Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 25 Sep 2019 22:15 WIB

TRAVEL NEWS

Media Asing Soroti Karhutla di Sumatera, Sebut-sebut Neraka

Ahmad Masaul Khoiri
detikTravel
Langit merah di Jambi (Foto: dok. Istimewa)
Langit merah di Jambi (Foto: dok. Istimewa)
Jakarta - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berkepanjangan bikin sebagian langit di Sumatera memerah. Media asing turut menyorotinya seraya menyebut-nyebut neraka.

Dilansir CNN, Rabu (25/9/2019), kabut merah menyelimuti provinsi Indonesia saat kebakaran hutan dan kabut asap memburuk. Itulah keadaan langit Jambi karena kabut beracun dan dianggap mempengaruhi penduduk di seluruh negeri.

"Is That Hell? Indonesia's Skies Turn Blood Red Due To Forest Fires," tulis Mashable.

Artinya kira-kira adalah "apakah ini neraka? Langit Indonesia memerah karena kebakaran hutan."




"Forest Fires Cause Skies In Indonesia To Turn A Hellish Red," kata iflscience.com.

Maknanya dapat diterjemahkan sebagai "api karhutla membuat langit Indonesia jadi kemerahan bagaikan neraka.

Sedangkan media Inggris Daily Mail menjuduli sebuah artikelnya, "Hellish red skies cover parts of Indonesia as the country is gripped by haze and smog caused by huge forest fires. Dapat diterjamahan sebagai "Langit merah bagaikan neraka menaungi sebagian langit Indonesia pada saat negara itu dilanda kabut asap akibat kebakaran hutan".

Video dan gambar yang beredar di media sosial menunjukkan desa-desa dan jalan raya sepenuhnya diselimuti oleh kabut merah menakutkan di tengah hari hingga awal pekan ini. Lebih dari 328.000 hektar (sekitar 800.000 hektar) lahan yang kaya secara ekologis telah terbakar di seluruh Indonesia dalam beberapa minggu terakhir.

Karhutla telah memaksa ratusan penduduk untuk mengungsi dan lebih dari 9.000 personil digerakkan untuk memerangi api. Langit merah yang tampak mengerikan itu disebabkan fenomena yang disebut Mie scattering atau hamburan Mie, yaitu hamburan cahaya oleh partikel yang ukurannya sama dengan panjang gelombang cahaya.

Kata Kepala LAPAN Thomas Djamaluddin, warna langit merah kekuningan itu disebabkan tebalnya asap sehingga cahaya Matahari tidak bisa seluruhnya menembus asap. Ia menduga cuma gelombang panjang (kuning dan merah) yang bisa menembusnya, lalu dihamburkan oleh partikel-partikel asap, sehingga langit terlihat berwarna merah kekuningan.




Thomas mengatakan fenomena ini juga bisa disebut Mie scattering atau hamburan Mie, yaitu hamburan cahaya oleh partikel yang ukurannya sama dengan panjang gelombang cahayanya.

Dalam laporan lebih lanjut, asap juga berdampak pada negara-negara tetangga, termasuk Malaysia dan Singapura. Pemerintah Malaysia telah mendistribusikan sekitar dua juta masker kepada siswa di daerah yang terkena dampak.

Aparat Indonesia mengatakan bahwa mayoritas kebakaran hutan disebabkan oleh faktor manusia. Menurut Polri, hampir 200 orang telah ditangkap karena dugaan keterlibatan mereka dalam kebakaran ini.

Kebakaran dan kabut asap merupakan masalah yang terus-menerus terjadi selama musim kemarau. Pembersihan lahan dengan cara membakar adalah untuk keperluan pertanian dan selama sekitar dua dasawarsa, perkebunan kertas dan kelapa sawit besar telah menggarap lahan gambut di sepanjang pantai Sumatra dan Kalimantan. Denda ratusan juta dan hukuman bertahun-tahun tak juga membuat jera. Api kebakaran hutan terus berkobar.






Simak Video "Kabut Asap Pekat Selimuti Jambi, Sekolah Diliburkan"
[Gambas:Video 20detik]
(msl/krs)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA