"Di Indonesia, pengakuan pariwisata sebagai ilmu mandiri dan pembukaan program akademik S1 pariwisata di lembaga pendidikan tinggi baru ada di tahun 2008," ucap Menparekraf Mari Elka Pangestu dalam acara Workshop Eksistensi Ilmu dan Program Studi S1, di Balairung Soesilo Soedarman, Kemenparekraf, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta (13/4/2014)
Menurut Mari, di Indonesia harus ada universitas yang menyediakan program S2 bahkan S3 bidang pariwisata. Saat ini, program tersebut baru tersedia di Universitas Udayana, Bali.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tambah Mari, jika Indonesia ingin bersaing di bidang pariwisata dengan negara lain, harus memiliki ilmu yang kuat. Terlebih Indonesia ke depannya akan menghadapi ASEAN Economic Community pada tahun 2015.
"Kalau mau mencontoh, kita bisa melihat AS, yang paling advance. Mereka punya Cornell University," kata Mari.
AS, lanjut Mari, saat ini memiliki 154 colleges yang menawarkan program S1 dalam bidang pariwisata. Negara ini juga memiliki 36 colleges yang menawarkan program S2 dan 14 colleges yang memiliki program S3 di bidang pariwisata.
"Kalau di Asia bisa lihat Thailand, Korsel. Kalau mau yang dekat bisa juga Australia," tutup Mari.
Dalam kesempatan yang sama, Dirjek Dikti Kemendibud, Prof Djoko Santoso, mengatakan Indonesia membutuhkan lulusan bidang pariwisata di tingkat D1, D2, D3 dan D4. "Perlu juga Magister, Magister Terapan, Doktor, dan Doktor Terapan," ucapnya.
(shf/shf)












































Komentar Terbanyak
Arahan Prabowo, Bandara Husein dan Adi Sutjipto Diaktifkan Lagi untuk Penerbangan Sipil
Viral Bule Hadang Mobil di Nusa Dua, Ia Berlutut Minta Tolong
Bandara Husein Bangkit Lagi? Farhan Senyum Lebar Dapat Sinyal dari Prabowo