Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

ADVERTISEMENT

Jumat, 29 Jul 2022 18:11 WIB

TRAVEL NEWS

Ini Sejarah Peringatan Malam Satu Suro

bonauli
detikTravel
Sesepuh desa menata sesaji saat melakukan Tradisi Malam 1 Suro di lereng Gunung Merapi, Selo, Boyolali, Jawa Tengah, Rabu (19/8/2020). Meskipun diadakan dalam suasana sederhana, warga setempat tetap menjalankan tradisi malam 1 Suro atau 1 Muharram 1442 H sebagai rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas perlindungan selama hidup di lereng Gunung Merapi. ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho/foc.
Malam satu suro (ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho)
Jakarta -

Malam 1 Suro merupakan hari pertama dalam kalender Jawa di bulan Sura atau Suro. Tradisi sakral ini jatuh pada Kamis (29/7) dan berkaitan dengan budaya Jawa.

Penyebutan kata 'Suro' bagi orang Jawa ialah bulan Muharam dalam kalender Hijriah. Kata tersebut berasal dari kata 'Asyura' dalam bahasa Arab dan dicetuskan oleh pemimpin Kerajaan Mataram Islam, Sultan Agung.

Namun, Sultan Agung masih memadupadankan penanggalan Hijriah dengan tarikh Saka, tujuannya dapat merayakan keagamaan diadakan bersamaan dengan seluruh umat Islam dan menyatukan masyarakat Jawa yang terpecah saat itu antara kaum Abangan (Kejawen) dan Putihan (Islam).

Mengutip lama Kemendikbud, ada latar belakang dijadikannya 1 Muharam sebagai awal penanggalan Islam oleh Khalifah Umar bin Khathab, seorang khalifah Islam di jaman setelah Nabi Muhammad wafat.

Awal dari afiliasi ini, konon untuk memperkenalkan kalender Islam di kalangan masyarakat Jawa. Maka tahun 931 H atau 1443 tahun Jawa baru. Yakni, pada jaman pemerintahan kerajaan Demak, Sunan Giri II, telah membuat penyesuaian antara sistem kalender Hirjiyah dengan sistem kalender Jawa pada waktu itu.

Waktu itu, Sultan Agung menginginkan persatuan rakyatnya untuk menggempur Belanda di Batavia, termasuk ingin menyatukan Pulau Jawa. Oleh karena itu, dia ingin rakyatnya tidak terbelah, apalagi jika disebabkan keyakinan agama.

Sultan Agung Hanyokrokusumo ingin menyatukan kelompok santri dan abangan. Pada setiap hari Jumat Legi, dilakukan laporan pemerintahan setempat sambil dilakukan pengajian yang dilakukan oleh para penghulu kabupaten, sekaligus dilakukan ziarah kubur dan haul ke makam Ngampel dan Giri.

Mulai dari situ, 1 Muharram (1 Suro Jawa) yang dimulai pada hari Jumat Legi ikut dikeramatkan. Bahkan, akan dianggap sial kalau ada orang yang memanfaatkan hari tersebut di luar kepentingan mengaji, ziarah, dan haul



Simak Video "Emak-emak di Solo Meriahkan Parade Kebaya"
[Gambas:Video 20detik]
(bnl/fem)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA