Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 14 Jul 2020 17:40 WIB

TRAVEL NEWS

Usai Sudah Masa Liburan Paus dan Lumba-lumba

Femi Diah
detikTravel
Common dolphins swim close to a boat carrying an environmentalist team working to protect Cetaceans in the Mediterranean Sea near La Ciotat, southern France, on June 23, 2020. (Photo by Christophe SIMON / AFP)
Foto: AFP/CHRISTOPHE SIMON
Paris -

Masa senang-senang paus dan lumba-lumba di laut mediterania usai. Itu seiring dibukanya wisata dan operasional kapal-kapal besar kendati pandemi virus Corona belum berakhir.

Pandemi virus Corona memaksa turis-turis Eropa berdiam di rumah. Di saat bersamaan, hiu dan lumba-lumba di pesisir Mediterania menikmati periode itu dengan bebas mencari makan dan menemukan kedamaian.

Situasi itu dinikmati paus dan lumba-lumba sebentar saja. Kini, setelah pembatasan perjalanan dilonggarkan dan penguncian wilayah dicabut, ketenangan para penghuni laut menjadi seperti yang lalu-lalu, terusik.

Taman bermain paus dan lumba-lumba itu kembali dikunjungi wisatawan. Kapal-kapal yang bising dan berat juga kembali beroperasi.

salah satunya, di kota terbesar kedua di Prancis, Marseille. Kota pelabuhan yang dulunya merupakan habitat alami banyak satwa liar, kini ramai dengan pelancong.

"Setelah kapal-kapal mulai berdatangan lagi, kami menyaksikan video yang benar-benar mengganggu kami," kata Marion Leclerc dari organisasi konservasi Souffleurs d'Ecume (Sea Foam Blower) seperti yang dikutip AFP, Selasa (14/7).

Dalam sebuah video, terlihat tiga remaja melompat dari kapal yang berlayar dekat paus bungkuk sambil mengenakan masker snorkeling. Leclerc bilang aksi itu tak cuma sangat berbahaya bagi manusia, namun untuk hewan.

"Kita bicara tentang binatang yang beratnya 70 ton," ujar dia.

"Banyak yang lupa bahwa Mediterania juga merupakan rumah, tempat hewan beristirahat, mencari makan, dan bereproduksi," Leclerc menambahkan.

Ya, Mediterania merupakan rumah bagi lebih dari 10 ribu spesies fauna laut atau 1 persen dari seluruh lautan di Bumi. Tetapi, laut yang memisahkan Afrika dari Eropa itu juga merupakan jalur pelayaran 25 persen lalu lintas laut dunia.

Kapal-kapal itu juga berpotensi tabrakan fatal dengan mamalia laut. Padahal, dari 87 mamalia laut di dunia yang terdaftar oleh PBB, 21 telah terlihat di Mediterania. Sebagian besar dari mereka dianggap berisiko punah.

"Itu adalah penyebab pertama kematian tidak alami untuk cetacea (paus)," kata Leclerc.

"Kita perlu mengurangi kecepatan kita dan menempatkan diri kita sejajar dengan lintasan mereka demi menghindari memotong jalan mereka. Mereka datang dan bermain jika mereka mau," Laurene menambahkan.

Proyek penelitian Quiet Sea juga melihat jumlah hidrokarbon - komponen utama bensin - berkurang separuh selama lockdown (penguncian wilayah).

"Lockdown benar-benar baik untuk keanekaragaman hayati, secara tidak langsung untuk semua rantai makanan," kata Glotin.

Apalagi, tidak ada hukum internasional yang mengikat yang mewajibkan pemilik kapal untuk melestarikan habitat alami mamalia laut. Tapi, sejak 2017, Prancis mewajibkan kapal yang lebih dari 24 meter dan berlayar di Suaka Pelagos untuk memiliki peralatan pendeteksi aktivitas mamalia laut.



Simak Video "Aksi Sekelompok Paus Bermigrasi Bersama Kawanan Lumba-lumba"
[Gambas:Video 20detik]
(fem/sym)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA