Jelajah Pantai Gunung Kidul Untuk Pertama Kalinya
A. Afandi - detikTravel
Jumat, 24 Jun 2016 10:37 WIB
A. Afandi
Jakarta - Pantai-pantai cantik di Gunung Kidul memang sangat menarik untuk dikunjungi. Apalagi bagi yang baru pertama kalinya datang ke sana, pasti akan dibuat terpana.Berawal dari Stasiun Kota Baru Malang, Jumat malam (19/2) tepat pukul 20.15 WIB, KA Malioboro Ekspress Berangkat menuju Jogjakarta. Perjalanan yang relatif nyaman, sambil bikin janji dengan salah satu biro travel perjalanan di Kota Yogyakarta, dilakukan saat di perjalanan KA, melalui kontak BBM.Pin BBM diperoleh hasil browsing pada pagi hari sebelum berangkat. Disepakati minta jemput jam empat pagi. Dua jam perjalanan, sambil menikmati suguhan musik yang diperdengarkan KA, lantas musik mati, karena mulai larut.Dilanjutkan dengan musik dari headset pribadi, dan tertidur. Tepat jam 03.57 WIB, KA Malioboro tiba di Stasiun Tugu Jogja. Turun, istirahat sebentar mencari minuman, Sholat Subuh dan bersiap menuju ke Wonosari Yogyakarta.Mobil travel paketan telah siap. Itinerarinya terjadwal 5 destinasi, tetapi rencananya hanya ambil 4 tujuan, menghemat energi, karena anggota tim backpacker ada yang berusia 7 tahun.Kota Yogyaa masih lengang, suasana masih gelap, perjalanan lancar. Sampailah di jalan menuju jalur ke arah Wonosari, masih gelap, namun tampak jalan lebar, nyaman, halus, dan lebar, beraspal hotmix. Keren!Kali pertama melalui jalur ini, merasa terkesan. Mulai jalanan menanjak, dan sedikit berkelok. Sisi kiri kanan, ada rumah penduduk, pekarangan atau pun kebun dengan pepohonan besar. Sampailah di perbukitan yang mampu memandang Yogya dari atas, baru sadar bahwa daerah ini disebut sebagai Bukit Bintang.Hampir sama dengan kawasan Payung di Batu, Malang, yaitu kawasan dimana dari tempat ini bisa melihat Kota Batu dari perbukitan. Yang menarik adalah kerlapβkerlip lampu di bawah, indah dipandang.Lanjut lagi, menyusuri tanjakan, memasuki area dengan Tulisan Gunung Kidul Handayani, memasuki kawasan Gunung Kidul.Perjalanan mendekati kawasan Wonosari, jalan lurus dan halus, disambut hujan. Agak kepikiran juga, gimana rasanya jalanβjalan di pantai namun pada kondisi hujan.Β Di Wonosari, menyempatkan kendaraan berhenti di SPBU isi BBM, lantas lanjut menuju ke arah pantai Gunung Kidul. Jalan mulai menyempit dan aspal biasa. Kanan kiri hutan jati dan beberapa pohon keras lainnya, sesekali nampak kebunβkebun dengan tanaman jagung.Kesimpulan sementara Gunung Kidul hijau, dan tampak lebih indah karena pesona gunung karangnya, putih coklat dan hijau. Putih kecoklatan karena tampak bebatuan karangnya (atau kapur), hijau karena gunungβgunung ini menjadi subur di tumbuhi berbagai tanaman.Jalan berkelok-kelok menjadikan keunikan tersendiri, walaupun sempat meminta driver untuk menurunkan kecepatan kendaraan agar si kecil tidak mabuk perjalanan. Tak terasa, sampailah pada pos tiket. Ternyata tiket ini sudah bisa digunakan untuk 10 destinasi yang ada di Gunung Kidul. Wow, luar biasa banyak pantainya.Disepakati untuk destinasi pertama adalah Pantai Baron. Karena paling dekat dan biar cepat sarapan. Menikmati ikan Bawal air laut dan ikan kakap, ikanβikan segar yang benarβbenar layak dinikmati di pagi hari plus nasi hangat dan jeruk panas. Sambil lesehan dengan tikar di atas pasir pantai.Yang menjadikannya lebih menarik adalah, belum banyaknya pengunjung yang datang, karena masih terlalu pagi. Hanya ada satu bus, yang sepertinya bermalam di pantai ini, kebetulan di pantai ini ada salah satu resort sederhana.Seusai sarapan, mendekati bibir pantai. Airnya cenderung menghijau, karena di sisi kanan ada muara, mungkin itu yang menyebabkan. Pantai Baron ini merupakan teluk, disisi barat atau kanan bukit karang, disisi kiri juga bukit, yang menarik adalah adanya menara Suara yang relatif besar dan satu menara besi. Penulis tidak sempat menaiki bukit ini, karena ingin segera menuju ke pantai lainnya.Perjalanan diteruskan ke arah timur, sampailah di Pantai Indrayanti, sebenarnya pantai ini adalah Pantai Pulang Syawal, entah mengapaΒ lebih populer dengan sebutan Pantai Indrayanti. Yang jelas, di pantai ini terdapat salah satu restoran yang bernama Restoran Indrayanti.Pasir putih bersih, ombak tidak terlalu besar, batu karang yang tampak dan air yang jernih. Sangat indah. Jam 9 lebih sedikit, namun terik matahari sangat terasa. Pilihan berteduh dengan sewa payung dan tikar bisa jadi pilihan, sewa Rp 20 ribu untuk payung dan tikar, bias untuk menikmati pesona pantai.Penulis mencoba mendaki bukit sisi kanan dari restoran Indrayanti, terdapat kotak yang kita bisa mengisi sukarela. Menaiki anak tangga dengan pegangan di sisi kiri kanannya, yang dapat memudahkan kita mendaki anak tangga dan menjadikan kita merasa lebih aman.Di atas bukit atau di sepanjang tepian bukit selalu dipagari dengan pagar bambu, menjadikan kita merasa lebih aman. Dari atas bukit ini, ternyata bisa untuk menikmati pantai dengan sudut yang berbeda, artinya dari ketinggian tertentu. Dan ternyata nilai rasaranya berbeda, menikmati di bawah atau di hamparan pasir dan menikmati di atas bukit. Samaβsama menariknya, samaβsama bisa dinikmatinya dengan sudut pandang berbeda.Pengunjung yang menaiki bukit ini, cenderung memanfaatkan untuk foto selfi atau foto bersama, menarik memang. Lebih menarik lagi jika mencoba berdiam sesaat menikmati sepoi angin dan melemparkan pandangan ke arah barat, melihat pantai yang bersih, hamparan air yang jernih dengan bebatuan karang yang sayupβsayup terlihat. Sesekali tampak pecahan ombak. Di sisi timur terdapat bukit, keramaian pengunjung di pantai dan beberapa pengunjung yang tengah asyik mandi di pantai.Menikmati pantai tak lega rasanya jika tidak bermain air alias berenang. Air pantai yang jernih, menjadikan lebih terasa nyaman. Namun tetap mesti hatiβhati, ini pantai selatan terkadang ombaknya besar. Apalagi bersama anakβanak usia 12 tahun dan 7 tahun. Walaupun lakiβlaki, bisa berenang, namun kita mesti ekstra hatiβhati. Di dasar air berupa pasir, terdapat bebatuan yang menjadikan mesti hatiβhati karena kita bisa terluka karena terantuk bebatuan karang tersebut.Di selaβsela mandi, kita bisa istirahat sejenak dibawah payung sambil menikmati Bakpao yang dijual penduduk lokal, ataupun orem β orem dan kripik rumput laut yang berwarna hijau, yang penulis pikir sebelumnya, kripik itu adalah kripik daun bayam, atau pun menikmati segarnya kelapa muda.Destinasi ketiga adalah Pantai Krakalan, pantai ini tampak dari jalan utama, membelok ke pantai, sudah memasuki kawasan pantai. Pantai ini memiliki panjang pantai yang sangat panjang, area parkir pun luas dengan pilihan warungβwarung. Saat penulis ke pantai ini, tampak sangat lengang.Karakteristik dari pantai ini adalah pantai dengan bebatuan berkarang, yang kebetulan airnya pada posisi surut sehingga bebatuannya nampak jelas. Di sisi barat terdapat bukit dengan tulisan welcome to Krakalan, di sisi timur juga terdapat bukit.Bergeser ke destinasi lainnya, menuju ke Grojogan Sri Gethuk. Melalui jalan yang sebelumnya tidak dilalui, melalui bukit dengan tanaman jagung ataupun pepohonan keras yang belum terlalu tinggi. Sebelum memasuki kawasan Sri Gethuk, tersaji kiri kanan jalan pemandangan tanaman jagung, tanaman keras atau pun semacam padang sabana yang tertanami rerumputan, nampaknya tak ada lagi kegersangan yang terjadi.Masuk areal Sri Gethuk dengan jalan makadam, lumayan bergeronjal walau hanya beberapa ratus meter. Sampailah di area wisata Sri Gethuk. Pertama yang ditemui adalah pedagang lokal dan area pemancingan. Selanjutnya sampai di bagian bawah, menuruni anak tangga, sampai bibir sungai.Penulis pikir sesampai di bawah langsung menemui air terjun sri gethuk. Ternyata bukan, masih sungai. Sayang saat itu air sungainya berwarna coklat, mungkin karena hujan. Untuk menuju ke air terjun, naik perahu dulu sekita 8 menit. Tidaklah lama, dan ternyata asyik juga.Sesampainya di air terjun memang menarik, viewnya asyik. Airnya bersih, dan aman buat mandi. Airnya tidaklah deras, walau bukan pula dikatakan debit kecil. Di tempat ini idealnya sekitar 100 orang saja. Artinya pengunjung lainnya berarti pada posisi sedang naik perahu, berenang di sungai, makanβmakan di warung, di tempat pintu masuk.Menutup event ini menikmati ayam goreng Pak Parman dan foto dulu di view Gunung Kidul Handayani, dan kembali menuju ke Yogyakarta untuk eksplorasi lainnya.
(travel/travel)












































Komentar Terbanyak
Kubu PB XIV Purbaya Protes Keras ke Menbud Fadli Zon sampai Naik ke Panggung
DPR Beberkan Biang Keladi Harga Tiket Pesawat Domestik di Indonesia Mahal
Penunjukan Tedjowulan Diprotes Kubu PB XIV Purbaya, Apa Kata Fadli Zon?