Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 10 Mar 2020 14:05 WIB

TRAVEL NEWS

Efek Corona, Hotel di Indonesia Ada yang Mulai Rumahkan Karyawan

Dadan Kuswaraharja
detikTravel
Hariyadi Sukamdani
Haryadi Sukamdani Foto: MarkPlus, Inc
Jakarta -

Penyebaran virus Corona di Indonesia telah menurunkan tingkat keterisian hotel atau okupansi hotel di Indonesia sampai ke level bawah. Ada hotel yang okupansinya di bawah 30 persen.

Untuk memangkas kerugian, hotel biasanya memangkas biaya operasional mulai dari biaya tenaga kerja dan listrik yang menjadi penyumbang terbesar biaya hotel. Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Haryadi Sukamdani menyebutkan sudah ada hotel yang telah melakukan pembicaraan dengan tenaga kerja soal giliran kerja dan sebagian lagi ada yang sudah merumahkan karyawannya.

"Kalau memang hotel tersebut mengalami penurunan sampai 30 persen mereka rata-rata tidak akan mungkin survive tanpa melakukan pemotongan biaya secara signifikan, salah satu yang biasa lakukan pemotongan adalah tenaga kerja, dan listrik. Biaya tenaga kerja dan listrik ini penyumbang terbesar biaya di sektor perhotelan. Sekarang kondisinya hotel sudah mulai melakukan pembicaraan dengan karyawan untuk mengambil posisi yang terbaik untuk semua pihak khususnya untuk keberlangsungan perusahaan, sebagian dari mereka menyepakati untuk bergiliran bekerja atau sebagian dirumahkan," ujarnya seperti dilansir dari CNBC Indonesia, Selasa (10/3/2020).

"Tergantung dari situasi dan kondisi hotel, ada yang masih survive di atas 30 persen tapi sebagian ada di bawah, kalau tren seperti ini, bukan tidak mungkin terjadi kondisi yang memang tidak bagus untuk semuanya sehingga kembali lagi masing-masing hotel atau perusahaan paling tahu kondisinya dan mereka biasanya mengacu pada peristiwa pada waktu krisis ekonomi tahun 1997-1998 mereka juga melakukan hal yang sama. Jadi kesepakatan antara perusahaan dan karyawan untuk bersama-sama menanggung kondisi yang berat itu," tambahnya.

Berdasarkan catatan Hariyadi hingga akhir Februari 2020, untuk Batam dan Bintan, tingkat keterisian hotel pada Januari dan Februari 2020 turun jadi 30-40% jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Rata-rata okupansi atau tingkat keterisian saat ini anjlok hanya berkisar 20-30%.

Para karyawan hotel bahkan banyak yang diminta untuk mengambil cuti. Menurutnya, kondisi ini akan memburuk jika sampai bulan April masih terjadi penurunan okupansi.

Selanjutnya, di Bali penurunan okupansi berkisar 60-80%, khususnya di daerah favorit Turis China yaitu Nusa Dua, Tuban dan Legian, Kuta. Hal ini juga disebabkan karena Turis China merupakan kontribusi wisman terbesar di Bali.

Rata-rata okupansi hotel saat ini hanya mencapai 30-40% dari kapasitas hotel. Okupansi hotel di daerah Ubud dan Sanur mengalami penurunan sebesar 20-30% karena di daerah tersebut didominasi oleh Turis Eropa dan Australia.

"Kalau kita melihat penurunan okupansi yang sangat besar, di Bali kalau tidak ada masalah Corona masih bisa jalan pada bulan Januari-Februari okupansinya sampai 70 persen. Kalau dia drop di bawah di bawah 30 persen, kerugiannya mencapai 50 persen," ujarnya.

Dengan turunnya okupansi, hotel pun terancam mengalami gagal bayar. "Begitu pendapatan turun lebih dari 50 persen perusahaan tidak sanggup mengikuti jadwal pembayaran yang ada," tutupnya.

[Gambas:Youtube]






Simak Video "Kasus WNI Positif Corona Kini Mencapai 309"
[Gambas:Video 20detik]
(ddn/wsw)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA