Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 02 Feb 2022 22:03 WIB

TRAVEL NEWS

Galaunya Kyoto, Suka Ketenangan saat Pandemi Tapi Kangen Turis Juga

bonauli
detikTravel
Full length of young maikos holding red umbrellas during rainy season. Beautiful geisha girls wearing traditional dress called kimono. They are walking on wet street.
Geisha di Kyoto (iStock)
Kyoto -

Kyoto telah menjadi kota favorit turis untuk liburan di Jepang. Pandemi COVID-19 membuat Kyoto bak kota mati, para pengusaha pun mulai merindukan turis.

Sebelum COVID, ragam bahasa Inggris, China, Eropa dan Asia lainnya terdengar di sepanjang jalan Kyoto. Bahkan salah satu distriknya, Gion memberlakukan larangan khusus turis untuk tidak melakukan pemotretan geisha dan maiko tanpa izin.

Kebisingan hampir terjadi setiap waktu. Tapi di balik itu, para pedagang suvenir selalu untung. Barang-barangnya ludes diborong turis China.

Gelak tawa, gerombolan turis dan hiruk-pikuk Kyoto telah lama berganti. Sejak dua tahun mengalami pandemi, yang terlihat hanya sekumpulan anak sekolah dan satu dua wisatawan domestik.

Diperkirakan, pekan ini merupakan puncak musim gugur (autumn) di Kyoto, Jepang. yuk lihat.Musim gugur di Kyoto Foto: Ari Saputra

Menurut badan pariwisata, hanya ada 245.900 turis yang tiba di Jepang pada akhir tahun 2021. Angka ini turun sampai 99,2 persen dari masa sebelum pandemi.

"Rasanya sangat berbeda sekarang. Dulu banyak turis asing, tapi sekarang hampir kosong," ucap pemilik toko es krim di dekat Kuil Kiyomizu, seperti dikutip dari The Guardian.

Untuk saat ini, ekonomi turis Kyoto bergantung pada pengunjung domestik. Kehadiran wisatawan domestik pun naik turun sejalan dengan langkah-langkah penyekatan gelombang terbaru infeksi virus Corona.

Hal ini membuat para pengusaha rindu akan hadirnya turis. Pembelian secara eksplosif yang dilakukan turis, khususnya China masih tergambar jelas di benaknya.

Foto-foto GeishaFoto-foto Geisha Foto: (Andi Saputra/detikTravel)

"Mereka menghabiskan banyak uang di sini. Saya mengerti mengapa beberapa orang ragu untuk kembali ke masa itu, saya pun memiliki keraguan sendiri. Tapi saya lebih suka melihat turis asing lagi," ucap Mari Samejima, pengusaha lokal.

Lonjakan Omicron di Jepang belum mencapai puncaknya. Pemerintah sendiri menunjukkan sedikit antusiasme untuk mencabut larangan perjalanan. Karena hanya sedikit yang mengharapkan turis asing kembali ke Kyoto.

"Kyoto bukan kita besar, jadi terlalu banyak turis asing yang menekan hal-hal seperti transportasi umum. Sulit menjalankan kehidupan normal dengan banyaknya mereka yang berkeliaran," ucap Tomoko Nagatsuka, pemilik kafe.

"Sebagian diriku sangat menginginkan mereka kembali, tetapi sebagian lain dari diriku menyukai kedamaian dan ketenangan saat ini," ujarnya.



Simak Video "Roby Geisha Masih Harap Rehabilitasi Meski Sudah Tertangkap 3 Kali"
[Gambas:Video 20detik]
(bnl/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA