Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 14 Des 2016 15:55 WIB

TRAVEL NEWS

Wisata Perbatasan Makin Digemari Lewat Festival Crossborder

Kurnia Yustiana
detikTravel
Foto: Ilustrasi (Lamhot Aritonang/detikTravel)
Foto: Ilustrasi (Lamhot Aritonang/detikTravel)
Jakarta - Kemenpar makin gencar menjaring wisman di kawasan perbatasan. Festival Crossborder pun beberapa kali digelar dan berhasil menarik banyak wisman untuk datang.

Kemenpar sejak Juni 2016 hingga Desember 2016 konsisten menggelar Festival Crossborder di Atambua NTT, Aruk Sambas Kalbar, Batam-Bintan Kepri, Merauke dan Jayapura Papua. Dalam rilis Kemenpar kepada detikTravel, Rabu (14/12/2016), gelaran musik dianggap cukup ampuh dalam menarik turis di perbatasan untuk berkunjung ke Indonesia.

"Musik itu bahasa universal. Kalau di tanah air disuka, maka di perbatasan pun pasti juga disukai. Karena itu, setiap acara musik di perbatasan, selalu menjadi puncak acara dan ditunggu-tunggu orang," kata Menter Pariwisata Arief Yahya.

Arief menambahkan, perbatasan adalah kawasan yang paling cepat bisa mendatangkan wisman. Dan Festival Crossborder di Aruk Sambas, Kalbar, lalu di Atambua NTT, Merauke dan Jayapura di Papua akan menjadi sangat vital.

"Prancis dan Spanyol adalah negara dengan crossborder tourism yang paling besar, karena memanfaatkan crossborder itu," jelas Arief.

Bupati Belu Willybrodus Lay pun mulai mendorong pariwisata sebagai sektor utama dalam membangun daerah. Atambua akan didorong sebagai Kota Festival Budaya bagi Indonesia dan Timor Leste.

Sejak Juni 2016, Kota Atambua memang sudah bertransformasi menjadi Kota Festival. Artis-artis tampil di sana tak lagi didominasi band-band lokal ataupun bintang kelas dua nasional, semua sudah artis papan atas Indonesia.

"Yang saya rasakan, Festival Crossborder di perbatasan NTT-Timor Leste benar-benar menaikkan citra daerah. Untuk jangka panjang tentu sangat berpengaruh bagi pariwisata kabupaten yang ada di sekitar perbatasan akan terus berbenah untuk menyiapkan sarana dan prasarana yang lebih baik,"ungkap Willy.

Sejak Festival Crossborder digelar, jalan di tiga wilayah perbatasan antara Indonesia dengan Timor Leste di Kabupaten Belu (Atambua), Kabupaten Malaka (Betun), dan Kabupaten Timor Tengah Utara (Kefamenanu-Tanjung Bastian) berubah mulus. Yang tadinya tanah dan batu, sekarang sudah diaspal mulus seperti jalan-jalan di Pulau Jawa.

Pos Lintas Batasnya pun memiliki kombinasi arsitektur tradisional dan modern, seperti Motaain yang terlihat padu. Atapnya berbentuk kubah seperti bentuk atap rumah adat NTT, Mbaru Niang.

"Ini sangat memberi rasa bangga, berbeda dengan bentuk sebelumnya," terang Willy.

Festival Crossborder juga memantik angka pertumbuhan kunjungan pelintas batas. Yang tadinya hanya 100-an, saat event berlangsung jumlahnya melonjak. Kenaikannya besar dibanding hari biasa.

"Dampak langsungnya terhadap masyarakat sekitar Rp 300 juta-Rp 400 juta, karena tak hanya wisman Timor Leste saja yang bergerak masuk. Wisatawan Nusantara dari sekitar Atambua juga ikut masuk," ungkap Willy. (krn/krn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED