Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

ADVERTISEMENT

Jumat, 02 Sep 2022 20:40 WIB

TRAVEL NEWS

Fakta Suku Polahi Selain Incest: Hidup Nomaden-Tak Kenal Mata Uang

Tim detikSulsel
detikTravel
Perempuan warga suku Polahi berada di gubuk tempat mengamati lahan perkebunan mereka di tengah perbukitan dan hutan di Boliyohuto, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo.
Foto: Pemukiman suku Polahi (ANTARA FOTO/Adiwinata Solihin)
Jakarta -

Suku Polahi yang hidup di pedalaman Gorontalo punya tradisi kawin sedarah alias Incest. Selain itu, mereka juga hidup nomaden dan tidak mengenal mata uang.

Di pedalaman Gorontalo, tepatnya di tengah hutan gunung Boliyohuto, hiduplah suku Polahi yang masih menjalani kehidupan primitif. Mereka saling kawin mawin dalam satu keluarga alias Incest.

Antropolog dari Universitas Negeri Gorontalo (UNG) Yowan Tamu mengatakan, kehidupan suku Polahi masih menyimpan misteri tersendiri, termasuk soal tradisi perkawinan sedarah yang mereka lakukan.

Dia mengakui belum ada penelitian mendalam yang membuktikan semua tanda tanya tentang perkawinan sedarah tersebut.

"Ada sejumlah penelitian yang menyebutkan perkawinan incest (perkawinan sedarah), tetapi untuk detailnya itu belum ada," kata Yowan.

Suku Polahi yang Nomaden

Yowan juga mengatakan, bahwa suku Polahi adalah masyarakat yang Nomaden. Komunitas masyarakat ini memilih hidup berpindah-pindah dari suatu tempat ke tempat lain, dari pada menetap di suatu tempat.

Menurut Yowan, suku Polahi bermukim jauh di dalam hutan Gunung Boliyohuto, Gorontalo. Mereka akan mulai mencari tempat tinggal lain di Gunung Boliyohuto jika salah satu anggota suku meninggal.

"Mereka tuh mengadopsi Nomaden. Misalnya kalau ada yang meninggal di satu lokasi, mereka harus pindah lokasi. Mereka tidak mau tinggal di situ karena dianggap itu adalah sakral buat mereka," jelasnya.

Tidak Mengenal Mata Uang

Masyarakat suku Polahi juga tidak mengenal mata uang. Yowan mengatakan, masyarakat suku Polahi seringkali menjual hasil kebun di pasar, di wilayah kaki gunung.

Namun, mereka akan menjualnya dengan harga sangat murah, karena tidak mengenal mata uang yang berlaku. Yowan menuturkan beberapa suku Polahi akan terlihat pada hari-hari tertentu di pasar Muhiyolo.

"Mereka menerima uang tapi kan mereka nggak tahu itu jumlahnya berapa," cerita Yowan.

Adapun hasil perkebunan yang dijual oleh suku Polahi adalah cabai. Salah satu kebutuhan pokok ini kerap dibeli oleh masyarakat sekitar gunung dengan harga yang sangat murah dibandingkan harga normal.


-----

Artikel ini telah naik di detikSulsel dan bisa dibaca selengkapnya di sini.



Simak Video "Lalai Gunakan Senpi, Oknum Polisi Tembak Warga di Gorontalo"
[Gambas:Video 20detik]
(wsw/wsw)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA