Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 26 Mei 2020 05:53 WIB

TRAVEL NEWS

2 Penjelajah Wanita Kena Lockdown di Arktik

Ahmad Masaul Khoiri
detikTravel
Penjelajah Kutub Utara, Hilde Falun Strom dan Sunniva Sorby
Gubug penjelajah di Kepulauan Svalbard, Kutub Utara (Foto: Hearts in the Ice/CNN)
Longyearbyen -

Sepasang penjelajah Kutub Utara, Arktik, terjebak di Kepulauan Svalbard, Norwegia. Mereka harus menjalani lockdown yang tak terduga.

Diberitakan CNN, mereka adalah Hilde Falun Strom dan Sunniva Sorby. Kedua wanita itu memulai ekspedisi yang telah lama direncanakan di Kepulauan Arktik Svalbard pada September lalu.

Tujuan utama mereka adalah mendorong kepekaan terhadap perubahan iklim di wilayah kutub. Setelah menghabiskan hampir sembilan bulan untuk mengumpulkan data dan sampel untuk para peneliti di daerah terpencil Basembu, tetangga terdekatnya sejauh 140 kilometer, mereka dijadwalkan pulang.

Namun, rencana mereka tiba-tiba gagal karena pandemi virus Corona. Sekarang pasangan itu akan tinggal di sana lebih lama, ditemani anjing mereka Ettra, beruang kutub, rusa kutub, dan angsa sampai sebuah kapal membawa mereka pulang.

Hawa luar biasa dingin, tak ada air, dan listrik 'byar-pet' harus mereka rasakan berbulan-bulan. Tapi, di sana adalah tempat terindah bagi sebagian orang, kata mereka melalui sambungan ponsel satelit.

Pasangan ini menggunakan tenaga surya dan kincir angin untuk pasokan listriknya.

Strom dan Sorby menghabiskan dua tahun perencanaan proyek yang dikenal dengan nama 'Hearts in the ice'. Itu membuat mereka menjadi wanita pertama dalam sejarah yang mengalami musim dingin di Kutub Utara tanpa anggota tim pria.

Penjelajah Kutub Utara, Hilde Falun Strom dan Sunniva SorbyPenjelajah Kutub Utara, Hilde Falun Strom dan Sunniva Sorby (Foto: Hearts in the Ice/CNN)

Selama berada di Basembu, keduanya telah mengumpulkan berbagai data. Ada data cuaca dan satwa liar, pemantauan awan, es laut, dan organisme untuk lembaga internasional seperti Institut Kutub Norwegia dan NASA.

Keduanya telah saling kenal selama sekitar enam tahun. Mereka telah mengalami hidup dalam kegelapan total selama tiga bulan.

Mereka hidup begitu dekat, 24 jam seminggu di ruang kecil bersama. Mereka tinggal di kabin yang dibangun untuk pemburu paus di tahun 1930-an.

Mereka lebih berguna di pedalaman Kutub Utara

Akses teknologi memang sulit mereka akses selama di Basembu. Strom dan Sorby, yang keduanya bekerja di pariwisata Kutub Utara, tetap mengikuti perkembangan COVID-19 dari tim media sosialnya.

Keluarga hingga teman mereka sudah mengumpulkan dana untuk penjemputan di awal Mei lalu. Namun, hal itu mesti dibatalkan karena virus Corona.

Penjelajah Kutub Utara, Hilde Falun Strom dan Sunniva SorbyKutub Utara di Kepulauan Svalbard (Foto: Hearts in the Ice/CNN)

Penjelajah belum pindah dari lokasi yang sama dalam waktu hampir sembilan bulan. Meski kecewa, mereka berdua yang telah menulis buku tentang pengalamannya itu, bertekad untuk memanfaatkan waktu sebaik-baiknya dan bertahan di Basembu hingga September mendatang untuk melanjutkan pekerjaan.

"Kami memiliki tujuan ketika kami pergi dan kami akan melanjutkan itu. Kami merasa lebih berguna di sini daripada di rumah. Tapi itu sulit, karena kita tidak bersama keluarga dan teman-teman kita," kata Strom.

Sorby mengatakan bahwa mereka berada dalam posisi yang baik karena tak terimbas langsung dari virus Corona.

Konflik pariwisata Kutub Utara dan perubahan iklimnya>>>

Selanjutnya
Halaman
1 2
BERITA TERKAIT
BACA JUGA