Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

ADVERTISEMENT

Rabu, 09 Feb 2022 16:43 WIB

TRAVEL NEWS

Ruwat Rawat Borobudur Bukan Sekadar Ritual Tahunan

Eko Susanto
detikTravel
Magelang -

Komunitas Brayat Panangkaran menyelenggarakan Ruwat Rawat Borobudur (RRB) ke-20. Pembukaan RRB dilaksanakan di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.

Rangkaian kegiatan Ruwat Rawat Borobudur ke-20 itu diselenggarakan sejak Rabu (9/2/2022) sampai 18 April. Dalam prosesi pembukaannya, dilakukan arak-arakan dengan membawa gunungan hasil bumi.

Dalam arak-arakan yang mengelilingi Candi Borobudur itu, sebagian peserta mengenakan pakaian adat dan kostum kesenian tradisional. Setelah berarak mengelilingi candi, mereka mengadakan kenduri di kompleks Kenari Candi Borobudur.

Ruwat Rawat Borobudur (RRB) merupakan salah satu kegiatan rutin tahunan di Magelang yang bertujuan melestarikan Candi Borobudur. Penanggung Jawab RRB, Sucoro, mengatakan hari ini RRB sudah genap berumur 20 tahun. Buku yang merekam perjalanan RRB pun sudah diluncurkan.

"Tiga tahun kita kena serangan COVID-19, tapi Alhamdulillah, Brayat Panangkaran tetap eksis, tetap bisa mempersembahkan (RRB). Kita tetap bisa menjelaskan pada dunia bahwa itulah peran masyarakat untuk ambil bagian dalam upaya pelestarian sekaligus memanfaatkan Borobudur," kata Sucoro kepada wartawan di Candi Borobudur, Rabu (9/2/2022).

Menurut Sucoro tujuan utama RRB untuk meyakinkan pemerintah akan pentingnya melestarikan Candi Borobudur sebagai warisan leluhur untuk persembahan suci.

Prosesi Ruwat Rawat Borobudur (RRB) ke-20 di Candi BorobudurProsesi Ruwat Rawat Borobudur (RRB) ke-20 di Candi Borobudur. (Eko Susanto/detikcom)

"Karena warisan budaya itu sebetulnya adalah warisan leluhur yang tujuannya untuk persembahan suci, bukan untuk pariwisata. Setelah perjalanan panjang, kemudian pemerintah menggunakan warisan budaya sebagai aset pariwisata. Nah, itu sebuah kontradiksi yang harus dipikirkan sangat panjang," kata Sucoro.

Dia menambahkan Candi Borobudur menyimpan banyak pesan sekaligus sumber-sumber pengetahuan tentang kehidupan.

"Jadi, menjual pariwisatanya tentu juga harus mempertimbangkan dasar yang ada, di situ ada pengetahuan tentang kehidupan," kata Sucoro.

Sementara itu, Kepala Balai Konservasi Borobudur (BKB) Wiwit Kasiyati mengapresiasi apresiasi terselenggaranya RRB ke-20. Menurut Wiwit RRB ini bisa menjadi pelopor pelestarian kebudayaan oleh masyarakat di mana saja.

"Berkelanjutan itu tidak mudah, tapi beliau bisa membangun ekosistem, mempunyai jejaring dengan kabupaten lain, tidak hanya di Borobudur. RRB ini sudah dikenal di luar Jawa setahu saya," kata Wiwit.

(fem/iah)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA