Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 26 Jan 2021 16:19 WIB

TRAVEL NEWS

Wuhan Dulu Trauma, Sekarang Bersyukur, Anak Muda Bisa Clubbing Lagi

Sebagian besar kehidupan di Wuhan telah kembali normal, bahkan ketika seluruh dunia masih bergulat dengan penyebaran varian virus corona baru penyebab Covid-19 yang lebih menular.
Kehidupan kembali normal di Wuhan usai lockdown tahun lalu Foto: Getty Images
Wuhan -

Setahun setelah karantina yang mengunci kehidupan 11 juta orang, kehidupan di Wuhan hampir kembali ke kondisi normal.

Satu tahun silam, tepatnya pada 23 Januari 2020, karantina wilayah pertama untuk mencegah penyebaran virus corona diterapkan di Wuhan. Kota di Provinsi Hubei ini diyakini sebagai awal mula penyebaran virus Corona. Karantina total itu berlangsung selama 76 hari.

Dunia saat itu dibikin terkejut dengan langkah China yang memutus total Wuhan. Penerbangan, kereta api dan bus yang meninggalkan Wuhan dibatalkan. Jalan raya diblokir dan warga diperintahkan untuk diam di rumah.

Mereka hanya mengandalkan petugas dari pemerintah dan sukarelawan untuk kebutuhan sehari-hari. Sangat sulit bagi masyarakat terutama pasien rumah sakit yang membutuhkan pertolongan.

Lockdown Bikin Trauma

Mengutip BBC, Selasa (26/1/2021) yang pasti, peristiwa setahun terakhir menimbulkan dampak psikologis, begitu kata beberapa warga Wuhan. Beberapa di antara mereka cemas jika terbukti berbicara dengan media internasional.

"Pandemi pasti menimbulkan dampak, walau itu tidak terlihat di permukaan," kata warga Wuhan bernama Han Meimei.

"Tapi pastinya trauma mendalam dialami banyak orang di kota ini, termasuk banyak hal tahun lalu yang tidak ingin saya lihat sampai sekarang," ujarnya.

Namun, ada pula warga yang menilai kebijakan China menangani pandemi lebih baik daripada kebanyakan negara lain. Ini dikatakan beberapa warga Beijing kepada BBC baru-baru ini.

Warga China lainnya menyebut rasa persatuan dan hubungan yang lebih baik kini terjalin di masyarakat.

"Sebelum pandemi, semua orang tampak agak pemarah, sering terburu-buru, tapi setelah pandemi, mereka menjadi lebih bersyukur atas kehidupan dan jauh lebih ramah," kata mahasiswa di Wuhan, Li Xi.

"Bencana seperti ini sebenarnya mempertemukan lebih banyak orang. Jika orang ada di sana, kota itu masih ada," ujar Han.

Kalangan Muda 'Balas Dendam' di Klub Malam

Sementara itu kehidupan malam pun kembali berdenyut kencang. Kalangan muda sepertinya tengah balas dendam setelah setahun mengalami lockdown.

Di sebuah klub malam di pusat kota Wuhan, Super Monkey, pengunjung hanya diminta untuk mengenakan masker dan dicek suhunya. Jika ada yang lebih dari 37,3 derajat celcius mereka bisa ditolak masuk. Tidak ada dress code yang diminta pengelola klub malam.

"Saya terkurung di rumah selama 2-3 bulan. Negara ini melawan virus dengan baik. Saya bisa keluar dengan tenang," ujar seorang pria bernama Xu kepada AFP.

Sementara itu mengutip CNN, setidaknya 3.869 warga Wuhan meninggal karena virus yang juga menginfeksi jutaan orang lainnya di dunia.



Simak Video "Lab Wuhan Terus Dikaitkan dengan Asal Corona, Apa Kata Tim WHO?"
[Gambas:Video 20detik]
(ddn/iah)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA