Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Minggu, 14 Mar 2021 11:08 WIB

TRAVEL NEWS

Ada Taksi Terbang di Bandara Soekarno Hatta Sampai Gunung Emas Kongo

Tim
detikTravel
Heliport Cengkareng
Helikopter (Syanti/detikcom)
Jakarta -

Bandara Soekarno Hatta kini punya taksi terbang alias helikopter. Sementara di Kongo baru ditemukan sebuah gunung emas.

"Cengkareng Heliport atau kita menyebutnya CHP menjadi satu-satunya heliport yang berada di samping Bandara Soetta, bandara terbesar di Indonesia. Ini sebagai kelengkapan moda transportasi alternatif menuju bandara yaitu dengan helikopter," ungkap Denon Prawiraatmadja, CEO PT Whitesky Aviation

Ide pelayanan taksi terbang itu meniru negara lain dan sudah dirancang sebelum pandemi Covid-19.

"Sebelum Covid-19, penumpang di Bandara Soekarno Hatta mencapai 60 juta orang dan diharapkan dengan ditambahnya runaway ketiga akan menyentuh 100 juta penumpang per tahunnya jika tidak terjadi Covid-19. Dan, mode transportasi menuju bandara akan sangat baik jika kita menyediakan multi moda menuju ke bandara," kata Denon.

Heliport CengkarengHeliport Cengkareng Foto: (Syanti/detikcom)

"Itu seperti kota dan negara maju, contohnya Amerika Serikat, Brazil, Prancis, New Zealand dimana kebanyakan airport besar ada heliportnya," dia menambahkan.

"Inilah konsep yang diajukan Whitesky ke angkasa Pura II dan Alhamdulillah disambut baik hingga Bandara Soetta mempunyai alternatif moda connectivity dari airport menuju sekitar Jakarta, Cirebon, Bandung dan sekitarnya," Denon menjelaskan.

Heliport Cengkareng baru selesai dibangun pada Agustus 2020. Adapun luas lahannya 3 hektar dengan 7 parkir area dan berkapasitas 40 helikopter. Ada tiga armada yang beroperasi di Cengkareng Heliport.

Denon menyebut siapapun bisa menggunakan taksi terbang ini. Utamanya, mereka yang membutuhkan fleksibilitas waktu dan kecepatan.

"Segmen market kita direntang Rp 8-20 jutaan. Biaya ini belum masuk untuk biaya take off dan landing, ya. Landing di hotel itu satu kali kena Rp 5 juta, masuk ke Cengkareng Rp 5 juta juga. Jadi, bisa kena Rp 30 juta. Dari situ kita bisa menyasar kepada penumpang yang butuh fleksibilitas waktu dan kecepatan," ujar dia.

Kendati harga sewa taksi terbang itu cukup wow, Denon optimistis layanan tersebut bakal laris. Sebab, ada situasi tertentu yang menuntut kecepatan.

"Fungsi lain juga untuk medical atau emergency. Bicara soal kesehatan atau kebutuhan mendadak, atau bencana ini menjadi priceless, artinya nilai berapapun tidak menjadi permasalahan," kata Denon.

"Contohnya, beberapa kali kami mendapatkan permintaan dari salah satu pengguna dari wilayah Cirebon dalam keadaan sakit dan perlu diangkut ke Jakarta. Hal seperti inilah yang ditawarkan dari sisi Bandara Soetta," dia menambahkan.

Denon berharap nilai rupiah stabil terhadap USD. Sebab, banyak bagian dari helikopter dan layanan penerbangan privat itu diimpor.

"Ini berarti taksi terbang helikopter bukan hanya untuk VIP, memang yang premium dampaknya adalah nilai tukar. Spare part masih impor karena memang produk helikopter semua dari luar," ujar Denon.

"Kami harus pintar-pintar mengatur strategi harga dan negosiasi dengan manufaktur dan leasing company agar harga HeliCity ini bisa menjangkau segmen market yang luas," Denon menjelaskan.

Berikut 5 berita populer yang paling banyak di baca:



Simak Video "Cari Tahu Lebih Banyak Tentang 'Taksi Terbang' EHang 216"
[Gambas:Video 20detik]
(bnl/bnl)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA