Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

ADVERTISEMENT

Kamis, 03 Feb 2022 15:17 WIB

TRAVEL NEWS

Belajar Toleransi dari Singkawang: Semua Suku Sama, yang Penting Sikapnya

Walikota Singkawang Menjalankan Ibadah Malam Imlek di Vihara Tri Dharma Bumi Raya
Foto: Wali Kota Singkawang, Tjhai Chui Mie (Wahyu Setyo Widodo/detikTravel)
Singkawang -

Singkawang terkenal sebagai kota paling toleran di Indonesia setelah Salatiga. Mari belajar soal toleransi di Singkawang, dimana semua suku dan agama sama.

Dalam laporan Indeks Kota Toleran 2020 yang dirilis oleh Setara Institute, Singkawang menduduki peringkat kedua kota paling toleran di Indonesia. Singkawang hanya kalah dari Salatiga, namun berada di atas kota Manado dan Tomohon.

Tjhai Chui Mie, Wali Kota Singkawang menyebut kunci dari toleransi di kota yang dipimpinnya adalah karena semua suku dianggap sama kedudukannya, yaitu sama-sama makhluk Tuhan.

"Saya pikir semua suku sama ya, karena kita muaranya satu, kita adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa. Kita tidak cerita soal sukunya, tapi kepada orang per orangnya. Apa yang bisa kita lakukan, sikap dan perbuatannya," ungkap Tjhai Chui Mie dalam wawancara eksklusif dengan detikcom.

Di Singkawang, orang tidak dipandang apa sukunya, agamanya apalagi etnisnya, tapi lebih ke perbuatan yang dia lakukan, pantas atau tidak.

"Jadi, manusia itu bukan dari dia etnis apa, agama apa, tapi kita melakukan hal itu memang yang pantas untuk dilakukan," imbuhnya.

Chui Mie menambahkan, hanya ada satu hal yang membedakan manusia satu dengan manusia lainnya, dan itu bukan suku atau agamanya, melainkan keahliannya.

"Yang kita beda-bedakan itu cuma satu, dia punya keahlian apa tidak. Punya kemampuan atau tidak? Nah itu yang dibedakan ya, bukan suku dan agamanya, tapi keahlian yang dimiliki," tegas walikota wanita pertama di Singkawang ini.

Selain keahliannya, manusia juga bisa dibedakan dari kemauannya dan kemampuannya dalam bekerja. Sekali lagi, bukan karena sukunya apa atau agamanya apa.

"Jadi yang kita pakai adalah orang-orang yang mampu, orang-orang yang mau bekerja. Jadi bukan sukunya, bukan agamanya," pungkas Chui Mie.



Simak Video "Tidak Ada Gereja Di Kota Baja"
[Gambas:Video 20detik]
(wsw/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
e-LIfe
×
Perilaku Selingkuh dari Faktor Genetika, Apa Iya?
Perilaku Selingkuh dari Faktor Genetika, Apa Iya? Selengkapnya