Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 05 Agu 2020 19:08 WIB

TRAVEL NEWS

Genjot Pariwisata, Jepang Dianggap Tergesa-gesa?

Bonauli
detikTravel
Wisata hiburan malam di Jepang terapkan sejumlah protokol kesehatan yang ketat bagi para pengunjung guna mencegah COVID-19. Apa saja aturannya?
Wisata malam Jepang diperketat (Getty Images/Takashi Aoyama)
Tokyo -

Jepang sudah menjalankan pariwisata domestik dan menerima kunjungan turis dari beberapa negara. Para ahli mengatakan bahwa keputusan ini sangat tergesa-gesa.

Seperti kita tahu, Jepang tak seperti negara lain. Di sana tak ada lockdown di tengah pandemi virus Corona. Pemerintah Jepang lebih memilih status darurat untuk warganya dari awal pandemi hingga akhir Mei. Wisatawan domestik dianggap jawaban untuk meningkatkan perekonomian yang turun drastis.

Status darurat dicabut, Bulan Juni berbagai restoran, bar dan obyek wisata dibuka kembali. Namun tindakan Jepang ini dinilai tergesa-gesa oleh para ahli.

Hal ini dibandingkan second wave atau pandemi gelombang kedua di Hong Kong, Australia dan Vietnam. Para ahli mengatakan harusnya Jepang seperti Singapura yang berhati-hati dalam membuka industri pariwisata.

Kampanye pariwisata Jepang yang sudah digenjot dinilai menjadi penyebab virus yang terus-menerus meningkat. Wisatawan domestik memang mematuhi jaga jarak dan penggunaan masker.

Namun saat berkumpul dan mengobrol kebanyakan pengunjung tidak menggunakan masker. Sehingga ini dinilai sebagai salah satu faktor meningkatnya kembali kasus Corona.

Kota Tokyo menyiasati ini dengan mempersingkat jam operasional restoran, bar, dan karaoke. Jika tidak, Gubernur Tokyo Yuriko Koike bahkan mengancam akan mengumumkan status darurat kembali untuk Tokyo.

Pemerintah Osaka telah meminta warganya dan wisatawan untuk menahan diri untuk tidak makan dalam jumlah lebih dari 5 orang di satu kelompok. Sementara Okinawa kembali mengumumkan status daruratnya.

"Pemerintah pusat belum menunjukkan panduan dan strategi yang jelas tentang apa yang harus dilakukan di masa pandemi dan sedang mendorong tanggung jawab kepada pemerintah daerah," kata Haruka Sakamoto, seorang peneliti kesehatan masyarakat di Universitas Tokyo.

Kepala Asosiasi Medis Tokyo, Haruo Ozaki meminta pemerintah untuk merevisi undang-undang. Sehingga secara hukum dapat menutup tempat-tempat bisnis yang kini mulai ramai didatangi wisatawan.

"Ini adalah kesempatan terakhir kami untuk mengurangi penyebaran infeksi," tambahnya.

Kasus virus Corona di Jepang mencapai 1.000 infeksi baru dalam lima hari terakhir. Jumlah infeksi di atas 1.500 kasus pada dua hari terakhir.



Simak Video "Menikmati Alam Hingga Spot Instagramable di Kota Kembang"
[Gambas:Video 20detik]
(bnl/bnl)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA