Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

ADVERTISEMENT

Selasa, 15 Nov 2022 13:21 WIB

TRAVEL NEWS

Ada Stigma Homoseksual, Bagaimana Sebenarnya Hubungan Warok-Gemblak?

Putu Intan
detikTravel
Reog ponorogo
Ilustrasi pertunjukan reog. Foto: Charolin Pebrianti
Ponorogo -

Warok dan gemblak dianggap sebagai motor dari Reog Ponorogo. Namun tak jarang kedekatan keduanya disalahartikan sebagai hubungan homoseksual.

Warok dan gemblak dapat disebut sebagai tokoh legendaris dalam sejarah perkembangan Reog Ponorogo. Kendati di era moderen ini praktik warok dan gemblak sudah tak ada, kisah-kisah mereka di masa lampau masih menggelitik publik karena adanya stigma hubungan sesama jenis.

Sebelum membahasnya lebih lanjut, mari kita berkenalan dulu dengan warok dan gemblak. Pada masa lampau, tepatnya sebelum Islam masuk ke Ponorogo, warok merupakan orang-orang yang menganut ideologi kanuragan.

Ideologi kanuragan mereka lakoni dengan berbagai tujuan, salah satunya untuk kekebalan. Demi mencapai tujuan itu, warok-warok harus melaksanakan pantangan-pantangan, termasuk menjauhi perempuan.

Berdasarkan penjelasan dari peneliti Reog Ponorogo, Rido Kurnianto, adanya larangan dekat dengan perempuan membuat warok akhirnya merekrut laki-laki untuk membantu mereka. Tugasnya mulai dari menyiapkan alat bertapa hingga sesaji.

Laki-laki yang dipilih ini syaratnya harus berusia remaja yakni 12-15 tahun dan tampan. Selanjutnya, remaja lelaki yang menemani warok ini disebut gemblak.

Para gemblak ini umumnya dikontrak selama 2 tahun. Ketika diminta dari orang tuanya, warok juga harus membayar mahal seharga satu ekor lembu.

detikcom sempat berbincang dengan salah satu mantan gemblak yakni Sudirman atau akrab disapa Dirman. Kata Dirman, ketika menjadi gemblak, ia tak hanya membantu para warok tetapi juga diajari soal cara bersikap dan disekolahkan.

"Pendidikan kepribadian pada gemblak ini ketat. Mereka tidak boleh sembarangan. Duduk diatur, jalan diatur, berbicara diatur, berbusana pun diatur," ujar dia.

Hal serupa juga diungkapkan Rido. Ketika gemblak diangkat oleh warok, terjadi kaderisasi warok untuk para gemblak. Artinya, gemblak-gemblak ini diberi ilmu yang akan menjadi bekal mereka di masa depan.

"Harus belajar, harus sekolah sehingga para gemblak banyak yang jadi PNS, pejabat, pegawai swasta, ada di sektor-sektor penting pemerintah, ada yang menjadi guru dan seterusnya. Ini yang barangkali tidak diketahui khalayak," ia memaparkan.

Di samping itu, selama bersama warok, gemblak juga belajar menari jathilan. Dirman termasuk mantan gemblak yang hingga saat ini masih menari jathilan.

Karena kedekatan yang intens, kerap beredar isu homoseksual di antara warok dan gemblak. Dirman sendiri merasa tidak pernah melakoni hubungan romantis dengan warok. Hubungan warok-gemblak lebih profesional dan dilandasi sikap menghormati.

Senada dengan Dirman, Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Kadisparbudpora) Ponorogo Yudha mengutarakan anggapan homoseksual itu tidak benar. Hal ini ia katakan karena sempat tinggal di lingkungan di mana gemblak tinggal.

"Gemblak yang biasanya didengar labelnya homoseksual, penyimpangan seksual sebenarnya tidak seperti itu. Jadi ketika dulu gemblak eksis di Ponorogo itu adalah kearifan lokal, tradisi yang ada di tengah-tengah masyarakat pada saat itu seperti adanya," ujarnya.

Sementara itu, Rido menilai praktik homoseksual antara warok dan gemblak dilakukan oknum. Praktik ini bahkan menyimpang dengan aturan dalam kanuragan.

"Benar ada oknum tapi tidak bisa digeneralisir. Karena itu, saya sering menyebutnya ada tradisi warok, ada tradisi warokan. Itu beda," ujarnya.

Tradisi warok yang benar akan melampaui tahapan prihatin yang berat. Sementara warokan tidak melakukan hal tersebut.

"Dalam tradisi warokan tidak memiliki tahapan prihatin tapi (mereka) punya harta. Mereka hanya bisa membeli laki-laki yang dinamakan gemblakan. Ada stigma homoseksual di aspek ini tapi warok itu tidak seperti itu," katanya.

Lebih lanjut, Dirman mengatakan adanya peran sentral dari warok dan gemblak dalam pertunjukan reog. Ia bahkan menyebut warok dan gemblak sebagai pahlawan budaya.

"Dalam kesenian pertunjukan reog, kalau boleh saya mengibaratkan, sebenarnya reog milik warok dan gemblak. Kedua figur tokoh dalam pertunjukan reog adalah warok dan gemblak," kata dia.

Dirman menjelaskan bahwa warok merupakan sosok yang berperan dalam membuat properti, menampilkan sampai menjaga berjalannya pertunjukan reog.

"Kemudian yang memelihara reog itu ya warok dan gemblak. Makanya saya bisa mengibaratkan siapa pahlawan budaya Ponorogo itu, ya warok dan gemblak," pungkasnya.



Simak Video "Kupas Tuntas Warok dan Gemblak Dalam Pementasan Reog Ponorogo"
[Gambas:Video 20detik]
(pin/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA