Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 19 Jan 2022 05:42 WIB

TRAVEL NEWS

Mengenal Sejarah, Raja dan Kejayaan Kerajaan Aceh, Ini 5 Faktanya

Tim detikcom
detikTravel
Sejumlah anak-anak berada di kawasan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Aceh, Rabu (10/11/2021). Masjid Raya Baiturrahman merupakan ikon Provinsi Aceh yang termasuk dalam salah satu masjid tertua dan termegah di Asia yang dibangun abad 16 pada masa Kerajaan Sultan Iskandar Muda yang menjadi objek wisata religi bagi wisatawan domestik dan mancanegara. ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/aww.
Foto: ANTARA FOTO/SYIFA YULINNAS
Jakarta -

Traveler tahu Kerajaan Aceh? Disebut juga sebagai Kesultanan Aceh, Kerajaan Aceh merupakan Kerajaan Islam di Indonesia yang ada di Provinsi Aceh.

Kerajaan Aceh didirikan pada tahun 1496 oleh Ali Mughayat. Menurut Sumatra and the Malay Peninsula, 16th Century dalam Digital Atlas of Indonesian History, kerajaan ini didirikan di wilayah Kerajaan Lamuri dan mengalami ekspansi, hingga menyatukan kawasan Daya, Pedir, Lidie sampai Nakur.

Apa Saja sih Fakta Menariknya?

1. Sejarah Kerajaan Aceh

Didirikan pada tahun 1946 di wilayah Kerajaan Lamuri yang terlebih dahulu ada, pemimpin tertinggi di Kerajaan Aceh berada pada penguasaan Sultan. Pada saat itu, Kerajaan Aceh banyak dikendalikan oleh orang kaya.

Dalam cerita Aceh, pada tahun 1579, ada Sultan yang diturunkan dari jabatannya karena membagikan harta kerajaan kepada pengikutnya, dia bernama Sultan Sri Alam. Akhirnya, posisinya digantikan oleh Sultan Zainal Abidin.

Namun, Sultan Zainal Abidin terbunuh hanya beberapa bulan setelah dinobatkan menggantikan Sultan Sri Alam. Ini disebabkan karena sifatnya yang kejam dan kecanduan dalam berburu.

Sultan Zainal Abidin pun digantikan dengan Alaiddin Riayat. Tapi, pada kepemimpinannya dia melakukan penumpasan kepada orang kaya yang berlawanan dengan sistem kepemimpinannya.

Kemudian, masa kejayaan Kesultanan Aceh akhirnya terjadi di kepemimpinan Sultan Iskandar Muda, yaitu pada tahun 1607-1636. Kala itu, Aceh berhasil menaklukkan wilayah Pahang yang merupakan sumber utama timah.

Pada tahun 1629, Kesultanan Aceh melakukan perlawanan, yaitu menyerang Portugis di wilayah Malaka. Upaya ini dilakukan untuk melakukan perluasan dominasi Aceh atas Selat Malaka dan Semenanjung Melayu. Tapi sayang, ekspedisi ini gagal.

2. Kondisi Perekonomian

Terletak di jalur lintas pelayaran dan perdagangan Selat Malaka, Kerajaan Aceh berfokus pada laku perkembangan ekonomi di bidang pedagangan. Saat pemerintahan Sultan Alaudin Riayat, Aceh mengalami perkembangan menjadi Bandar utama di Asia untik pedagang mancanegara dari Belanda, Inggris, Arab, Persia hingga Turki.

Adapun yang diperdagangkan dari Aceh yaitu lada beras, barang tambang, seperti timah, perak, emas, lalu rempah-rempah yang berasal dari Maluku. Sementara itu, di wilayah Aceh, terdapat pedagang mancanegara yang menawarkan barang dagangan atau proses impor.

Selanjutnya, kondisi kehidupan politik, sosial dan silsilah Kerajaan Aceh

Selanjutnya
Halaman
1 2
BERITA TERKAIT
BACA JUGA