Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 11 Nov 2021 09:03 WIB

TRAVEL NEWS

Perkara Terlambat 1 Menit, Masinis Gugat Perusahaan Kereta Jepang

Putu Intan
detikTravel
Pagi hari menjadi jam paling sibuk stasiun-stasiun kereta di Jepang. Antrean yang tetap tertib meski sedang padat bikin mata melongo.
Ilustrasi kereta Jepang. Foto: Eduardo Hasian Simorangkir
Tokyo -

Kereta di Jepang terkenal dengan ketepatan waktunya. Namun apa jadinya bila terjadi keterlambatan? Jalur hukum ditempuh untuk menyelesaikannya.

Perkara keterlambatan kereta ini menjadi sebab perselisihan antara seorang masinis dengan perusahaan West Japan Railway Company. Dilansir dari Sora News 24, Kamis (11/11/2021) masinis yang bekerja di cabang Okayama itu meminta pembayaran 56 yen atau sekitar Rp 7.000 sebagai upah yang belum dibayarkan ketika terjadi insiden selama shift kerjanya pada 18 Juni 2020.

Insiden bermula ketika pagi itu, masinis ini dijadwalkan untuk memarkirkan kereta kosong di Depo Stasiun Okayama. Ia menunggu kereta datang di salah satu peron stasiun.

Ketika kereta tiba, ia baru sadar bahwa ia menunggu di peron yang salah. Saat ia menuju peron yang benar, terjadi transfer antar masinis yang tertunda 2 menit. Hal ini menyebabkan penundaan satu menit untuk kedatangan dan satu menit untuk memarkirkan kereta itu di depo.

Karena kejadian ini, JR West memotong gaji masinis sebesar 85 yen atau sekitar Rp 11.000 pada bulan Juli. Padahal sebenarnya tak ada kegiatan yang berimbas pada penumpang selama transfer kereta yang tertunda selama 2 menit itu.

Masinis itu kemudian membawa masalah ini ke Kantor Inspeksi Standar Tenaga Kerja Okayama. JR West akhirnya mengurangi waktu tunda dari 2 menit menjadi 1 menit atas saran dari Biro Tenaga Kerja.

Akan tetapi masinis masih menganggap ini tidak masuk akal. Sebab faktanya kesalahan itu tidak menyebabkan kerugian pada perusahaan dan tidak mengganggu jadwal kereta karena kereta kosong. Akhirnya, masinis membawa masalah ini ke Pengadilan Distrik Okayama pada bulan Maret 2021.

Masinis kemudian menuntut kompensasi sebesar 43 yen yang dipotong untuk keterlambatan satu menit, 13 yen untuk lembur yang disebabkan penundaan, dan 2,2 juta yen atau sekitar Rp 227 juta untuk penderitaan mental.

Ia mengatakan, seharusnya gajinya tidak boleh dikurangi karena insiden itu terjadi selama shift kerjanya. Sementara perusahaan mengatakan mereka menerapkan prinsip tidak bekerja, tidak dibayar sebagai alasan pemotongan gaji. Hal ini berlaku pada kasus keterlambatan datang ke tempat kerja atau absen.

Masinis juga mengkritik perusahaan karena menggunakan pemotongan upah sebagai sanksi untuk kesalahan manusia. Menurutnya, kesalahan kecil dalam bisnis tidak boleh diklasifikasikan sebagai pelanggaran kontrak.

Mengenai masalah ini, publik Jepang umumnya membela masinis. Tetapi soal ketepatan waktu dan keamanan kereta Jepang juga harus tetap diperhatikan.

Saat ini banyak staf kereta Jepang yang bekerja di bawah tekanan untuk menciptakan lingkungan perkeretaapian yang ideal. Perusahaan disarankan untuk memikirkan kembali cara yang tepat untuk dapat mendukung karyawan.



Simak Video "Ilmuwan Jepang Kembangkan 'Kulit Manusia' pada Jari Robot"
[Gambas:Video 20detik]
(pin/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA