Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 13 Jul 2021 11:23 WIB

TRAVEL NEWS

Ada Holding BUMN Pariwisata, Big Data Jadi Sorotan Sandiaga

Wisatawan melihat komodo di Taman Nasional Komodo, Nusa Tenggara Timur.
Labuan Bajo (Foto: ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)
Jakarta -

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) mendukung penuh terbentuknya holding BUMN pariwisata. PT Survei Udara Penas (Persero) menjadi PT Aviasi Pariwisata Indonesia/Aviata (Persero). Menparekraf Sandiaga Uno menyebut langkah itu akan berefek pada pariwisata yang berkualitas.

"Kami memberikan dukungan penuh terhadap holding pariwisata dan aviasi Indonesia. Langkah sinergi tersebut sebagai langkah strategis pada pariwisata yang berkualitas," kata Menparekraf Sandiaga Uno dalam temu wartawan mingguan secara daring, Senin (12/7/2021).

Sandi menyebut bahwa dirinya sudah memberi masukan bagi kementerian terkait. Karena, dengan adanya penggabungan beberapa perusahaan ini, pihak Kemenparekraf juga harus bersinergi.

"Kami memberi masukan ke Pak Erick, Angkasa Pura, Garuda, ITDC tentu bersinggungan dengan kebijakan Kemenparekraf. Pihak kita tentu ingin menyambung dengan mereka," terang Sandi.

"Harapannya kita bisa berkesinambungan mewujudkan pariwisata pemenang pandemi," ujar dia.

Selanjutnya, dalam pemikiran Sandi, terbentuknya holding pariwisata ini bisa memetakan destinasi yang dimiliki Indonesia. Bahwa, destinasi-destinasi belum dioptimalkan sehingga, pihak Kemenparekraf sangat antusias menyambut holding ini.

"Suatu saat kita harap bisa IPO dan dimiliki bangsa kita," jelas Sandi.

Lalu apa produk dari holding BUMN pariwisata ini? Sandi menyinggung tentang optimalisasi big data sehingga bisa mengetahui kebiasaan para turis dan memenuhi kebutuhannya.

"Masing-masing perusahaan itu bergerak di sektor pariwisata. Tapi data-datanya belum menggunakan big data yang bisa menggunakan AI," terang Sandi.

"Sehingga kalau sudah menggunakan AI kita bisa memprediksi permintaan parekraf. Holding tersebut bisa menggunakan big data dan machine learning," imbuh dia.

"Data 200 juta wisatawan nusantara juga belasan juta wisman harus terintegrasi dengan menggunakan pendekatan big data. Sehingga kita tahu kebiasaan para wisatawan ini," kata Sandi.

Terakhir, Sandi menyebut yang perlu dicermati dalam pembentukan holding BUMN pariwisata ini adalah cara mengelolanya.

"Tata kelolanya, ide penggabungan selalu baik tapi balik lagi ke eksekusi. Jadi nanti talenta-talenta terbaik di pariwisata bisa berkontribusi di pariwisata ini," ujar Sandi.



Simak Video "Boleh Buka Lagi, Ini Persiapan Saung Angklung Udjo Sambut Wisatawan"
[Gambas:Video 20detik]
(msl/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA