Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 20 Agu 2021 10:44 WIB

TRAVEL NEWS

Orangutan Dilepasliarkan di Taman Nasional Bukit Tiga Puluh

Antara
detikTravel
Portrait smiling Orangutans sit for the photographer take a picture.
Ilustrasi orangutan (Getty Images/iStockphoto/nengredeye)
Indragiri Hulu -

Balai Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (TNBT), Indragiri Hulu, Riau, melepasliarkan seekor orangutan bernama Sun Ghou Kong. Orangutan itu berasal dari Sumatera Utara.

Sun Ghou Kong berjenis kelamin jantan dan umur 16 tahun. Dia berasal dari Simalingkar-Sumatera Utara dengan nomor ID OU 194.

"Pelepasliaran orangutan ini bertujuan untuk mengembalikan satwa liar ini ke habitat aslinya," kata Kepala Balai Taman Nasional Bukit Tiga Puluh, Fifin Arfiana Jogasara, di Pekanbaru, Kamis.

Fifin mengatakan Sun Ghou Kong pertama kali tiba di Stasiun SORC Sungai Pengian pada 27 Februari 2011. Saat itu, usianya sekitar umur lima tahun dan dilepasliarkan pada 29 Januari 2012 (7 tahun) di Hulu Sungai Belantik kawasan penyangga TNBT.

Berdasarkan riwayat pelepasliaran, Sun Ghou Kong telah dilepas sebanyak lima kali dan berdasarkan hasil perjumpaan kembali Sun Ghou Kong berulang kali ditemukan di lokasi yang sama. So, dapat dikatakan Sun Ghou Kong telah menguasai daerah jelajahnya.

"Lokasi pelepasliaran Sun Ghou Kong kali ini dipilih area baru dan belum dikenali yang berada di Sungai Tulang, Wilayah Kerja Resort Lahai SPTN Wilayah II Belilas. Untuk mencapai lokasi ini, tim release harus menempuh jarak 2 hingga 3 km dan membutuhkan waktu tempuh 4 hingga 5 jam berjalan kaki, dengan memikul beban kandang dan orangutan seberat kurang lebih 120 kg," kata Fifin Arfiana.

Ia menjelaskan pelepasliaran dilakukan secara bersama yang melibatkan beberapa pihak, yaitu Balai TNBT, Balai KSDA Jambi, FZS, Polsek Batang Cenaku, Pemerintah Kecamatan Batang Cenaku dan Desa Sipang. Untuk memikul kandang yang berisi orangutan Sun Ghou Kong melibatkan masyarakat setempat.

"Dipilihnya lokasi baru ini diharapkan dapat mendorong Sun Ghou Kong untuk mengeksplorasi habitat yang berbeda dan kembali liar di alam," ujarnya.

Berdasarkan pantauan dari awal pelepasliaran, Sun Ghou Kong masuk kategori orangutan yang cukup pintar. Buktinya, dari hasil analisis data harian pencapaian makan lebih dari 40 persen dengan didominasi memakan buah hutan serta Body Condition Score (BCS) terbilang stabil yaitu score 3 dimana score tersebut adalah ideal tubuh orangutan yang berada di alam liar.

"Harapan ke depannya, Sun Ghou Kong dapat bertahan hidup dan hidup harmonis dengan alam, mampu berkembangbiak guna kelangsungan populasi mereka di alam dan menyelamatkan satwa ini dari ambang kepunahan," kata Fifin.

Kegiatan pelepasliaran Orangutan di TNBT ini sudah dimulai sejak tahun 2001 melalui Program Reintroduksi Orangutan Sumatera (PROS). Kawasan Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (TNBT) sebagai area pelepasliaran orangutan merupakan salah satu kegiatan dalam Memorandum Saling Pengertian (MSP) antara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Cq. Ditjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem dengan Frankfrurt Zoological Society (FZS) tentang Program Konservasi Satwa Liar dan Habitatnya di TNBT.

Satwa liar orangutan memiliki status konservasi Critically Endangered atau terancam punah berdasarkan daftar merah IUCN Orangutan Sumatera dan masuk kategori Appendix 1 menurut CITES, yang berarti spesies ini tidak boleh diperdagangkan.

Orangutan yang dilepasliarkan adalah hasil rehabilitasi setelah satwa diserahkan oleh masyarakat. Individu orangutan sitaan dibawa ke stasiun rehabilitasi di Sumatran Orangutan Rehabilitation Center (SORC) Sungai Pengian dan sebagian di Orangutan Open Sactuary (OOS) Danau Alo. Kedua stasiun ini menjadi tempat singgah sementara dengan orangutan akan diajarkan untuk mencari makan dan bertahan hidup di alam.



Simak Video "Pelepasliaran Orangutan di Taman Nasional Bukit Tiga Puluh Riau"
[Gambas:Video 20detik]
(fem/fem)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA