Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 20 Jan 2022 12:32 WIB

TRAVEL NEWS

Tarif Parkir Bus di Jogja Rp 350 Ribu, Sandiaga: Ini Namanya Getok!

Jakarta -

Beredar keluhan viral wisatawan tentang tarif parkir bus di Malioboro, Yogyakarta sebesar Rp 350 ribu untuk 2 jam. Menparekraf Sandiaga Uno pun memberikan tanggapan.

Di media sosial sedang dihebohkan tentang tarif parkir mahal di kawasan Malioboro, Yogyakarta,tepatnya di belakang Hotel Premium Zuri. Keluhan itu disampaikan oleh akun Kasri StöñèDåkøñ dalam sebuah grup Facebook.

"Kami hanya wisata lokal. Tidak bermaksud jelek. Cuma kami mau tanya apakah wajar parkir di wilayah sekitar Malioboro tepatnya di belakang Hotel Premium Zuri. Kalau nggak salah. Sebesar itu. Yaitu 350.000 rb," tulis akun tersebut.

Menparekraf Sandiaga Uno pun menyebut ulah oknum nakal itu sebagai getok. Dia menghimbau agar tidak getok, biar rezeki tidak dipatok.

"Nah Ini namanya nggetok. Jadi, kalau mau rezeki tidak dipatok, jangan kita ketok. Saya bilang rezeki itu lebih baik memanjang, bukan yang tinggi terus hilang, tapi perlahan-lahan meningkat," ujar Sandiaga saat ditemui detikTravel di Hotel Pullman Thamrin, Jakarta, Kamis (20/1/2022).

Sandiaga mengaku sudah berkomunikasi dengan Kepala Dinas Pariwisata Provinsi DIY. Dia ingin agar oknum tersebut dibina.

"Saya sudah bilang ke pak Singgih, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi DIY, ini harus dibina," imbuh pria berkacamata itu.

Sandiaga memaklumi bila oknum tersebut mengalami masa sulit akibat pandemi, ibaratnya mereka sudah puasa selama 2 tahun, jadi fenomena tersebut terjadi di beberapa destinasi wisata populer.

"Karena mereka ini sudah puasa lebih dari 2 tahun, peningkatan tarif parkir tak hanya terjadi di Yogya, di Puncak, di Anyer, kita lihat seperti ini fenomena karena sudah lama menunggu," kata Sandiaga.

Sandiaga pun mendorong pendekatan dialogis untuk menyadarkan oknum tersebut agar tidak mengulangi tindakannya lagi.

"Nah ini pendekatannya mungkin bukan hanya pendekatan represif seperti diberikan hukuman tapi lebih ke dialogis bagaimana mereka bisa menciptakan suatu sistem sehingga orang nggak kapok karena kalau diketok seperti itu, mereka akan kapok, tidak akan datang lagi. Sementara kalau dia membayar dengan tarif yang wajar, dia akan memberikan rekomendasi ke yang lain," pungkas Sandiaga.

(wsw/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA