Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 11 Sep 2018 12:50 WIB

TRAVEL NEWS

Bukankah Presiden Jokowi Berpesan Menjaga Geopark?

Afif Farhan
detikTravel
Pembangunan peternakan Ayam di Geopark Gunung Sewu (Istimewa/Cahyo)
Pembangunan peternakan Ayam di Geopark Gunung Sewu (Istimewa/Cahyo)
Gunungkidul - Pembangunan peternakan ayam di Geopark Gunung Sewu dinilai bisa merusak kelestarian alam. Padahal, Presiden Jokowi pernah berbicara tentang geopark.

Gunung Sewu merupakan kawasan geopark di wilayah Jawa Tengah, DI Yogyakarta dan Jawa Timur serta sudah diakui UNESCO sebagai Global Geopark Network pada tahun 2015. Sayang, kini sedang ada pembangunan peternakan ayam di dalam kawasannya atas nama PT Widodo Makmur Unggas.

Dalam data yang didapat detikTravel dari Cahyo Alkantana, seorang President Indonesia Adventure Travel and Trade Association (IATTA) sekaligus pengelola Gua Jomblang yang berada di dalam kawasan Geopark Gunung Sewu, pembangunan peternakan tersebut berada di lahan seluas 20 hektar di area wisata Desa Pacarejo.

"Mereka telah memotong sekitar 5 conical karst untuk mendapatkan lahan yang rata. Posisi kandang berada di lingkaran 1 zona inti Gunung Sewu, juga zona inti wisata gua-gua dan telaga karst. Posisi kandang merupakan pertemuan 4 sungai utama bawah tanah yakni Sumuluh Seropan, Jomblang Grubug, Bribin dan Ngingrong. Nanti, pembuangan limbah akan mengalir ke sungai-sungai bawah tanahnya yang mana sungai itu sudah dimanfaatkan untuk sumber air minum dan kegiatan wisata. Bisa rusak semuanya," paparnya kepada detikTravel, Selasa (11/9/2018).

BACA JUGA: Peternakan Ayam Jadi Kontroversi di Geopark Gunung Sewu

Bukankah Presiden Jokowi Berpesan Menjaga Geopark?Pembangunan peternakan ayam di kawasan Geopark Gunung Sewu (Istimewa/Cahyo)


Cahyo tak sembarang bicara, sebab dia sudah mendatangi langsung lokasinya. Pun begitu pengakuan dari GM Geopark Gunung Sewu, Budi Martono. Dia menilai, limbah dari peternakannya dapat merusak alam dan mematikan perekonomian masyarakat yang tinggal di sekitar Geopark Gunung Sewu.

"Ini sudah pasti akan merusak kelestarian alam. Padahal kami dari pihak pengelola geopark dan masyarakat di sini sudah amat menjaga alamnya," lirihnya.

Bukit karst yang sudah dipotong demi mendapat lahan yang rataBukit karst yang sudah dipotong demi mendapat lahan yang rata (Istimewa/Cahyo)


Bahkan, Budi dengan tegas menyatakan bahwa geopark sudah menjadi perhatian pemerintah. Dia pun berujar, kalau Presiden Jokowi saja sudah berpesan untuk menjaga geopark.

"Tanggal 27 November 2017 dalam rapat terbatas, Presiden Jokowi bilang 'orang bisa datang ke Indonesia karena ketertarikan keindahan pantainya, bisa juga karena keindahan budayanya misalnya Borobudur, bisa juga datang karena keindahan guanya, bisa datang karena keindahan geopark-nya'. Itu artinya apa, geopark harus terus dijaga alamnya demi keindahannya, demi mendatangkan banyak turis dan demi perekonomian," papar Budi.

"Dari situ saja sudah dapat dipahami, bukankah Presiden Jokowi berpesan untuk menjaga geopark?" tegasnya.

BACA JUGA: Walhi Yogya Kecam Peternakan Ayam di Geopark Gunung Sewu

Budi memberikan contoh, salah satu wilayah di dalam Geopark Gunung Sewu adalah Gunungkidul. Dari data BPS Gunungkidul sejak tahun 2012 sampai 2017, angka kemiskinan di Gunungkidul menurun. Alasannya, masyarakat Gunungkidul mendapatkan pendapatan ekonomi yang terus meningkat dari pariwisata.

Bukankah Presiden Jokowi Berpesan Menjaga Geopark?Destinasi wisata di Geopark Gunung Sewu yang jadi pemasukan masyarakat setempat(Setia Endra/d'Traveler)


"Tahun 2012, angka kemiskinan di Gunungkidul itu 22,71 persen. Tahun 2017 menjadi 18,65 persen. Masyarakatnya sudah hidup dari pariwisata, menjadi pemandu wisata gua dan lainnya. Itu mereka dapatkan dari Geopark Gunung Sewu yang dijaga ini," urai Budi.

"Sekarang, kalau ada peternakan ayam dan nanti limbahnya mencemari tanah-tanah karst sampai ke sungai bawah tanah maka habislah semua. Perlu waktu lama lagi kalau memulai dari 0, tapi apakah kita harus memulai dari 0?" tutup Budi. (aff/aff)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA