Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 02 Okt 2020 17:41 WIB

TRAVEL NEWS

7 Fakta Batik yang Perlu Traveler Ketahui

Femi Diah
detikTravel
Selain memproduksi batik, Rumah Batik Palbatu di kawasan Jakarta Selatan, juga mempekerjakan disabilitas sebagai pegawai. Yuk, intip aktivitasnya.
Fakta tentang batik di hari batik nasional (Agung Pambudhy/detikFOTO)
Jakarta -

Hari ini, 2 Oktober, Indonesia memperingati Hari Batik Nasional. Berikut tujuh fakta yang perlu diketahui traveler tentang batik.

Batik merupakan salah satu kain khas Indonesia. Bermula sebagai pakaian bangsawan, kini batik pas dipakai untuk berbagai acara.

Berikut tujuh fakta tentang batik mumpung pas Hari Batik Nasional:

1. Amba dan Nitik

Batik berasal dari amba dan tik atau nitik. Amba berarti lebar atau luas sedangkan tik atau nitik berarti titik. Batik merupakan menulis pada kain yang lebar.

Pembatik menggunakan canting yang ujungnya kecil untuk menulis titik-titik pada batik yang nantinya membentuk pola tertentu. Canting sendiri berisi cairan lilin yang panas.

2. Berasal dari India atau Sri Lanka

Pendapat ini disampaikan oleh peneliti, penjelajah, sekaligus pustakawan dari Belanda, G.P Rouffer, batik memang dari bahasa Jawa, namun teknik membatik kemungkinan berasal dari India atau Sri Lanka pada abad ke-6 atau ke-7.

3. Pakaian Bangsawan

Batik awalnya cuma dipakai di lingkungan keraton, namun lama-lama juga dipakai oleh masyarakat. Batik bisa keluar dari keraton karena pembatik kerajaan sering membawa pulang pekerjaan ke rumah.

4. Sejak Zaman Majapahit

Batik diperkirakan sudah ada sejak zaman Majapahit kemudian dikembangkan pada masa Kerajaan Mataram. Dikutip dari jabarprov.go.id batik telah menjadi kebudayaan di kerajaan Majapahit, seperti di Mojokerto dan Tulung Agung. Mojokerto menjadi pusat kerajaan Majapahit waktu itu.

Nah, Tulung Agung mengikuti menggunakan batik setelah penguasa Bonorowo, Adipati Kalang, tewas dalam pertempuran dengan Majapahit. Sejak saat itu, prajurit yang tinggal di wilayah Tulung Agung mulai membawa budaya batik dari Majapahit.

Dalam perkembangannya, batik Mojokerto dan Tulung Agung banyak dipengaruhi oleh batik Yogyakarta dengan tampilan dasarnya putih dan warnanya cokelat muda, serta biru gelap. Sebab, selama bentrokan tentara kolonial Belanda dengan pasukan Pangeran Diponegoro, beberapa pasukan Kyai Mojo mengundurkan diri ke arah timur di daerah Majan.

5. Zaman Penyebaran Islam

Bermula dari pernikahan putri keraton Solo dengan Kyai Hasan Basri yang kemudian tinggal di Tegal Sari. Pengiring dan keluarga keraton Solo, yang biasa memakai batik, belajar di pesantren milik sang kyai.

Jejak batik dalam penyebaran Islam itu bbisa dilihat di daerah Kauman, yaitu Kepatihan Wetan sekarang. Dari sini, batik meluas ke desa-desa seperti Ronowijoyo, Mangunsuman, Kertosari, Setono, Cokromenggalan, Kadipaten, Nologaten, Bangunsari, Cekok, Banyudono, dan Ngunut.

Waktu itu, bahan membatik berasal dari buatan dalam negeri, berupa kayu-kayuan antara lain pohon tom, mengkudu, kayu tinggi. Begitu pula dengan bahan kain putih berasal dari tenunan gendong. Kain putih import bam dikenal di Indonesia kira-kira akhir abad ke-19.

6. Masuk Batik Cap

Batik cap dikenal setelah perang dunia I oleh seorang China Kwee Seng dari Banyumas

7. Hari Batik oleh UNESCO

Pada 2 Oktober 2009, UNESCO menetapkan batik sebagai Warisan Budaya Tak Benda dalam sidang di Abu Dhabi. Batik adalah teknik menghias yang mengandung nilai, makna, dan simbol budaya.



Simak Video "Keseruan Pelajar di Majalengka Belajar Beragam Motif Batik"
[Gambas:Video 20detik]
(fem/fem)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA