Dalam acara media briefing Parade Chingay di F1 Pit Stop Singapura, Kamis (18/2/2016) pihak kontingen Indonesia sempat melakukan simulasi acara bersama tujuh perwakilan negara lainnya. Tidak kalah dengan negara lainnya, simulasi parade kontingen Indonesia yang diwakili oleh grup utama dari Sekolah Darul Hikam Bandung tampak memukau. Mereka pun mengambil tema 'Ramayana' yang mengisahkan kisah Rama dan Shinta.
"Kita ngambil sedikit tema dari kisahnya Ramayana," ujar pembimbing sekaligus Kepala Sekolah Darul Hikam Lembang, Niknik andriani pada detikTravel.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
![]() |
Rombongan kontingen Indonesia (Randy/detikTravel)
Demi kesuksesan acara ini, persiapan dan latihan telah dilakukan oleh para murid Darul Hikam pada bulan Januari. Mengajak 83 anggota dengan jumlah 73 anggota yang turun ke lapangan, para rombongan dari Darul Hikam sangat menunjukkan identitas Indonesia dalam kostumnya. Tampak dari seragam sarung dan batik hingga topeng khas Indonesia.
Diakui oleh Niknik, bahwa anak didiknya sempat mengikuti Parade Chingay tahun lalu. Namun apabila tahun lalu anak didiknya hanya menjadi tim bantu, kali ini mereka menjadi tim utama. Otomatis tanggung jawabnya dalam membawa nama Indonesia pun semakin berat.
"Tahun lalu kami jadi tim pendukung, sekarang jadi main group. Persiapan dan tanggung jawabnya juga lebih," ujar Niknik.
![]() |
Banner kontingen yang didukung KBRI Singapura dan Kemenpar (Randy/detikTravel)
Apabila Niknik dan Sekolah Darul Hikam yang menjadi grup utama telah melakukam persiapan, hal senada juga telah dilakukan oleh tim Banten Creative Bambu Community yang akan mengikuti rombongan parade Darul Hikam. Mereka pun telah berlatih selama dua bulan untuk mempersembahkan kesenian angklung buhun khas Banten pada khalayak ramai.
"Persiapan tim kurang lebih dua bulan. Bagi masyarakat Sunda, Angklung Buhun ini sangat dijaga seperti pusaka," ujar Dewan pembina Banten Creative Community sekaligus staff Kemensos, Ronny Khalishadi.
![]() |
Persiapan kontingen Indonesia (Randy/detikTravel)
Mereka pun akan unjuk gigi dengan mempertunjukkan kesenian Angklung Buhun yang disertai dengan nyanyian lagu tradisional mereka seperti Nyi Sri, Jalan-jalan dan Orai-oraian. Bagi mereka budaya Angklung Buhun bermakna sebagai refleksi kehidupan yang harmonis.
"Di mana kesenian angklung itu berarti merefleksikan kehidupan manusia yang harmonis dan menyatu dengan alam," jelas Ronny.
Jika ingin melihat pertunjukan kontingen Indonesia di Parade Chingay, datanglah ke F1 Pit Stop di Singapura. Acara akan berlangsung pada 19-20 Februari 2016 atau weekend ini. Harga tiketnya pun dihargai antara 40 hingga 50 Singapore Dollar. Selain itu acara akan diramaikan dengan pertunjukan dari tujuh kontingen negara lain serta pertunjukan kembang api meriah! (rdy/shf)















































Komentar Terbanyak
Koster: Wisatawan Domestik ke Bali Turun gegara Penerbangan Sedikit
Ditonjok Preman Pantai Santolo, Emak-emak di Garut Babak Belur
Koster Akui Jumlah Wisatawan Domestik ke Bali Turun di Libur Nataru