Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 23 Okt 2018 18:40 WIB

TRAVEL NEWS

Isu Wisata Bali Dijual Murah, Bikin Rugi Indonesia dan China

Afif Farhan
detikTravel
Pantai Pandawa, salah satu destinasi di Bali (Afif Farhan/detikTravel)
Pantai Pandawa, salah satu destinasi di Bali (Afif Farhan/detikTravel)
Jakarta - Heboh isu wisata Bali dijual murah ke turis China. Menurut Menteri Pariwisata Arief Yahya, baik Indonesia dan China sebenarnya sama-sama rugi.

Kabar pariwisata Bali dijual murah itu diduga dilakukan para pengusaha asal China yang bekerja sama dengan travel agent ilegal. Modusnya, para turis asal China ini diajak untuk berbelanja ke toko-toko milik pengusaha asal China yang juga menjual produk-produk asal China namun diklaim sebagai produk khas Bali atau Indonesia.

Hal tersebut juga disebut Zero Dollar Tour. Menteri Pariwisata Arief Yahya menegaskan bahwa itu merugikan pihak Indonesia dan China.

"Industri Pariwisata di Bali merasa tidak mendapatkan benefit, sementara wisman (wisatawan mancanegara-red) China merasa tertipu. Nama Indonesia juga bisa buruk," kata Arief kepada detikTravel, Selasa (23/10/2018).

BACA JUGA: Menpar Jawab Isu Wisata Bali Dijual Murah ke Turis China

Arief mengaku sudah mendengar Zero Dollar Tour yang terjadi di Bali. Menurutnya, ini adalah momen yang tepat untuk memperkuat kerjasama antara pihak travel agent Indonesia dan China agar menangkal oknum-oknum yang nakal.

"Ini lebih ke B to B, Business to Business. Karena yang paling efektif adalah memperkuat kerjasama antara ASITA (Association of The Indonesian Tour and Travel Agencies) kita dengan CNTA (China National Tourism Association), dengan membuat 'White List Tour Agencies - Tour Operators'. Membuat daftar atau meregistrasi Ta-To, yang direkomendasi oleh kedua belah pihak, sehingga mudah mengontrolnya ketika ada keluhan," papar menteri asal Banyuwangi tersebut.

Sebelumnya secara terpisah, pakar pariwisata Tedjo Iskandar menjelaskan ada sindikat-sindikat dari China dan Indonesia yang menjual harga murah. Dinilai, dapat merusak pasar pariwisata di Bali.

"Saya harapkan semuanya bisa duduk bareng. Pemerintah, stakeholder terkait, travel agent, restoran, toko suvenir sampai guide harus sama-sama membuat solusinya. Supaya pasar tetap stabil, pengusaha daerah bisa mendapat keuntungan dan pelaku wisata di Bali tetap bisa menjalankan bisnisnya dengan sehat," kata Tedjo.

(aff/aff)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED