ini mendatangkan keberuntungan.

Usut punya usut, tradisi itu diyakini berasal dari kawasan Tiongkok bagian selatan seperti Yunnan, Fujian, Hubei dan Jiangxi. Sebab, kuburan gantung seperti itu juga ditemukan di tempat-tempat tersebut.

Hanya saja, tradisi itu sudah tidak dilakukan lagi kini. Diketahui, tradisi penguburan itu terakhir dilakukan pada tahun 2010 silam.

Kini, keberadaan makam gantung itu telah menjadi atraksi wisata bagi para wisatawan.



Simak Video "Lampu Chandelier Bergoyang saat Gempa M 7.1 Guncang Utara Filipina"
[Gambas:Video 20detik]
(sym/sym)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA