Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 29 Des 2021 06:12 WIB

TRAVEL NEWS

Sejarah Klithih di Yogyakarta, Teror atau Kenakalan Pelajar?

Klithih di Yogyakarta
Klitih di Yogyakarta (Foto: Twitter)
Jakarta -

Tagar #YogyaTidakAman masih anteng di pucuk trending Twitter karena klithih. Aksi kejahatan jalanan ini terus berkembang dari awal mula penyebutannya.

Apa itu klithih atau klitih? Bagaimana perkembangannya dari tahun ke tahun?

Berikut ulasan singkat soal sejarah klitih berdasar penjelasan dari Drs Soeprapto, SU, sosiolog kriminalitas dari UGM. Kata dia, klitih berasal dari Bahasa Jawa "klitah-klitih" yakni melakukan kegiatan iseng untuk mengisi waktu luang.

"Sebenarnya klitih itu bermula dari tawuran pelajar dan sejak zaman saya dulu sudah ada. Dulu alat tawurannya berupa batu dan disebut tawuran pelajar antara tahun 73-75, ini sering terjadi," kata Soeprapto.

"Kemudian ketika pemerintah mulai tegas memberikan peraturan bahwa kalau ada pelajar terlibat tawuran akan dikembalikan ke orang tua akan diskorsing dikeluarkan, maka mulai berkuranglah tawuran pelajar ini," dia menambahkan.

Lebih lanjut, kata Soeprapto, motif tawuran pelajar ini adalah demi melindungi atau membela teman satu sekolah. Jadi, solidaritas menjadi alasan utamanya.

"Kemudian setelah ada peraturan larangan tawuran membuat para pelajar itu sadar nggak mau lagi tawuran, lalu muncul istilah mencari musuh. Mereka menggunakan istilah klitih, padahal arti klitih ini mengisi waktu luang, ngisi TTS, menjahit dan melakukan hal-hal yang positif," kata Soeprapto.

Awal mula klithih

Ternyata, klithih baru berlangsung selama sekitar satu dekade. Aksi positif mengisi waktu luang disalahartikan hingga menjadi melukai orang di jalan.

"Ketika istilah klitih diadopsi pelajar pada tahun 2008-2009, kejahatan itu mulai marak terjadi. Mereka mengartikannya sebagai mencari musuh," kata Soeprapto.

Tak berhenti di situ, klitih mulai berkembang dan melebar pelakunya yang berada dalam satu organisasi. Yakni, para kakak alumni sekolah kemudian juga masuk ke dalamnya.

"Kemudian setelah banyak pelajar melakukan klitih dengan mencari musuh itu lalu struktur organiasasinya pun berkembang. Mulanya mereka punya ketua, wakil, bendahara, anggota dalam satu sekolahan. Lalu anggota organisasi bertambah dari alumni karena faktor solidaritas," kata Soeprapto.

Setelah itu, kata Soeprapto, ada organisasi plus-plus. Mereka terus membesar karena ditambah preman dan malah melakukan aksi kejahatan jalanan.

Aturan tak tertulis klithih

Dari aturan, klitih pertama kali tak melakukan kejahatan secara acak. Mereka, anggota klitih, punya aturan untuk tidak menyerang kelompok tertentu.

"Melukai secara acak bukanlah perilaku geng pelajar asli. Karena peraturan klitih nggak boleh menyerang perempuan, laki-perempuan yang sedang berboncengan hingga orang tua yang sedang mencari nafkah di jalan, seperti sekarang dikenal sebagai ojol," kata Soeprapto.

"Kalau sasaran acak itu pasti bukan pelajar murni, istilahnya nabok nyilih tangan, sudah ditunggangi. Karena kalau kerusuhan yang dilakukan anak hukumnanya ringan dan kalau dewasa itu hukumnanya berat," imbuh dia.

Saat ini, kata Soeprapto, polisi sudah pasti menghukum pelaku klitih yang membuat korban cidera, apa lagi hingga menyebabkan kematian. Mereka akan dkenakan pasal berdasar peraturan yang berlaku.

"Solusinya jangan hanya mengatasi akibat. Perlu ditelusuri siapa dibalik perilaku itu. Siapa aktor di belakangnya," tegas Soeprapto.

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Citra Wisata Yogyakarta Tercoreng Aksi Klitih"
[Gambas:Video 20detik]
BERITA TERKAIT
BACA JUGA