Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 13 Jul 2020 19:55 WIB

TRAVEL NEWS

Permintaan Wisata Baduy Jadi Saba Budaya, Pemerintah Lebak Oke

Bahtiar Rifa'i
detikTravel
Suku Baduy terkenal dengan adatnya yang masih sangat kental. Tinggal di tengah gunung, mereka menjalankan aktifitasnya dengan cara yang sangat tradisional.
Sebutan saba budaya sudah diatur dalam Peraturan Desa nomor 1 2007 tentang Saba Budaya dan Perlindungan Masyarakat Adat Tatar Kanekes (Baduy). (Rafida Fauzia/detikcom)
Lebak -

Polemik Baduy yang meminta dihapus dari destinasi wisata nasional memasuki babak baru. Dinas Pariwisata Lebak menyepakati usulan perubahan istilah pariwisata Baduy menjadi saba budaya.

Keputusan itu merujuk kepada Peraturan Desa nomor 1 2007 tentang Saba Budaya dan Perlindungan Masyarakat Adat Tatar Kanekes (Baduy). Sebetulnya, aturan it sudah dipegang oleh lembaga adat.

"Terkait tuntutan penghapusan istilah nama wisata adat Baduy diganti saba budaya ternyata sudah tertuang di Perdes dan kami clear, di kami nomenklaturnya saba budaya Baduy," kata Kadispar Lebak Imam Rismahayadin, Lebak, Senin (13/7/2020).

Istilah ini memang kurang disosialisasikan dan pengunjung ke sana menggunakan istilah wisata. Ini juga yang tidak diketahui oleh pengunjung belakangan apalagi milenial.

"Ini PR (pekerjaan rumah), kami akan buat regulasi SOP nanti koordinasi dengan Kemenpar dan stakeholder lainnya," ujarnya.

Akibat ada polemik penutupan Baduy sebagai destinasi wisata, katanya jadi momen untuk pembenahan. Mulai dari perlunya pemahaman bersama bahwa berkunjung ke Baduy bukannya untuk berwisata tapi bertamu ke masyarakat adat.

Ke depan yang juga penting lanjut Imam adalah penataan pemandu yang akan berkunjung ke Baduy, larangan buang sampah sembarangan dan perlunya ruang informasi komprehensif soal masyarakat adat.

"Ke depan saba budaya Baduy tertib sesuai Perdes, ke sini (Baduy) untuk silaturahmi karena Baduy bukan tontotan tapi tuntunan," kata dia.

Di tempat sama, pemerhati dan salah satu perancang Perdes soal Baduy Uday Suhada menambahkan di Perdes 1 2007 sebetulnya ditulis betul bagaimana aturan kunjungan ke Baduy. Baik itu untuk silaturahmi, riset atau untuk bahkan kepentingan jurnalistik.

"Kalau silaturahmi ke mana, tanda (masuknya) beda, kalau riset, penelitian tandanya beda," ujarnya.

Konsep saba budaya pun tertulis jelas di Perdes tersebut. Di sana ada pengertian silaturahmi dan saling menghargai adat istiadat tuan rumah. Baduy sendiri selama ini tidak pernah melakukan penolakan pada tamu yang berkunjung.

"Lebih dari itu, saba melindungi antara tamu dengan tuan rumah. Beda perspektif dengan wisata, wisata jadi tontonan. Padahal harusnya jadi tuntunan dalam berbagai hal. Contohnya, ketahanan pangan, kasarnya ada paceklik, sewindu di Baduy nggak ada kelaparan," ujarnya.



Simak Video "Harapan di Balik Surat Penghapusan Baduy dari Objek Wisata ke Jokowi"
[Gambas:Video 20detik]
(bri/fem)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA