Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Sabtu, 04 Des 2021 16:11 WIB

TRAVEL NEWS

Bukan Kopi Biasa, Blue Tamblingan Jadi Media Komunikasi untuk Konservasi

Putu Intan
detikTravel
Kopi Blue Tamblingan di Desa Munduk
Foto: Rifkianto Nugroho/detikcom
Singaraja -

Desa Munduk di Bali punya sejarah panjang sebagai penghasil kopi. Di desa itu terdapat kopi Blue Tamblingan dengan semangat konservasi lingkungan.

Desa Munduk pernah dikenal sebagai penghasil kopi yang membuat masyarakatnya hidup sejahtera. Hal itu dibuktikan ketika awal tahun 1900-an, masyarakat Desa Munduk sudah memiliki mobil.

Masa kejayaan kopi di Desa Munduk mencapai puncaknya pada tahun 1970-an. Petani sekaligus tokoh masyarakat Desa Munduk, Putu Ardana mengatakan, banyak orang-orang dari Bali Selatan yang mencari nafkah di Desa Munduk.

"Tahun 1970-an, kawasan wisata belum begitu booming. Zaman itu, saudara-saudara kita dari selatan seperti Ubud, Gianyar, Karangasem itu setiap musim kopi di bulan Mei-Agustus, datang ke sini sebagai buruh pemetik kopi," dia memaparkan.

Kopi Blue Tamblingan di Desa MundukKebun kopi di Desa Munduk. Foto: Rifkianto Nugroho/detikcom

Namun lama-kelamaan nilai ekonomi kopi mulai turun sehingga masyarakat Desa Munduk mulai beralih menanam cengkeh, bunga, dan sayur. Menurut Putu, tanaman-tanaman ini tidak sekuat kopi dalam menangkal bencana alam.

Putu menjelaskan selama 5-10 tahun dirinya mulai menaruh perhatian pada kelangsungan pasokan air dan longsor yang terjadi di desanya. Itulah yang kemudian membuatnya kembali mengajak masyarakat desa untuk menanam kopi.

"Tanaman jangka pendek nggak bagus untuk tanah. Sudah mulai main kimia, di pupuk dan pestisida. Kita ini pemasok air banyak di bawah kita, jadi residunya terbawa," katanya.

"Lalu ikatan tanah menjadi lemah karena tidak ada layer yang menahan. Kalau hujan kan langsung ke tanah. Kalau ada tanaman keras kan kena yang di atas dulu, mengalir ke bawah pelan-pelan, jadi timpaan air, tenaga kinetik air itu tidak langsung ke tanah dan juga ikatannya karena pohon besar itu lebih kuat," sambungnya.

Kopi Blue Tamblingan di Desa MundukKopi Blue Tamblingan di Desa Munduk. Foto: Rifkianto Nugroho/detikcom

Akhirnya perlahan, ia mengajak beberapa petani untuk kembali menjadikan Desa Munduk sebagai penghasil kopi. Kopi yang ditanam ini tak menggunakan bahan kimia. Selain itu buah yang dipetik hanya yang sudah matang (merah).

"Setelah panen, diserahkan ke kita. Kita beli dengan harga yang relatif mahal. Kalau biasanya harga pasar Rp 4 ribu per kilogram, kita beli Rp 9-10 ribu per kilogram," katanya.

Awalnya, Putu dicibir karena melakukan praktik yang tak populer tersebut. Namun setelah terlihat keuntungan yang menjanjikan bagi para petani, usahanya ini mulai didukung sejumlah petani.

"Tanaman kopi yang dulu tidak dipelihara, sekarang dipelihara lagi. Bahkan ada yang menanam kopi lagi. Jadi bisa disebut kopi saya itu media komunikasi untuk konservasi," ujarnya.

Kopi Blue Tamblingan di Desa MundukKopi Blue Tamblingan di Desa Munduk. Foto: Rifkianto Nugroho/detikcom

Saat ini ada sekitar 25 hektar tanah yang kembali ditanami kopi. Kopi-kopi yang dihasilkan itu diberi nama Blue Tamblingan.

"Diberi nama Blue Tamblingan karena tumbuh di sekitar Danau Tamblingan. Kenapa dikasih nama blue? Karena memang kopi ini limited edition," ia memaparkan.

Kopi ini dijual dalam bentuk biji maupun bubuk. Untuk satu bungkus kopi dengan berat 250 gram dijual dengan harga Rp 85 ribu.



Simak Video "Wisatawan Masuk Bali Meningkat di Pelabuhan Gilimanuk"
[Gambas:Video 20detik]
(pin/fem)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA