Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Minggu, 27 Sep 2020 06:10 WIB

TRAVEL NEWS

Hari Pariwisata Dunia Saat Traveling Jadi Perkara Rumit

Femi Diah
detikTravel
Bawah laut Raja Ampat
Foto: Getty Images/LuffyKun
Jakarta -

Hari pariwisata dunia jatuh tepat hari ini, 27 September. Perayaan ke-40 tahun itu ditandai dengan keprihatinan mendalam di sektor itu sebagai imbas wabah virus Corona.

Hari pariwisata tahun ini bertema "Tourism and Rural Development" atau pariwisata dan pembangunan pedesaan. Terlepas dari tema yang dipilih, perayaan hari pariwisata dunia tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya.

Tahun ini, hari pariwisata dunia ditandai dengan wabah virus Corona. Wabah yang bikin traveling sulit untuk dilakukan, bahkan sekadar untuk menuju kota lain dalam satu negara.

Travel influencer Agustinus Wibowo menilai wabah itu menjadi cerminan sulitnya bepergian di masa lampau. Waktu itu, traveler masih terkendala transportasi dan teknologi.

"Saya menjadi lebih mensyukuri kalau kita bisa melakukan perjalanan itu adalah satu hak istimewa sebuah hak istimewa banget, bagi generasi kita," ujar Agustinus dalam wawancara dengan detikTravel beberapa waktu lalu.

Ya, pariwisata menjadi sebuah perkara rumit saat ini. Boleh dibilang pariwisata lumpuh kini.

Perbatasan negara ditutup, yang berimbas langsung kepada penerbangan, juga hotel. Selain itu, taman hiburan dan taman nasional ditutup.

Penutupan penerbangan, pembatasan operasional hotel, dan taman hiburan itu pun kemudian mempengaruhi para pekerja di dalamnya, Pilot, pramugari, pegawai restoran dan cafe, juga taman hiburan pun menganggur.

Badan Pariwisata Dunia (UNWTO) belum lama merilis, dalam paruh pertama tahun 2020, kunjungan turis internasional turun 440 juta orang. Jumlah kunjungan yang minim itu berakibat pada penurunan pendapatan dunia turis sampai USD 460 miliar atau sekitar Rp 6.800 triliun.

"Angka ini lima kali lebih besar dari kerugian yang dialami dunia pariwisata pada tahun 2009 akibat krisis ekonomi global dan keuangan saat itu," tulis laporan UNWTO.

Dari sisi kawasan, Asia Pasifik merupakan kawasan yang paling terkena cukup parah dengan penurunan sampai 72 persen selama paruh pertama 2020. Disusul Eropa dengan penurunan 66 persen, Afrika dan Timur Tengah turun 57 persen, Amerika turun 55 persen.

Selain itu, krisis pariwisata juga mengancam inisiatif konservasi satwa liar dan perlindungan warisan budaya dunia. Turunnya pendapatan pariwisata secara tiba-tiba telah memotong pendanaan untuk konservasi keanekaragaman hayati.

Dengan mata pencaharian yang terancam di dalam dan sekitar kawasan lindung, kasus perburuan dan penjarahan diperkirakan akan meningkat. Dengan 90 persen Situs Warisan Dunia ditutup akibat pandemi, warisan budaya umat manusia terancam di semua bagian dunia.

"Pada Hari Pariwisata Dunia ini, pandemi COVID-19 merupakan peluang untuk memikirkan kembali masa depan sektor pariwisata, termasuk bagaimana kontribusinya terhadap tujuan pembangunan berkelanjutan, melalui nilai sosial, budaya, politik, dan ekonominya," begitulah harapan yang ditulis PBB dalam situs resmi.

"Pariwisata pada akhirnya dapat membantu kita keluar dari pandemi, dengan menyatukan orang dan mempromosikan solidaritas dan kepercayaan, bahan penting dalam memajukan kerja sama global yang sangat dibutuhkan saat ini."

Segera pulih pariwisata dunia!



Simak Video "Wisata Kincir Angin Kinderdijk Negeri Belanda "
[Gambas:Video 20detik]
(fem/fem)
BERITA TERKAIT