Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Minggu, 09 Jun 2019 20:02 WIB

TRAVEL NEWS

Menpar: People to People Connection Lebih Kuat dari Business Relation

Akfa Nasrulhak
detikTravel
Foto: Dok Kemenpar
Foto: Dok Kemenpar
Jakarta - Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan momen pulang kampung saat Lebaran warga Banyuwangi selalu dimanfaatkan dengan mengadakan kegiatan 'Diaspora Banyuwangi' setiap tahunnya. Kegiatan ini dilakukan untuk mempererat hubungan antar orang asal Banyuwangi yang merantau ke berbagai daerah hingga ke mancanegara.

Arief pun menilai hubungan antarpersonal yang dibangun dalam kegiatan ini lebih kuat dan dahsyat dari relasi bisnis.

"People to people connection itu jauh lebih kuat dan dahsyat dibandingkan business relation. Silaturahim diaspora setahun sekali dan bertepatan dengan momentum halalbihalal ini sarana yang baik untuk memperkuat jalinan hubungan personal. Muaranya memajukan daerah," papar Arief, dalam keterangan tertulis, Minggu (9/6/2019).

Dalam acara yang digelar di Pendopo Sabha Swagata Blambangan, Sabtu (8/6/2019) ini dipadati 1.000 diaspora. Semuanya kompak mengenakan batik dan udeng khas Banyuwangi.


Arief menambahkan, kebetulan tokoh yang sudah sukses banyak. Ada yang menjadi petinggi Polri, OJK, Konsul Keuangan, artis, semuanya banyak yang dari Banyuwangi.

"Semuanya bisa membantu membangun Banyuwangi. Banyuwangi sudah menunjukkan prestasinya yang luar biasa, jadi jangan segan membantu daerah ini," ajak Arief.

Sementara itu, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas menyampaikan diaspora didesain untuk semakin menguatkan cinta kepada Banyuwangi. Diaspora ini untuk menguatkan semua untuk semakin menumbuhkan cinta pada daerah.

"Momen juga bisa dijadikan tempat menggalang solidaritas membangun daerah dan bertukar informasi. Semua bisa membangun jejaring untuk bersama-sama mengembangkan daerah," jelasnya

Anas mengatakan acara yang dihelat setiap libur Lebaran itu selalu dihadiri Ikatan Keluarga Banyuwangi (Ikawangi). Ada yang dari Indonesia, juga dari mancanegara.

Karenanya, penyambutannya diatur sangat istimewa dengan menyajikan beragam kuliner lokal khas Banyuwangi dari rujak soto, nasi tempong, pecel pitik, dan ayam kesrut, semua bisa dicicipi. Lagu-lagu khas Banyuwangi juga dimainkan untuk mengobati kerinduan para perantau.

Anas berharap kegiatan diaspora ini bisa semakin menumbuhkan rasa cinta daerah, khususnya bagi para perantau.

"Acara ini kami desain untuk semakin menguatkan cinta kepada Banyuwangi. Di sini mereka saling bersapa, memunculkan kembali kenangan masa kecilnya. Memori itu kami gali kembali. Insyaallah bisa semakin menumbuhkan cinta pada daerah. Kalau sudah cinta, otomatis tergerak untuk bantu mengembangkannya," kata Anas.

Anas menambahkan, Diaspora Banyuwangi selalu digelar rutin setiap tahun itu menjadi media penting Pemerintah Kabupaten Banyuwangi untuk menyampaikan perkembangan pembangunan daerah. Momennya bisa sekaligus dimanfaatkan untuk meminta masukan dari warga perantau.

"Silakan bikin sesuatu di Banyuwangi. Usaha pertanian, peternakan, pariwisata, dan sebagainya. Ayo bareng-bareng majukan daerah," ungkap Anas.

Dalam kesempatan itu, Anas lantas memaparkan berbagai perkembangan Banyuwangi. Mulai dari Bandara Internasional Banyuwangi, pengembangan pariwisata, hingga pabrik kereta api terbesar di Indonesia yang tengah dibangun di Banyuwangi.

Saat ini, di Banyuwangi juga sedang dibangun industri kereta api terbesar di Indonesia yang dilengkapi dengan museum kereta api. Industri tersebut juga berarsitektur khas rumah masyarakat Suku Osing. Ini diprediksi bakal menjadi ikon baru Banyuwangi.

"Saat ini kami juga menjadikan Puskesmas sebagai mal orang sehat, bukan lagi orang baru datang ke sana saat sakit. Sebelum Lebaran kemarin saya ke Puskesmas Jajag, alhamdulillah luar biasa daftar kunjungan orang sehat untuk konsultasi gizi, sanitasi, atau cek darah meningkat," ujar Anas.


Anas menambahkan, di lokasi acara Diaspora Banyuwangi juga dihadirkan beragam usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Para diaspora bisa langsung melihat dan belanja oleh-oleh dari UMKM.

"Mengapa kita hadirkan UMKM langsung di lokasi pendopo ini? Padahal mereka juga punya gerai masing-masing dan bisa beli lewat online? Alasannya simple. Kita ingin membangun kedekatan. Bukan saja beli oleh-oleh, tapi kita bangun kesadaran untuk mencintai, membeli, dan mempromosikan produk Banyuwangi," imbuhnya.

"Kita di sini disatukan oleh rasa cinta kepada Banyuwangi. Maka dengan melihat produk UMKM, bapak ibu ribuan diaspora ini bisa ikut tergerak mempromosikan. Bahkan tidak menutup kemungkinan bermitra, berbisnis bersama," pungkasnya. (ega/ega)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED