Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 01 Sep 2020 09:10 WIB

TRAVEL NEWS

Wakatobi dan Raja Ampat Buka Wisata Saat Pandemi, Kok Berani?

Femi Diah
detikTravel
Bawah laut Raja Ampat
Bawah laut Raja Ampat (Getty Images/LuffyKun)
Jakarta -

Wakatobi dan Raja Ampat sama-sama mulai membuka gerbang wisata, terutama selam, kendati pandemi virus Corona belum benar-benar usai. Sebuah perjudian besar.

Wisata Wakatobi di Sulawesi Tenggara dan Raja Ampat di Papua Barat mati suri sejak Maret 2020 karena wabah COVID-19. Padahal, wisata merupakan tumpuan kas dua daerah itu.

Bagi Wakatobi, pemasukan dari wisata, pajak dan retribusi, mencapai 30 persen dari pendapatan daerah. Sejak wisata mati karena Corona, telah terdampak kepada 385 orang karyawan dirumahkan, bandara ditutup sementara kecuali pada penerbangan charter, 624 unit usaha pariwisata tidak beroperasi, 344 pelaku usaha ekonomi kreatif tidak berproduksi, enam event dibatalkan, dan 27 objek wisata ditutup sementara.

Sejak 1 Juli wisata Wakatobi telah beroperasi kembali, namun belum menunjukkan tanda-tanda kedatangan wisatawan. Utamanya, untuk wisata selam.

"Kami sudah menjalani periode abnormal enam bulan terakhir," kata Noval Monali, sekretaris Dinas Pariwisata Kabupaten Wakatobi, dalam webinar Adaptasi Kebiasaan baru Wisata Selam di Masa Pandemi COVID-19.

Kendati telah dibuka sejak awal Juli, wisata selam di Wakatobi masih nol. La Ode Amaluddin, ketua Wakatobi Profedsional Diver Association (WPDA), bahkan menyebut tak ada pemesanan wisata diving Oktober nanti.

"Wakatobi mengikuti aturan pemerintah. Secara perlahan kami yang di lapangan, khususnya di dive operator, telah memulai menyiapkan yang harus disiapkan andai nanti tamu-tamu datang," kata Amaluddin.

Membuka lagi wisata saat new normal karena wabah Corona bukanlah hal mudah. Sebab, seluruh pengelola dan wisatawan harus sama-sama mengubah kebiasaan beradaptasi dengan new normal.

Di antaranya, penyelam disarankan untuk membawa sendiri peralatan yang terhubung langsung dengan badan wisatawan, di antaranya snorkel dan masker. Selain itu, wisatawan diminta untuk membawa perlengkapan kesehatan pribadi. Begitu pula dengan pengelola dive center, termasuk guide.

"Apalagi, justru tantangannya adalah habit. Dulu saat situasi normal kita tidak perlu memakai masker, kebiasaan memakai masker bukan hal yang mudah diterapkan. Sesederhana itu yang perlu dibiasakan," ujar dia.

Wisata Raja Ampat dibuka lebih lambat, mulai 22 Agustus untuk wisatawan domestik. Kendati menyadari risiko besar yang dihadapi dengan membuka wisata saat pandemi, pemerintah Papua Barat optimistis penerapan protokol kesehatan dengan ketat bakal membantu memutus rantai penularan COVID-19.

"Kita harus hati-hati. Satu kuncinya kita harus menerapkan protokol kesehatan. Semua orang harus disiplin kesehatan agar kita bisa melewati dengan baik," kaya Kepala Dinas Pariwisata Raja Ampat sekaligus Sekretaris Tim Gugus Tugas COVID-19 Raja Ampat, Yusdi Lamatenggo.

"Makanya Raja Ampat meminta wisatawan melakukan registrasi online dan harus mengikuti semua ketentuan, kalau tidak bakal ada sanksi. Dengan sanksi itu maka akan lebih hati-hati. Kami juga mengutamakan pembukaan wisata outdoor," Yusdi menambahkan.

(fem/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA