Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

ADVERTISEMENT

Sabtu, 05 Feb 2022 13:20 WIB

TRAVEL NEWS

Jinjja?! Punya Bayi di Korsel Bakal Dibayar Rp 23 Juta, Cash

bonauli
detikTravel
Ilustrasi bayi Korea
Ilustrasi bayi Korea(Getty Images/iStockphoto/innovatedcaptures)
Seoul -

Korea Selatan mengalami penurunan kelahiran anak. Negeri Ginseng ini akan bayar Rp 23 juta bagi warga yang mau punya bayi.

Program insentif ini dilakukan oleh Pemerintah Kota Seoul, Korea Selatan. Dikutip dari Insider, pemerintah akan memberikan uang tunai senilai 2 juta won atau sekitar Rp 23 juta kepada warga yang melahirkan bayi.

Program ini dijalankan untuk mengatasi rendahnya angka kelahiran bayi di Kota Metropolitan tersebut. Orang tua yang mendaftarkan kelahiran anaknya mulai 1 Januari 2022 dapat menukarkan voucher uang tunai secara online dan di pusat komunitas lokal.

Tetapi mereka harus menggunakan voucher tersebut paling lambat pada akhir tahun 2022.

Insentif tersebut merupakan salah satu dari beberapa subsidi persalinan yang telah diluncurkan oleh pemerintah Korea Selatan dalam beberapa bulan terakhir.

Pada bulan November, Layanan Asuransi Kesehatan Nasional Korea Selatan mengumumkan bahwa mereka akan memberikan voucher tunai sebesar $837 atau sekitar Rp 12 juta kepada ibu baru. Sementara untuk ibu baru dengan anak kembar akan mendapatkan $1.172 atau sekitar Rp 16,8 juta.

Pihak berwenang Korea Selatan juga mencabut pembatasan sebelumnya yang mencegah orang tua baru menggunakan voucher untuk membayar biaya pengobatan.

Pada tahun 2020 tingkat kesuburan Korea Selatan adalah 0,84. Data ini berdasarkan statistik kelahiran dan kematian yang dirilis oleh pemerintah Korea Selatan belum lama ini.

Angka ini turun sangat drastis dibandingkan dengan tingkat kesuburan pada tahun 1960. Saat itu, tingkat kesuburan di Korea Selatan adalah 6.

Saat ini Korea Selatan memiliki tingkat kesuburan terendah secara global. Alasan utamanya karena generasi milenium Korea Selatan menilai beban utang yang besar serta sulitnya mendapat hunian dengan harga terjangkau membuat mereka enggan memulai keluarga.

Menurut laporan Insider pada Juli 2021, sebagai dampak dari sangat rendahnya tingkat kelahiran di negara itu, ratusan sekolah telah dikosongkan dan ditinggalkan karena tak ada siswa.



Simak Video "Saksi Ungkap Tragedi Tewasnya 149 Orang di Korsel Dipicu Bentrokan Massa"
[Gambas:Video 20detik]
(bnl/bnl)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA