Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Minggu, 13 Jun 2021 06:12 WIB

TRAVEL NEWS

Pendaki yang Nanjak ke Semeru, Luruskan Niat dan Jaga Kata-kata, Ya

Hangat Mentari di Ranu Kumbolo
Ranu Kumbolo (detik)
Jakarta -

Mendaki Gunung Semeru bukan cuma membutuhkan fisik yang sip. Pendaki juga diingatkan untuk menyiapkan mental agar tidak celaka.

Insiden pendaki perempuan, Eva, hilang secara misterius pada 6 Juni dan ditemukan tiga hari kemudian di Gunung Abbo, Maros, Sulawesi Selatan bikin geger. Selama tidak bersama teman-temannya itu, bilang dia tidur. Tapi, selama tidur itu dia merasa selalu dipindahkan.

Ada yang menilai insiden itu terkait lokasi buang air kecil Eva yang dekat dengan batu besar. Pendakipun diminta untuk tidak sembarangan saat buang air kecil di gunung. Termasuk di Gunung Semeru, Jawa Timur.

Makanya, untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan, pendaki yang berkunjung ke Gunung Semeru diberi pengarahan untuk memberi tahu beberapa hal yang menjadi peringatan bagi pendaki. Misalnya, tidak buang air sembarangan, menjaga etika, mengetahui tata cara beraktivitas di kawasan pendakian, serta terkait kearifan lokal.

"Ada camping ground di sini dan semuanya bisa digunakan untuk camping ground. Untuk membatasi itu, masyarakat mengikat pohon dengan kain putih. Itu tanda kalau pohon tersebut dianggap oleh masyarakat ada penghuninya. Jadi, biar pendaki dan pengunjung itu nggak sembarang, entah mau BAB atau kencing. Itu seperti proteksi buat pendaki," kata Relawan Pendakian Semeru, Sukaryo, dalam perbincangan dengan detikcom via telepon.

Begitupun dengan tata cara menggunakan air. Misalnya, tidak boleh mengambil air di danau menggunakan tangan, melainkan memakai botol air mineral atau jirigen. Hal ini agar air danau tetap dalam kondisi bersih.

"Kita mengaitkan juga air itu kan air yg disucikan oleh masyarakat adat Tengger dan Hindu. Itu dikuatkan dengan adanya batu prasasti yang ada di Ranu Kumbolo, jadi itulah alasah kenapa nggak boleh dikotori. Agama lain saja menganggap air itu suci, masa kita mau mencemari," kata Sukaryo.

Pendaki di Gunung Semeru juga diimbau untuk saling mengingatkan agar tak terjadi hal-hal yang tidak dinginkan dalam perjalanan. Tak semua orang terkena akibat dari pelanggaran yang dilakukan, namun kadang kala pendaki lain yang terkena dampaknya.

"Apalagi kalau perempuan, kadang mereka terlena saat haid. Kami ingatkan jangan mendekati area-area yang disakralkan ketika datang bulan. Kemudian, bekasnya juga jangan dibuang sembarangan, jangan ditimbun sembarangan, karena kan kita bertamu di rumah mereka yang notabenenya adalah makhluk yang nggak keliatan dengan kita," kata Sukaryo.

Selain menjaga kebersihan, pendaki harus benar-benar menjaga kata-kata yang diucapkan. Jangan sampai kalimat yang diungkapkan menunjukkan kesombongan.

"Ada beberapa kejadian mereka justru kerasukan, kemasukan penghuni yang dalam kawasan. Jadi makanya kita sampaikan terkait dalam sikap kita di dalam kawasan, lalu kekompakan tim itu seperti apa terus kita harus fokus dan di sana ada kita sampaikan terkait dengan permisi," kata Sukaryo.

"Setiap langkah kita paling nggak niat dalam hati permisi terlebih dahulu," dia menambahkan.

Sukaryo menekankan pendaki harus menjaga kearifan lokal di kawasan Gunung Semeru dan memposisikan diri sebagai tamu yang menjaga sopan santun.

"Terutama masalah kearifan lokal itu lebih penting. Kita harus memposisikan diri sebagai tamu, layaknya tamu harus punya etika dan perilaku yg baik selama aktivitas pendakian.



Simak Video "Pendakian Gunung Semeru Ditiadakan Selama PPKM Darurat"
[Gambas:Video 20detik]
(elk/fem)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA