Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 11 Nov 2020 12:50 WIB

TRAVEL NEWS

Kunjungan ke 7 Ereveld Naik Pesat, OGS: Makin Banyak yang Tertarik Sejarah

Yudha Maulana
detikTravel
Lantunan lagu Auld Lang Syne mengiringi peringatan jatuhnya ribuan korban perang yang dimakamkan di Ereveld Pandu, Kota Bandung pada Selasa (10/11/2020). Suara khas yang keluar dari lubang doedelzak (bagpipes) atau tas pipa membuat peringatan bersama yang dilakukan Lokra dan Oorlogsgraven Stichting Indonesie semakin syahdu.
Ereveld Pandu, Bandung (Yudha Maulana/detikTravel)
Bandung -

Kunjungan ke tujuh Ereveld yang berada di Indonesia meningkat pesan dalam kurun waktu enam tahun terakhir. Ereveld merupakan tempat peristirahatan bagi para korban perang pada masa kependudukan Jepang dan agresi militer.

Tak hanya orang Eropa yang dimakamkan di lahan istimewa yang dikelola yayasan pemakaman dari Belanda, Oorlogsgravenstichting (OGS) itu. Tetapi juga pribumi yang nyawanya terenggut dalam peperangan.

Tahun 2019 lalu, terdapat 20 ribu kunjungan per tahun ke tujuh Ereveld yang berada di Indonesia. Jumlah itu terus meningkat dari tahun 2013 yang hanya mencapai lima ribu kunjungan per tahun.

pemakamanDirektur OGS Indonesia, Robbert van de Rijdt (Randy/detikTravel)

Direktur OGS Robbert van de Rijdt, mengatakan sejak ia tiba di Indonesia pada 2013 lalu, kebanyakan pengunjung kebanykan berasal dari mancanegara seperti Belanda, Amerika, dan Australia. Sedangkan sisanya berasal dari Indonesia.

"Ada 5.000 orang mengunjungi tujuh Ereveld. 4.000 orang Belanda, Amerika dan Australia dan 1.000 orang sisanya dari Indonesia," ujar Robbert saat ditemui detikTravel di Ereveld Pandu, Kota Bandung, ditulis Rabu (11/11/2020).

Ia mengatakan, jumlah pengunjung naik drastis pada tahun lalu ke angka 20 ribu, yang dimana 16 ribu pengunjung berasal dari Indonesia dan sisanya berasal dari mancanegara.

"Yang dimana 16 ribu orang Indonesia yang tertarik dengan sejarah, karena ini penting. Ereveld buka semua, bunyikan belnya kita buka," ucap Robbert.

Lantunan lagu Auld Lang Syne mengiringi peringatan jatuhnya ribuan korban perang yang dimakamkan di Ereveld Pandu, Kota Bandung pada Selasa (10/11/2020). Suara khas yang keluar dari lubang doedelzak (bagpipes) atau tas pipa membuat peringatan bersama yang dilakukan Lokra dan Oorlogsgraven Stichting Indonesie semakin syahdu.Lantunan lagu Auld Lang Syne mengiringi peringatan jatuhnya ribuan korban perang yang dimakamkan di Ereveld Pandu, Kota Bandung pada Selasa (10/11/2020). Suara khas yang keluar dari lubang doedelzak (bagpipes) atau tas pipa membuat peringatan bersama yang dilakukan Lokra dan Oorlogsgraven Stichting Indonesie semakin syahdu (Yudha Maulana/detikTravel)

Menurutnya, ada alasan kenapa pagar Ereveld selalu tampak tertutup. Meski, kenyataannya Ereveld selalu terbuka pada jam kerja. "Kenapa ditutup, karena di Surabaya ada kambing masuk, di Jakarta ditutup karena orang-orang memarkirkan kendaraan mereka untuk belanja di mal," katanya.

"Jadi di sini, hanya bunyikan belnya kita buka. Tujuh hari seminggu buka, jam 7 - 5 sore. Tidak perlu reservasi, tinggal datang. Untuk semua Ereveld gratis, tidak usah bayar tiket," ucapnya menambahkan.

Saat ini terdapat tujuh Ereveld di nusantara yang tersebar di Jakarta, Bandung Raya, Semarang dan Surabaya. Dari tujuh pemakaman tersebut, disemayamkan sedikitnya 25.000 ribu korban perang yang berasal dari berbagai suku, ras dan agama.



Simak Video "Menyusuri 10 Stilasi Bukti Peristiwa Bandung Lautan Api"
[Gambas:Video 20detik]
(rdy/rdy)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA