Naik Gunung Banyak Manfaatnya Lho!

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Travel Highlight Naik Gunung

Naik Gunung Banyak Manfaatnya Lho!

Fitraya Ramadhanny - detikTravel
Kamis, 28 Mei 2015 07:35 WIB
Naik Gunung Banyak Manfaatnya Lho!
(Jamal Mahfudz/d'Traveler)
Jakarta - Naik gunung adalah kegiatan traveling yang seru untuk dilakukan. Kegiatan ini memiliki banyak manfaat baik dari sisi kesehatan fisik dan kejiwaan, juga manfaat secara sosial. Nggak percaya?

Naik gunung adalah salah satu kegiatan outdoor activity yang banyak dipilih traveler. Kegiatan lainnya yang sejenis adalah arung jeram, susur gua, hiking bahkan mendayung perahu canoe. Namun naik gunung tetap yang menjadi favorit karena banyak hal yang bisa dijumpai sepanjang jalan.

Kegiatan naik gunung tentu saja membawa sejumlah manfaat positif untuk para traveler yang ingin mencobanya. Dihimpun detikTravel, Kamis (28/5/2015) inilah sejumlah manfaat dari kegiatan naik gunung:

1. Mendekatkan diri pada alam

(Thinkstock)
Saatnya memiliki pemahaman yang tepat dari kegiatan di alam bebas. Gunung, sungai dan hutan bukan untuk ditaklukan, tapi justru kita menjadi dekat, selaras dan harmoni dengan alam.

Masuk ke hutan menuju puncak gunung akan menyadarkan kita untuk lebih menghargai alam. Bandingkanlah kondisinya dengan alam yang rusak, hutan yang gundul, limbah berceceran. Tidakkah kita kasihan dengan alam?

Kegiatan mendaki gunung adalah cara kita mendekatkan diri dengan alam. Sepulang nanti, kita jadi lebih bisa menghargai keberadaan tumbuhan dan hewan di sekitar kita. Karena, kita sudah membuktikan, alam lebih indah dinikmati tanpa polusi dan sampah.

2. Mengenal kemampuan diri

(Jamal Mahfudz/d'Traveler)
Naik gunung adalah cara kita menguji kemampuan diri sendiri sendiri secara lebih dekat. Naik gunung adalah tantangan, sanggupkah kita untuk mencapai puncak, atau menyerah di tengah jalan.

Berbagai kondisi akan kita temui sepanjang jalan. Kekuatan fisik kita sungguh diuji. Mungkin kita ragu, tapi kita terus maju. Ketika sampai dipuncak, itu adalah bukti kalau kita bisa berhasil ketika sungguh-sungguh berusaha.

Naik gunung jelas melatih kepercayaan diri. Ada hikmah yang kita bawa pulang untuk menjalani kehidupan. Cobaan hidup itu seperti naik gunung, kita bisa melewatinya ketika percaya dengan kemampuan diri.

3. Kerja sama tim

(Thinkstock)
Naik gunung adalah cara yang sempurna untuk melatih kerja sama tim. Tentu kita tidak naik gunung sendirian, melainkan dengan teman-teman sepermainan.

Kerja sama ini dimulai dari bagi-bagi tugas dan perlengkapan, keberangkatan, sampai puncak dan kembali. Naik gunung dalam satu tim artinya kita harus saling menjaga keselamatan yang lain, saling memberi semangat.

Jangan lupa juga membantu yang kesulitan. Ketika semuanya kompak, perjalanan naik gunung akan menjadi pengalaman yang mengasyikan.

4. Melawan egoisme, melatih kesabaran

(Thinkstock)
Dalam menghadapi ujian naik gunung, munculah sifat asli manusia di sana: egoisme. Ketika lelah menyerang, beban berat di pundak, melihat teman kepayahan di situlah sifat egoisme dan emosi keluar.

Eits, sabar dulu dong! Naik gunung justru adalah cara yang tepat untuk mengikis sifat egois. Melihat teman tertinggal di belakang, ayo ditunggu dan dibantu. Berbagilah beban berat di pundaknya. Sama rata, sama rasa.

Ketika puncak gunung tidak kunjung sampai bersabarlah, jangan lantas emosi dan stress sendiri. Teman-teman kamu juga merasakan hal sama. Lebih baik kita saling menguatkan dan terus berjuang sampai puncak.

5. Menyehatkan tubuh dan pikiran

(Thinkstock)
Tentu saja dong, naik gunung sudah pasti menyehatkan tubuh dan pikiran. Saat naik gunung, berapa banyak kalori yang dibakar tubuh kita. Otot-otot bekerja, paru-paru berfungsi maksimal. Meski lelah tentu badan jadi lebih sehat.

Begitu juga pikiran. Otak yang mumet dan stress dengan suasana kantor dan pekerjaan, berganti dengan suasana tenang. Hutan yang hijau, hawa yang segar penuh oksigen sungguh menyenangkan.

Apalagi kalau melihat sunrise di puncak gunung. Duh, damainya pikiran ini... Sepulang naik gunung, perasaan stress pun hilang sudah.
Halaman 2 dari 6
Saatnya memiliki pemahaman yang tepat dari kegiatan di alam bebas. Gunung, sungai dan hutan bukan untuk ditaklukan, tapi justru kita menjadi dekat, selaras dan harmoni dengan alam.

Masuk ke hutan menuju puncak gunung akan menyadarkan kita untuk lebih menghargai alam. Bandingkanlah kondisinya dengan alam yang rusak, hutan yang gundul, limbah berceceran. Tidakkah kita kasihan dengan alam?

Kegiatan mendaki gunung adalah cara kita mendekatkan diri dengan alam. Sepulang nanti, kita jadi lebih bisa menghargai keberadaan tumbuhan dan hewan di sekitar kita. Karena, kita sudah membuktikan, alam lebih indah dinikmati tanpa polusi dan sampah.

Naik gunung adalah cara kita menguji kemampuan diri sendiri sendiri secara lebih dekat. Naik gunung adalah tantangan, sanggupkah kita untuk mencapai puncak, atau menyerah di tengah jalan.

Berbagai kondisi akan kita temui sepanjang jalan. Kekuatan fisik kita sungguh diuji. Mungkin kita ragu, tapi kita terus maju. Ketika sampai dipuncak, itu adalah bukti kalau kita bisa berhasil ketika sungguh-sungguh berusaha.

Naik gunung jelas melatih kepercayaan diri. Ada hikmah yang kita bawa pulang untuk menjalani kehidupan. Cobaan hidup itu seperti naik gunung, kita bisa melewatinya ketika percaya dengan kemampuan diri.

Naik gunung adalah cara yang sempurna untuk melatih kerja sama tim. Tentu kita tidak naik gunung sendirian, melainkan dengan teman-teman sepermainan.

Kerja sama ini dimulai dari bagi-bagi tugas dan perlengkapan, keberangkatan, sampai puncak dan kembali. Naik gunung dalam satu tim artinya kita harus saling menjaga keselamatan yang lain, saling memberi semangat.

Jangan lupa juga membantu yang kesulitan. Ketika semuanya kompak, perjalanan naik gunung akan menjadi pengalaman yang mengasyikan.

Dalam menghadapi ujian naik gunung, munculah sifat asli manusia di sana: egoisme. Ketika lelah menyerang, beban berat di pundak, melihat teman kepayahan di situlah sifat egoisme dan emosi keluar.

Eits, sabar dulu dong! Naik gunung justru adalah cara yang tepat untuk mengikis sifat egois. Melihat teman tertinggal di belakang, ayo ditunggu dan dibantu. Berbagilah beban berat di pundaknya. Sama rata, sama rasa.

Ketika puncak gunung tidak kunjung sampai bersabarlah, jangan lantas emosi dan stress sendiri. Teman-teman kamu juga merasakan hal sama. Lebih baik kita saling menguatkan dan terus berjuang sampai puncak.

Tentu saja dong, naik gunung sudah pasti menyehatkan tubuh dan pikiran. Saat naik gunung, berapa banyak kalori yang dibakar tubuh kita. Otot-otot bekerja, paru-paru berfungsi maksimal. Meski lelah tentu badan jadi lebih sehat.

Begitu juga pikiran. Otak yang mumet dan stress dengan suasana kantor dan pekerjaan, berganti dengan suasana tenang. Hutan yang hijau, hawa yang segar penuh oksigen sungguh menyenangkan.

Apalagi kalau melihat sunrise di puncak gunung. Duh, damainya pikiran ini... Sepulang naik gunung, perasaan stress pun hilang sudah.

(Johanes Randy/Fitraya Ramadhanny)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads