Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Sabtu, 15 Jan 2022 06:11 WIB

TRAVEL NEWS

Respons Kritik Perbudakan, Raja Belanda Istirahatkan Kereta Kuda Emas

Femi Diah
detikTravel
In this Tuesday, Sept. 17, 2013, file image, Netherlands King Willem-Alexander and his wife Queen Maxima arrive in the Golden Carriage at Noordeinde Palace, after the King officially opened the new parliamentary year in The Hague, Netherlands. Even the horse-drawn Golden Carriage, currently undergoing a lengthy restoration but traditionally used to carry the Dutch monarch to the state opening of Parliament each year, has drawn criticism because one of its panels, center, is decorated with a painting depicting Africans and Asians carrying goods to present to their colonial masters. (AP Photo/Peter Dejong, file)
Raja Belanda tak akan menggunakan kereta kuda emas yang memiliki lukisan perbudakan. (AP/Peter Dejong)
Amsterdam -

Raja Belanda merespons kritik tajam terhadap penggunaan kereta kuda emas kerajaan yang memuat lukisan perbudakan. Kereta kuda emas itu diistirahatkan.

Pengumuman itu dilakukan kerajaan Belanda pada Kamis (13/1/2022) waktu setempat.

"Kereta kuda emas hanya akan dapat digunakan lagi ketika Belanda siap dan itu tidak dilakukan saat ini," kata Raja Willem-Alexander dalam pesan video dan dikutip AP, Sabtu (15/1).

Kereta kuda emas yang dibuat pada 1898 itu memang masih digunakan. Kereta itu dipakai untuk mengangkut raja ke acara Parlemen setiap September dengan melewati jalanan Den Haag. Namun, kereta emas itu menepi untuk sementara karena tengah diperbaiki.

Penggunaan kereta kuda emas itu dikritik karena salah satu panelnya menggambarkan perbudakan terhadap orang-orang kulit hitam dan Asia dengan judul "Tribute from the Colonies". Orang kulit hitam dan Asia itu salah satunya berlutut dan menawarkan barang kepada seorang wanita muda kulit putih yang duduk mewakili Belanda.

"Tidak ada gunanya mengutuk dan mendiskualifikasi apa yang telah terjadi melalui kaca mata zaman kita," kata Raja Willem.

"Melarang objek dan simbol bersejarah bukanlah solusi. Sebaliknya, diperlukan upaya bersama yang lebih mendalam dan memakan waktu lebih lama. Sebuah upaya yang menyatukan kita, bukannya memisahkan kita," dia menambahkan.

Aktivis antirasisme dan salah satu pendiri The Black Archives di Amsterdam, Mitchell Esajas, menyebut pernyataan raja sebagai "pertanda baik," tetapi juga menilainya sebagai langkah "minimal" yang bisa dikatakan seorang raja.

"Dia mengatakan masa lalu tidak boleh dilihat dari perspektif dan nilai-nilai masa kini..., dan saya pikir itu keliru karena, juga dalam konteks sejarah, perbudakan dapat dilihat sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan dan sistem kekerasan," kata Esajas.

"Saya pikir argumen itu sering digunakan sebagai alasan untuk memoles sejarah kekerasannya," dia menambahkan.

Belanda, bersama dengan banyak negara lain, telah meninjau kembali sejarah kolonialnya dalam proses yang didorong oleh gerakan Black Lives Matter yang melanda dunia setelah kematian pria kulit hitam George Floyd di Amerika Serikat.

Tahun lalu, museum nasional negara itu, Rijksmuseum, menyelenggarakan pameran besar yang menyoroti peran negara itu dalam perdagangan budak. Dalam acara itu, Wali Kota Amsterdam Femke Halsema meminta maaf atas keterlibatan mantan gubernur dari kota itu dalam perdagangan budak tersebut.

Halsema mengatakan dia ingin mengingat masa lalu kelam itu sebagai "mengukir ketidakadilan besar perbudakan kolonial ke dalam identitas kota kami."



Simak Video "Reaksi Novelis Tanzania Raih Nobel Sastra 2021"
[Gambas:Video 20detik]
(fem/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA