Bagaimana kalau Anda ingin menjelajah sebuah tempat, tapi tak punya banyak waktu? Jangan pesimis, jawabannya ada di konsep liburan 24 jam. Anda akan menggunakan waktu sehari-semalam, sebaik-baiknya, untuk menjelajah berbagai tempat dan melakukan beragam aktivitas.
Liburan 24 jam menjadi jawaban bagi traveler yang minim waktu liburan. Tapi sebelum melakukannya, butuh rencana yang matang dan estimasi bujet yang pasti. Baiknya Anda tidak 'ngalor-ngidul' atau tersesat di sebuah tempat demi terciptanya efisiensi waktu. Ingat, Anda hanya punya 24 jam!
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan waktu terbatas, Anda harus merencanakan perjalanan dengan sangat matang. Hal ini bisa jadi hambatan bagi traveler yang suka impulsif alias spontan saat traveling. Tapi rasanya tak mungkin liburan 24 jam tanpa itinerary. Yang ada, nantinya Anda malah keteteran dan melewatkan destinasi-destinasi penting.
Sebutlah Anda sudah punya itinerary sendiri. Apakah semua destinasi sudah masuk ke situ? Bisa ya, bisa juga tidak. Banyak yang bisa digali dari sebuah tempat: wisata alam, sejarah, kuliner, budaya, sampai sosiokultur masyarakatnya. Banyak traveler merasa liburan 24 jam tidak bisa mencakup seluruh destinasi yang mereka inginkan.
"Nggak enak. Terlalu cepat di satu tempat, jadi nggak bisa sungguh-sungguh menikmati destinasi itu," tutur Farchan, traveler yang pernah melakukan liburan 24 jam di Kota Solo.
Waktu itu Farchan merasa benar-benar diburu waktu. Garis besarnya begini: tiba di Solo pagi hari dia langsung ke Tawangmangu, siang ke Keraton, malam kulineran di Galabo, tengah malam sampai pagi 'ngangkringan'. Rasa tergesa-gesa itu baru hilang saat ia sarapan soto depan Pasar Triwindu yang terkenal.
"Capek," kata Farchan. Capek fisik adalah sisi minus lain dari liburan 24 jam. Betapa tidak, tubuh Anda hampir tak istirahat sehari-semalam. Terbayang kan capeknya?
Tapi di balik semua kerugian itu, liburan 24 jam punya banyak keuntungan. Inilah solusi tepat bagi Anda yang tak punya banyak waktu liburan. Apalagi Anda akan menghemat biaya penginapan karena tetap melakukan mobilitas saat malam.
Traveler bisa menyambangi banyak tempat dalam satu waktu. Sisi positif lainnya, Anda bisa mengetahui banyak sisi lain dari sebuah destinasi.
"Tengah malam hingga pagi buta di Solo, saya jadi tahu seperti apa rasanya. Melihat ibu-ibu yang pergi ke pasar, nongkrong bareng pedagang kaki lima sampai pagi buta. Kita jadi tahu banyak hal karena terjaga selama 24 jam," tambah Farchan.
Kira-kira itulah untung-rugi liburan 24 jam. Setuju atau tidak, berminat atau tidak, keputusan Anda di tangan masing-masing traveler. Kalau belum pernah merasakan liburan 24 jam, cobalah barang sekali saja. Setidaknya Anda melakukan hal baru saat traveling, pun mengatur jadwal untuk diri sendiri seefisien mungkin. Selamat liburan!
(shf/shf)












































Komentar Terbanyak
Duh, Jembatan Ikonik Suramadu Jadi Sasaran Pencurian, 480 Kg Besi Raib
Terkuak! WNA Punya Lahan di Proyek Akomodasi Wisata, Caranya Pinjam Identitas Warlok
DPR Pertanyakan Harga Tiket Pesawat Mahal Jelang Lebaran, Aneh Bin Ajaib