Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

ADVERTISEMENT

Sabtu, 05 Mar 2022 17:52 WIB

TRAVEL NEWS

Mengenal Pawai Ogoh-ogoh, Makna hingga Perayaan Unik di Tahun Ini

Tim detikcom
detikTravel
Perayaan Ogoh-ogoh di sejumlah wilayah di Indonesia usai Nyepi.
Foto: Ogoh-ogoh bertema COVID-19 (dok ANTARA)
Jakarta -

Ogoh-ogoh erat kaitannya dengan Hari Raya Nyepi. Yuk ketahui sejarah hingga makna dari karya seni ini.

Ogoh-ogoh merupakan karya seni patung raksasa yang diarak oleh sekelompok masyarakat mengelilingi desa dalam sebuah pawai menuju perayaan Hari Raya Nyepi. Ogoh-ogoh menggambarkan sebuah tokoh Hindu bernama Bhuta Kala.

Menurut situs Pemerintah Kabupaten Buleleng, dalam bahasa Bali ogoh-ogoh berasal dari kata ogah-ogah yang berarti sesuatu yang digoyang-goyangkan.

Dahulu, pada tahun 1983, wujud Bhuta Kala dibuat berkaitan dengan ritual Nyepi di Bali. Nyepi pun dinyatakan sebagai hari libur nasional oleh presiden. Dari situlah, masyarakat di berbagai tempat di Denpasar mulai membuat perwujudan onggokan yang disebut ogoh-ogoh. Kemudian, budaya baru ini pu semakin luas saat ogoh-ogoh diikutsertakan dalam Pesta Kesenian Bali ke XII.

Meski digelar jelang hari raya Nyepi, sebetulnya ogoh-ogoh tak memiliki hubungan langsung dengan acara Hari Raya Nyepi. Akan tetapi, benda tersebut tetap boleh dibuat sebagai pelengkap kemeriahan acara. Terkadang, ogoh-ogoh dijadikan satu dengan acara masyarakat mengelilingi desa dengan bawa obor.

Tahun ini, ada berbagai kreasi ogoh-ogoh yang ditampilkan, salah satunya berjudul Gerubug karya kelompok pemuda ST. Tunas Muda di Sidakarya, Denpasar, Bali yang bertema COVID-19. Ogoh-ogoh ini dibuat dari baan-bahan ramah lingkungan serta masker yang menggambarkan kondisi kehidupan sosial, budaya dan ekonomi masyarakat selama masa pandemi COVID-19.

Biasanya, ogoh-ogoh ini diarak setelah upacara pokok selesai, diiringi irama gamelan khas Bali bernama bleganjur patung. Lalu, seperti apa sih rangkaian acara pawai dengan ogoh-ogoh?

Pertama, sebelum acara dimulai, para peserta upacara melakukan minum-minuman keras tradisional atau arak

Kedua, pada umumnya ogoh-ogoh diarak ke tempat persemayaman umat Hindu atau sema sebelum dibakar dan pembakaran mayat (sema). Ogoh-ogoh yang sudah diarak mengelilingi desa pun dibakar.



Simak Video "Kirab Budaya Digelar Lagi! Ada Pawai Ogoh-ogoh di Borobudur"
[Gambas:Video 20detik]
(elk/elk)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA