Kasihan Raja Ampat

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Perusakan Karang di Raja Ampat

Kasihan Raja Ampat

Afif Farhan - detikTravel
Jumat, 03 Feb 2017 16:10 WIB
Kasihan Raja Ampat
Foto: Terumbu karang yang dicorat-coret di Raja Ampat (Stay Raja Ampat/Facebook)
Jakarta - Perusakan karang di Raja Ampat bikin geram. Bukan hanya merusak panorama bawah laut, namun merusak sumber kehidupan masyarakat Raja Ampat sendiri. Kasihan...

"Kasihan Raja Ampat, jadi tercemar nama baiknya gara-gara kasus ini (perusakan karang-red)," Kepala UPTD Kawasan Konservasi Laut Raja Ampat, Adrianus Kaiba kepada detikTravel, Jumat (3/2/2017).

Baru-baru ini, traveler dibikin heboh oleh kasus perusakan karang di Pulau Kri, Raja Ampat, Papua Barat. Terdapat tiga karang yang dicoret dengan berbagai tulisan yang digurat yakni, 'Welcome To Steven', 'Nikacsa' dan 'Haja Andez (namun nama Andez kurang terbaca jelas)'.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hingga kini Dinas Pariwisata Raja Ampat dan UPTD Kawasan Konservasi Laut Raja Ampat masih melakukan penyelidikan. Melihat berapa besarnya kerusakan karang dan mencari oknum yang tidak bertanggung jawab tersebut.

"Di Raja Ampat, semua operator wisata sampai guide dan masyarakatnya pun tahu pengelolaan terumbu karang. Itu harus dijaga sampai anak cucu," tambah Adrianus.

Adrianus menjelaskan, karang dan laut merupakan karunia alam sebagai sumber kehidupan. Dari lautlah, masyarakat Raja Ampat bisa memancing ikan untuk dimakan. Selain itu, lautan dan seisinya juga menjadi daya tarik utama wisatawan untuk datang. Yang berujung, pada sektor ekonomoi untuk masyarakat Raja Ampat.

"Kasus ini baru yang pertama kali, belum pernah terjadi. Terumbu karang lautan itu meningkatkan kunjungan wisatawan dan meningkatkan pula ekonomi kami," tutur Adrianus.

Sebagai wisatawan, mari kita bersikap dan berlaku dengan bijak. Tak hanya di Raja Ampat, tapi di semua destinasi di Indonesia. Melakukan vandalisme dengan mencorat-coret hingga merusak, bukanlah perbuatan terpuji. Sungguh merugikan wisatawan lain dan masyarakat yang tinggal di sekitar destinasi itu sendiri.

Mari menjadi wisatawan yang lebih peduli lingkungan. Harap selalu diingat perkataan klasik yang penuh arti ini: jangan membunuh apapun kecuali waktu, jangan meninggalkan apapun kecuali jejak kaki dan jangan mengambil apapun kecuali gambar.

(aff/aff)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads