Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 22 Okt 2018 14:29 WIB

TRAVEL NEWS

Aneka Modus Nakal Jual Murah Pariwisata Bali ke Turis China

Aditya Mardiastuti
detikTravel
Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati (Cok Ace) (Aditya Mardiastuti/detikTravel)
Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati (Cok Ace) (Aditya Mardiastuti/detikTravel)
Jakarta - Praktik negatif menjual murah pariwisata Bali kepada turis China menjadi sorotan. Beginilah modus yang merugikan Indonesia tersebut.

Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati (Cok Ace) beberapa waktu lalu sempat melakukan sidak di beberapa toko di kawasan Benoa, Bali. Cok Ace menemukan modus-modus pengusaha nakal yang terlibat dalam penjualan paket wisata murah yang dijual ke wisatawan Tiongkok.

"Ini kan berita yang ramai di koran, kami melihat langsung di lapangan, memang betul walaupun dibantah tenaga asing, bahwasanya yang dijual produk-produk China memang iya betul adanya," kata Cok Ace usai rapat di DPRD Bali, Jl Dr Kusuma Atmaja, Denpasar, Bali, Senin (22/10/2018).

Cok Ace mengakui adanya paket wisata ke Bali yang dijual terlalu murah karena adanya kurang pengawasan. Padahal saat ini target yang tengah dikejar Bali, yakni pariwisata yang berkualitas bukan lagi mengejar kuantitas.


"Kita harus berbesar hati kenapa terjadi harga murah di Bali, karena kurang pengawasan. Supply kita terlalu berlebihan sehingga dititipkan ke pihak luar, harga 500 ditawar 300. Sekarang di Bali juga berkembang sistem hostel, satu kamar ada 6 dipan, satu dipan dijual Rp 50 ribu dia dapat Rp 300 ribu dia. Ini kan punya dampak sosial juga. Bagaimana di Bali dalam satu kamar ada 3 pasangan sebagai suami-istri secara etika juga kurang pas," urainya.

Dia menambahkan tindak lanjut sidak tersebut, ada pertemuan antara salah satu asosiasi pengusaha pariwisata dengan pelaku usaha China itu. Hasilnya, mereka berjanji untuk menghentikan praktik jual-beli wisatawan dengan hitungan per orang pada akhir tahun ini.

"Setelah Desember mereka nggak mau lagi, karena mereka minta jeda waktu, bulan Desember mereka akan menghentikan praktik jual-beli kepala dan mereka akan mengatur barang dagangannya sesuai ketentuan Indonesia ini positif yang kita lihat," terangnya.

Dia juga membenarkan modus lain yaitu jika para pengusaha nakal tersebut menggunakan simbol-simbol seperti burung garuda sebagai klaim produk buatan Indoesia. "Iya, kita lihat itu. Kita juga kroscek lagi apa maksudnya," tuturnya.

Tak hanya itu, di toko milik pengusaha nakal tersebut juga ada modus memperkerjakan pengusaha asing sebagai penjaga toko. "Ya ada sih sebagian besar memang (pengusaha) lokal. Tapi tidak menutup bahwa ada orang asing. Saya sempat ajak omong orang Tiongkok, masak begitu saja harus dari luar negeri? Cuma penjaga toko saja," ucapnya.

Aneka Modus Nakal Jual Murah Pariwisata Bali ke Turis ChinaKepala Dinas Pariwisata Bali, Anak Agung Gede Juniartha (Aditya Mardiastuti/detikTravel)


Hal senada juga disampaikan Kepala Dinas Pariwisata Bali, Anak Agung Gede Juniartha. Juniartha mengatakan paket pariwisata Bali dijual murah sejak 2-3 tahun belakangan ini.

"Ya kan ada ramai diberitakan, Pak Wagub ingin melihat bagaimana sih kondisi sebenarnya? Memang mereka tidak menjual barang di sini, barang itu diterima di negaranya," jelasnya.

Juniartha menambahkan tak hanya modus produk asal China yang kembali dijual ke turis Tiongkok. Tapi juga modus sistem pembayaran menggunakan aplikasi asal Tiongkok.

"Jadi dibawalah ke sana, dibawa wisatawan ke toko-toko ini, jadi ke destinasi ini cuma sekali di situ saja, terus mereka bayar, terima barangnya di negaranya. Jadi pembayaran juga melalui We Chat," urai Juniartha di lokasi yang sama.




Tonton juga 'Belajar Jadi Desa Berdaya di Penglipuran Bali':

[Gambas:Video 20detik]

(ams/fay)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED